Keanekaragaman Kebudayaan Jawa, dari Banyumas hingga Blambangan
Sering kali orang membayangkan kebudayaan Jawa sebagai satu kebudayaan yang seragam.
Padahal, jika melihat kehidupan masyarakat Jawa dari dekat, perbedaannya cukup jelas.
Cara berbicara, kesenian, makanan, tradisi keluarga, kehidupan keagamaan, hingga watak sosial dapat berubah ketika seseorang berpindah dari satu wilayah ke wilayah lain.
Koentjaraningrat menunjukkan hal tersebut dalam Kebudayaan Jawa. Pada halaman 25–29, ia membahas keanekaragaman regional kebudayaan Jawa.
Ia menggambarkan Jawa sebagai ruang kebudayaan yang memiliki sejumlah subkebudayaan dengan ciri masing-masing.
Kajian mengenai pembagian wilayah kebudayaan Jawa juga dirujuk dalam sejumlah penelitian akademik.
Salah satunya menyebut adanya variasi regional seperti Banyumas, Bagelen, Negarigung, Pesisir, Mancanegari, Tanah Sabrang Wetan, dan Blambangan.
Jawa bukan kebudayaan yang homogen
Menurut Koentjaraningrat, orang Jawa sendiri menyadari bahwa kebudayaan mereka tidak merupakan suatu kesatuan yang homogen.
Perbedaan tersebut terutama terlihat di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Keanekaragaman itu memiliki hubungan dengan kondisi geografis. Perbedaan logat bahasa, misalnya, berjalan beriringan dengan perbedaan kebudayaan.
Hal serupa dapat ditemukan dalam makanan, upacara rumah tangga, kesenian rakyat, dan seni suara.
Dengan kata lain, ketika berbicara tentang kebudayaan Jawa, kita perlu membayangkan sebuah wilayah yang memiliki banyak warna lokal.
Kajian lain yang merujuk Koentjaraningrat juga menyebut bahwa perbedaan lokal tersebut dapat berupa istilah teknis, dialek bahasa, dan unsur kebudayaan lainnya, meskipun masih memperlihatkan pola kebudayaan Jawa yang sama.
Banyumas dan Bagelen
Salah satu wilayah yang mendapat perhatian adalah Banyumas.
Dalam pandangan orang Jawa, kebudayaan Banyumas memiliki ciri yang cukup kuat.
Wilayahnya berada di bagian barat kawasan kebudayaan Jawa. Di bagian tenggaranya terdapat Bagelen yang juga dipandang sebagai subdaerah kebudayaan tersendiri.
Perbedaan Banyumas paling mudah dikenali melalui logat bahasa. Bahasa Banyumasan memiliki ciri pengucapan yang berbeda dengan bahasa Jawa di kawasan Yogyakarta dan Surakarta.
Selain bahasa, terdapat pula jejak organisasi sosial tradisional, upacara sepanjang lingkaran hidup, folklor, dan kesenian rakyat yang mempunyai ciri khas lokal.
Hal ini memperlihatkan bahwa kebudayaan Jawa berkembang mengikuti sejarah masyarakat di setiap wilayah.
Negarigung, kebudayaan yang berakar di kraton
Berbeda dari Banyumas, Yogyakarta dan Solo berkembang sebagai pusat kebudayaan yang berakar pada lingkungan kraton.
Koentjaraningrat menyebut kawasan kebudayaan ini sebagai Negarigung. Di wilayah inilah tradisi kraton berkembang dengan sejarah kesusastraan yang panjang, kesenian tari, seni suara, dan sistem kehidupan keagamaan yang memiliki karakter sinkretik.
Unsur Hindu, Buddha, dan Islam bertemu dalam perjalanan sejarah kebudayaan Jawa.
Kehidupan kebatinan juga berkembang di lingkungan ini. Koentjaraningrat mencatat adanya berbagai gerakan keagamaan yang berkembang terutama di wilayah Solo.
Karena kedudukannya sebagai pusat kerajaan dan kebudayaan kraton, Yogyakarta dan Solo kemudian memiliki pengaruh besar terhadap cara orang Jawa memahami kebudayaan Jawa secara umum.
Namun, pengaruh tersebut tidak berarti seluruh Jawa memiliki kebudayaan yang sama dengan Yogyakarta dan Solo.
Pesisir, Jawa yang berhadapan dengan dunia luar
Di sepanjang pantai utara Jawa berkembang kebudayaan Pesisir.
Wilayahnya membentang dari Indramayu dan Cirebon di bagian barat hingga Gresik di bagian timur.
Kebudayaan Pesisir mempunyai sejarah yang berbeda dari kebudayaan kraton di pedalaman.
Islam menjadi salah satu unsur penting dalam kehidupan masyarakat Pesisir.
Koentjaraningrat mencatat bahwa masyarakat Pesisir pada umumnya memeluk Islam yang lebih puritan dan kehidupan sosial-budayanya banyak dipengaruhi oleh agama tersebut.
Kebudayaan Pesisir juga memiliki sejarah kesusastraan yang panjang.
Pigeaud, sebagaimana dikutip Koentjaraningrat, membagi kawasan Pesisir menjadi beberapa bagian.
Ada Pesisir Barat yang mencakup Cirebon, Tegal, dan Pekalongan.
Ada bagian tengah yang mencakup Kudus dan Demak serta daerah sekitarnya.
Ada pula Pesisir Timur yang berpusat di Gresik.
Pembagian ini memperlihatkan bahwa Pesisir sendiri bukan wilayah yang seragam.
Surabaya dan perubahan kebudayaan Jawa
Surabaya menempati posisi menarik dalam pembahasan Koentjaraningrat.
Kebudayaan Jawa di Surabaya dan sekitarnya memiliki karakter yang khas. Selain logat bahasa yang berbeda, wilayah ini juga mempunyai sejarah hubungan yang kuat dengan perkembangan Islam dan perubahan sosial.
Koentjaraningrat menghubungkan Surabaya dengan masuknya gagasan-gagasan baru dari pusat kebudayaan Islam di Asia Barat dan Mesir ke dalam masyarakat Jawa.
Posisi Surabaya sebagai kota pelabuhan membuat kota ini menjadi tempat pertemuan berbagai manusia, gagasan, barang, dan kebudayaan.
Karena itu, kebudayaan Jawa di Surabaya berkembang dengan karakter yang berbeda dari kebudayaan kraton di pedalaman.
Mancanegari di Madiun, Kediri, dan Brantas
Di antara Jawa Tengah dan Jawa Timur terdapat wilayah yang disebut Mancanegari.
Wilayah ini mencakup Madiun, Kediri, dan daerah delta Sungai Brantas.
Koentjaraningrat menggambarkan kebudayaan di kawasan tersebut memiliki banyak kemiripan dengan Yogyakarta dan Solo.
Para pegawai pemerintahan daerah, misalnya, sering menjadikan gaya hidup bangsawan di Yogyakarta dan Solo sebagai rujukan.
Gerakan kebatinan dan gerakan religio-magis juga berkembang di Madiun dan Kediri.
Namun, masyarakat lokal tetap memiliki kesenian khas. Ponorogo, misalnya, dikenal dengan kesenian rakyat yang memiliki unsur magis dan menjadi bagian penting dari identitas daerah tersebut.
Istilah Mancanegari sendiri bermakna daerah luar. Dalam sejarah Mataram, wilayah tersebut merupakan daerah di luar pusat kebudayaan kerajaan.
Sabrang Wetan dan pengaruh Madura
Semakin bergerak ke timur, karakter kebudayaan Jawa semakin berubah.
Wilayah Malang dan kawasan timur Sungai Brantas mempunyai hubungan kuat dengan kebudayaan Madura.
Pengaruh tersebut berkaitan dengan keberadaan penduduk Madura dalam jumlah besar di sejumlah wilayah Jawa Timur.
Pengaruh Madura semakin terlihat di kawasan dataran rendah tertentu, sementara proporsinya menurun di wilayah pegunungan dan daerah yang lebih ke selatan.
Keadaan ini menunjukkan bahwa batas kebudayaan tidak selalu mengikuti batas administratif.
Migrasi penduduk dapat mengubah komposisi sosial dan memberikan warna baru pada kebudayaan suatu wilayah.
Tengger, Osing, dan Blambangan
Di Jawa Timur terdapat beberapa kelompok masyarakat yang memiliki identitas budaya yang berbeda.
Salah satunya masyarakat Tengger yang tinggal di kawasan Gunung Tengger. Mereka mempunyai bahasa dan adat yang khas.
Di sekitar Banyuwangi terdapat masyarakat Osing yang juga memiliki identitas kebudayaan tersendiri.
Sementara di ujung timur Pulau Jawa terdapat Blambangan.
Ketiga wilayah tersebut menunjukkan bahwa identitas Jawa di Jawa Timur memiliki lapisan yang beragam.
Pengaruh sejarah, lingkungan geografis, migrasi, hubungan dengan Bali dan Madura, serta perkembangan kerajaan ikut membentuk karakter masing-masing.
Kebudayaan Jawa di luar Pulau Jawa
Keanekaragaman tersebut tidak berhenti di Pulau Jawa.
Orang Jawa yang berpindah ke Sumatra Selatan, Sumatra Utara, Semenanjung Malaya, bahkan berbagai wilayah di luar Asia, membawa unsur kebudayaan dari daerah asalnya.
Namun, ketika mereka hidup di lingkungan baru, kebudayaan tersebut dapat berkembang menjadi variasi baru.
Migrasi membuat kebudayaan bergerak. Bahasa, adat, makanan, kesenian, dan cara hidup ikut berpindah bersama manusia.
Karena itu, kebudayaan Jawa di luar Jawa juga tidak selalu sama dengan kebudayaan Jawa di daerah asalnya.
Jawa sebagai kebudayaan yang berlapis
Pembahasan Koentjaraningrat pada halaman 25–29 memberikan gambaran bahwa istilah “kebudayaan Jawa” sebenarnya mencakup banyak pengalaman lokal.
Ada Banyumas dan Bagelen. Ada Negarigung dengan tradisi kraton. Ada Pesisir dengan sejarah Islam dan perdagangan. Ada Mancanegari di Madiun, Kediri, dan kawasan Brantas. Ada Surabaya dengan karakter perkotaan dan pelabuhan. Ada wilayah timur dengan pengaruh Madura, Bali, serta kebudayaan lokal seperti Tengger, Osing, dan Blambangan.
Perbedaan tersebut tidak membuat semuanya kehilangan hubungan sebagai bagian dari kebudayaan Jawa.
Justru dari berbagai wilayah itulah terlihat bahwa kebudayaan Jawa mempunyai sejarah yang panjang dan berlapis.
Jawa bukan satu suara.
Ia terdiri dari banyak logat, banyak tradisi, banyak pusat kebudayaan, dan banyak pengalaman sejarah.
Memahami Jawa berarti memahami keragaman itu. Ketika seseorang menyebut dirinya Jawa, di belakang identitas tersebut dapat tersimpan latar Banyumas, Solo, Yogyakarta, Pesisir, Madiun, Kediri, Surabaya, Malang, Banyuwangi, atau Blambangan.
Di situlah menariknya kebudayaan Jawa. Ia mempunyai pola yang saling berhubungan, tetapi tetap memberi ruang bagi setiap daerah untuk membangun cirinya sendiri.
Referensi
Koentjaraningrat. Kebudayaan Jawa. Jakarta, Balai Pustaka, 1984, halaman 25–29. Edisi 1984 tercatat sebagai buku setebal 556 halaman dan merupakan bagian dari Seri Etnografi Indonesia.
Sebagai pembanding, penelitian akademik yang membahas pembagian regional kebudayaan Jawa merujuk Koentjaraningrat pada halaman 25–26 dan menyebut Banyumas, Bagelen, Negarigung, Pesisir, Mancanegari, serta Sabrang Wetan sebagai bagian dari variasi regional kebudayaan Jawa.
Artikel ini merupakan pengolahan kembali isi pembahasan halaman 25–29 dengan susunan baru untuk kebutuhan artikel Insight Blitar.

0 Comments
Tinggalkan jejak komentar di sini