Ketika orang menyebut Generasi X, Generasi Y, Generasi Z, hingga Generasi Alpha, kita seolah sedang berhadapan dengan pembagian manusia yang sudah baku secara ilmiah.
Padahal tidak demikian.
Tidak ada satu ilmuwan yang duduk lalu menciptakan seluruh sistem tersebut. Label generasi muncul secara bertahap. Ada yang berasal dari kajian sosiologi, ada yang lahir dari buku, media, demografi, bahkan kebutuhan industri pemasaran.
Gagasan tentang generasi memang memiliki akar akademik yang kuat. Namun, bentuk Gen X, Gen Y, Gen Z dan Millennials yang dikenal sekarang merupakan hasil perjalanan panjang.
Berikut sejarahnya.
1. Karl Mannheim meletakkan fondasi ilmiah tentang generasi
Nama penting dalam sejarah kajian generasi adalah Karl Mannheim, sosiolog kelahiran Budapest yang kemudian berkiprah di Jerman dan Inggris.
Pada 1928, Mannheim menulis esai Das Problem der Generationen atau The Problem of Generations. Gagasannya kemudian menjadi salah satu fondasi penting dalam sosiologi generasi.
Menurut Mannheim, sebuah generasi sosial tidak terbentuk hanya karena sekelompok orang lahir pada rentang tahun yang sama.
Yang lebih penting adalah pengalaman sejarah yang mereka alami ketika berada dalam periode formatif kehidupan, terutama masa remaja dan dewasa muda.
Misalnya, perang besar, krisis ekonomi, perubahan politik, revolusi teknologi, atau perubahan sosial dapat membentuk cara berpikir sekelompok orang yang hidup pada periode yang sama.
Jadi, bagi Mannheim, generasi bukan sekadar angka tahun kelahiran.
Gagasan ini penting karena menjadi dasar untuk memahami mengapa orang yang lahir dalam periode tertentu bisa memiliki pengalaman sosial yang berbeda dari mereka yang lahir sebelumnya.
2. William Strauss dan Neil Howe membuat teori generasi menjadi populer
Jika Mannheim memberikan fondasi sosiologis, maka William Strauss dan Neil Howe merupakan dua nama yang sangat berpengaruh dalam membentuk pemahaman populer mengenai generasi modern.
Keduanya menerbitkan buku Generations: The History of America’s Future, 1584–2069 pada 1991.
Kemudian muncul The Fourth Turning pada 1997 dan Millennials Rising pada 2000.
Strauss merupakan penulis, dramawan, dan konsultan. Howe adalah sejarawan, demografer, dan konsultan.
Mereka bukan ilmuwan laboratorium yang menemukan "Gen Z" melalui eksperimen.
Kontribusi mereka lebih tepat disebut sebagai penyusunan kerangka sejarah dan demografi yang kemudian sangat berpengaruh dalam budaya populer.
Teori mereka melihat sejarah Amerika sebagai siklus panjang yang berlangsung sekitar 80–100 tahun atau disebut saeculum.
Dalam siklus tersebut terdapat empat fase atau turning dan empat arketipe generasi yang berulang.
Konsep ini membuat pembicaraan tentang generasi menjadi lebih sistematis dan mudah dikonsumsi publik.
3. Strauss dan Howe mempopulerkan istilah Millennials
Salah satu kontribusi paling terkenal Strauss dan Howe adalah istilah Millennials.
Mereka melihat anak-anak yang lahir sekitar awal 1980-an sebagai kelompok yang akan memasuki usia dewasa pada pergantian milenium.
Anak-anak yang lahir sekitar 1982, misalnya, diperkirakan lulus sekolah menengah sekitar tahun 2000.
Karena itu muncul istilah Millennials.
Istilah tersebut kemudian berkembang menjadi salah satu label generasi paling populer di dunia.
Dalam banyak klasifikasi, Millennials sering disamakan dengan Generation Y.
Namun, keduanya sebenarnya memiliki sejarah istilah yang berbeda.
4. Baby Boomer lahir dari fenomena demografi
Berbeda dengan Millennials, istilah Baby Boomer memiliki hubungan erat dengan fenomena demografi setelah Perang Dunia II.
Amerika Serikat mengalami lonjakan angka kelahiran setelah perang. Gelombang kelahiran tersebut kemudian dikenal sebagai baby boom.
Dari sinilah muncul istilah Baby Boomer untuk generasi yang lahir dalam periode tersebut.
Pew Research Center kemudian menggunakan rentang yang banyak dikutip, yaitu 1946–1964.
Jadi, Baby Boomer lebih dekat dengan fenomena demografis daripada hasil teori satu orang.
5. Generation X menjadi terkenal lewat novel Douglas Coupland
Sejarah Generation X juga menarik.
Istilah "Generation X" sudah muncul sebelum 1990-an. Ada penggunaan istilah tersebut dalam konteks budaya populer sejak pertengahan abad ke-20.
Namun, nama itu menjadi jauh lebih melekat setelah novel Generation X: Tales for an Accelerated Culture karya Douglas Coupland terbit pada 1991.
Coupland menangkap suasana sosial anak muda pada zamannya dengan istilah yang kemudian sangat mudah diingat.
Generation X pun akhirnya menjadi label yang populer.
Dalam kerangka Pew Research Center, Gen X umumnya ditempatkan pada kelahiran 1965–1980.
Menariknya, Strauss dan Howe memiliki istilah sendiri untuk kelompok ini, yakni "13th Generation" atau "13ers".
Artinya, nama generasi yang kita gunakan sekarang tidak selalu sama dengan istilah yang digunakan oleh para teoritikus generasi.
6. Generation Y awalnya hanya kelanjutan dari Generation X
Setelah X, muncul pertanyaan yang sangat sederhana.
Kalau ada Generation X, lalu generasi berikutnya disebut apa?
Salah satu jawabannya adalah Generation Y.
Istilah tersebut muncul dalam media dan industri periklanan, termasuk melalui Advertising Age pada 1993.
Logikanya mudah. Setelah X, maka Y.
Namun, istilah ini kemudian berhadapan dengan nama lain yang lebih kuat, yaitu Millennials.
Dalam penggunaan sehari-hari, Gen Y dan Millennials akhirnya sering dipakai untuk menunjuk kelompok yang sama.
Ini menunjukkan bahwa penamaan generasi bukan proses ilmiah yang memiliki satu lembaga penentu.
Nama yang paling bertahan adalah nama yang akhirnya diterima masyarakat luas.
7. Generation Z muncul setelah istilah Y
Setelah Generation Y, muncullah Generation Z.
Polanya kembali mudah ditebak.
X, Y, kemudian Z.
Tidak ada satu orang yang bisa disebut sebagai pencipta tunggal Gen Z.
Istilah ini berkembang secara bertahap melalui media, pemasaran, demografi, dan diskusi populer sejak akhir 1990-an hingga 2000-an.
Ada pula istilah alternatif.
Sosiolog Jean Twenge, misalnya, menggunakan istilah iGen untuk menggambarkan generasi yang tumbuh bersama internet dan perangkat digital.
Neil Howe pernah menggunakan istilah Homelanders.
Namun, Gen Z akhirnya menjadi istilah yang paling populer.
8. Generation Alpha memakai alfabet Yunani
Setelah Z, muncul persoalan baru.
Jika urutannya sudah sampai Z, lalu apa berikutnya?
Jawabannya adalah Generation Alpha.
Istilah ini banyak dikaitkan dengan demografer Australia Mark McCrindle, yang memperkenalkannya sekitar akhir 2000-an hingga awal 2010-an.
Alih-alih kembali menggunakan alfabet Latin, penamaan beralih ke alfabet Yunani.
Karena itu muncul Alpha, bukan Generation A.
Dalam banyak klasifikasi populer, Gen Alpha mencakup anak-anak yang lahir sekitar 2010-an hingga awal 2020-an, meskipun batas tahun antarpeneliti berbeda.
9. Rentang tahun setiap generasi sebenarnya tidak mutlak
Ini bagian yang sering luput.
Tidak ada kesepakatan universal mengenai batas tahun setiap generasi.
Salah satu klasifikasi yang sering digunakan media adalah
- Baby Boomer 1946–1964
- Gen X 1965–1980
- Millennials atau Gen Y 1981–1996
- Gen Z 1997–2012
- Gen Alpha sekitar 2013 ke atas
Namun, lembaga dan peneliti lain dapat menggunakan batas berbeda.
Strauss dan Howe, misalnya, memiliki pembagian yang tidak selalu sama dengan Pew Research Center.
Perbedaan tersebut bukan berarti salah satu pasti keliru.
Sebab, batas generasi memang bukan garis biologis yang tiba-tiba berubah pada 1 Januari tahun tertentu.
10. Masalah terbesar adalah ketika label generasi dianggap sebagai hukum ilmiah
Di sinilah kita perlu berhati-hati.
Kalimat seperti "Gen Z malas", "Boomer tidak memahami teknologi", atau "Millennial tidak loyal kepada perusahaan" terdengar menarik, tetapi terlalu menyederhanakan manusia.
Orang yang lahir pada tahun yang sama bisa memiliki pengalaman yang sangat berbeda.
Kelas sosial, pendidikan, wilayah tempat tinggal, keluarga, agama, pekerjaan, kondisi ekonomi, perkembangan teknologi dan pengalaman politik dapat membentuk seseorang dengan cara yang berbeda.
Bahkan dalam satu negara, pengalaman generasi dapat berbeda secara drastis.
Seorang anak yang tumbuh di Jakarta pada 2000-an mungkin memiliki pengalaman teknologi yang berbeda dengan anak yang tumbuh di daerah pedesaan pada periode yang sama.
Karena itu, konsep Mannheim justru memberi pelajaran penting.
Generasi terbentuk melalui pengalaman sejarah bersama, bukan kalender semata.
11. Konsep Gen X sampai Gen Alpha sangat dipengaruhi konteks Amerika Serikat
Salah satu keterbatasan klasifikasi generasi populer adalah asal-usulnya.
Sebagian besar kerangka tersebut berkembang dalam konteks Amerika Serikat dan masyarakat Barat.
Peristiwa yang digunakan untuk menjelaskan generasi di sana antara lain Perang Dunia II, Perang Vietnam, Perang Dingin, jatuhnya Tembok Berlin, 9/11, internet, resesi 2008 dan revolusi smartphone.
Ketika konsep itu digunakan di Indonesia, konteks sejarahnya tentu berbeda.
Generasi Indonesia mengalami Orde Baru, Reformasi 1998, perubahan ekonomi, perkembangan televisi, internet, ponsel, media sosial dan berbagai perubahan sosial lain.
Karena itu, menggunakan label Gen X, Y, Z di Indonesia tetap berguna sebagai bahasa sosial. Namun, pengalaman generasinya tidak selalu identik dengan Amerika Serikat.
12. Jadi, siapa sebenarnya pencipta Gen X, Gen Y dan Gen Z?
Karl Mannheim memberikan fondasi akademik mengenai bagaimana generasi terbentuk melalui pengalaman sejarah.
William Strauss dan Neil Howe kemudian membangun teori generasi yang sangat berpengaruh dan mempopulerkan istilah Millennials.
Douglas Coupland berperan besar membuat istilah Generation X melekat dalam budaya populer.
Advertising Age ikut mempopulerkan penggunaan Generation Y.
Sementara Generation Z berkembang secara bertahap melalui media, demografi dan industri pemasaran tanpa pencipta tunggal.
Kemudian Mark McCrindle menjadi salah satu tokoh yang paling sering dikaitkan dengan istilah Generation Alpha.
Pada akhirnya, Gen X, Gen Y, Gen Z dan Gen Alpha lebih tepat dipahami sebagai konstruksi sosial daripada taksonomi ilmiah yang kaku.
Label tersebut membantu kita membaca perubahan zaman. Tetapi manusia selalu lebih rumit daripada label yang ditempelkan pada tahun kelahirannya.

0 Comments
Tinggalkan jejak komentar di sini