702 Tahun Blitar, Darimana Menghitungnya?

Hari Jadi Kabupaten Blitar 5 Agustus 1324, Menelusuri Sejarah Resmi dari Prasasti Balitar I hingga Era Majapahit


Hari Jadi Kabupaten Blitar diperingati setiap 5 Agustus. Tanggal ini memiliki dasar historis yang kuat, yakni Prasasti Blitar I (Balitar I) dari masa Kerajaan Majapahit. 

Berdasarkan prasasti tersebut, wilayah Balitar memperoleh pengakuan sebagai daerah swatantra, yaitu wilayah yang mendapat hak-hak administratif khusus dari kerajaan.

Penetapan tanggal 5 Agustus sebagai Hari Jadi Kabupaten Blitar kemudian disahkan melalui Peraturan Daerah Kabupaten Blitar Nomor 3 Tahun 1984 dan diperbarui dengan Peraturan Daerah Nomor 1 Tahun 2003

Sejak tahun 2013, Pemerintah Kabupaten Blitar juga membedakan antara Hari Jadi Blitar yang diperingati setiap 5 Agustus sebagai tonggak sejarah wilayah, dengan Hari Ulang Tahun Pemerintah Kabupaten Blitar yang diperingati setiap 31 Desember sebagai hari lahir pemerintahan modern.

Dasar Resmi Hari Jadi Kabupaten Blitar

Landasan utama Hari Jadi Kabupaten Blitar adalah Prasasti Blitar I yang dikeluarkan pada masa pemerintahan Raja Jayanegara, raja kedua Kerajaan Majapahit yang memerintah pada 1309–1328 M.

Dalam prasasti tersebut tercantum penanggalan:

Swasti sakawarsatita 1246 Srawanamasa tithi pancadasi Suklapaksa...

Penanggalan tersebut diterjemahkan menjadi:

  • Tahun Saka 1246
  • Bulan Srawana
  • Hari Minggu Pahing

Berdasarkan pembacaan ahli epigrafi Louis Charles Damais, tanggal tersebut bertepatan dengan 5 Agustus 1324 Masehi. Tanggal inilah yang kemudian ditetapkan sebagai Hari Jadi Kabupaten Blitar.

Prasasti Balitar I dan Lahirnya Daerah Swatantra

Isi utama Prasasti Balitar I adalah pemberian anugerah Raja Jayanegara kepada masyarakat Balitar atau wilayah yang berkaitan dengan Desa Bedander.

Anugerah tersebut diyakini berupa penetapan wilayah sebagai sima atau tanah perdikan, yang berarti memperoleh berbagai hak istimewa, seperti pembebasan dari kewajiban pajak tertentu dan hak mengatur wilayahnya secara lebih mandiri.

Dalam konteks pemerintahan Majapahit, status ini dikenal sebagai swatantra, yaitu wilayah yang mendapatkan pengakuan resmi dari kerajaan.

Karena itulah para penyusun sejarah Kabupaten Blitar menjadikan prasasti ini sebagai tonggak lahirnya Blitar sebagai satuan pemerintahan.

Latar Belakang Politik Majapahit

Lahirnya Prasasti Balitar I tidak dapat dilepaskan dari situasi politik Majapahit pada awal abad ke-14.

Pada masa pemerintahan Raja Jayanegara terjadi sejumlah pemberontakan besar, seperti pemberontakan Nambi, Kuti, dan Semi atau Sengkuni.

Dalam kondisi tersebut, Raja Jayanegara sempat menyelamatkan diri ke Desa Bedander dengan pengawalan pasukan Bhayangkara yang dipimpin Gajah Mada. 

Berkat strategi Gajah Mada, pemberontakan berhasil dipadamkan dan Jayanegara kembali menduduki takhta.

Sebagai penghargaan atas kesetiaan masyarakat yang membantu kerajaan, Raja Jayanegara menerbitkan Prasasti Balitar I yang menetapkan wilayah Balitar sebagai daerah swatantra.

Mengapa Status Swatantra Sangat Penting?

Pada masa kerajaan Hindu-Buddha di Jawa, status swatantra merupakan kedudukan yang sangat bergengsi.

Wilayah yang memperoleh status tersebut mendapatkan berbagai keistimewaan, antara lain:

  • memperoleh pengakuan langsung dari raja,
  • memiliki hak administratif tertentu,
  • memperoleh pembebasan dari sebagian kewajiban ekonomi,
  • mendapat perlindungan khusus dari kerajaan.

Oleh sebab itu, pemberian status swatantra dianggap sebagai momentum penting dalam sejarah Blitar.

Misteri Keberadaan Prasasti Asli

Prasasti Balitar I pernah dilaporkan berada di lingkungan Pendapa Ronggo Hadi Negoro.

Namun hingga kini keberadaan prasasti aslinya masih menjadi perdebatan. Sebagian catatan menyebut prasasti tersebut telah aus sehingga sulit dibaca, sementara sumber lain menyebut prasasti yang kini berada di depan pendapa bukan lagi Prasasti Balitar I.

Walaupun demikian, hasil pembacaan prasasti telah didokumentasikan oleh para ahli epigrafi sehingga penanggalannya tetap dapat dipertanggungjawabkan.

Balitar dalam Kitab Negarakertagama

Nama Balitar juga disebut dalam Kitab Negarakertagama karya Mpu Prapanca yang selesai ditulis sekitar tahun 1365.

Kitab tersebut menceritakan perjalanan Raja Hayam Wuruk mengelilingi wilayah Jawa Timur. Setelah mengunjungi Candi Penataran atau Palah, rombongan kerajaan melanjutkan perjalanan menuju Balitar.

Penyebutan tersebut menunjukkan bahwa Balitar telah menjadi wilayah penting dalam struktur pemerintahan Majapahit.

Keberadaan Candi Penataran sebagai candi negara Majapahit juga memperkuat posisi strategis kawasan Blitar pada masa itu.

Asal-Usul Nama Balitar

Terdapat dua teori yang paling dikenal mengenai asal-usul nama Balitar.

1. Versi legenda Bali Tartar

Versi ini menyebut nama Balitar berasal dari frasa "Bali Tartar", yang dikaitkan dengan mundurnya pasukan Mongol setelah dikalahkan Raden Wijaya pada tahun 1293.

Legenda tersebut menceritakan tokoh Nilasuwarna atau Gusti Sudomo yang berhasil membersihkan kawasan hutan selatan dari sisa-sisa pasukan Mongol, kemudian diangkat menjadi Adipati Ariyo Blitar I.

Meski populer dalam tradisi lokal, kisah ini lebih banyak bersumber dari babad dan cerita rakyat.

2. Versi sejarah dan epigrafi

Pendekatan kedua mengacu pada sumber tertulis. Nama Balitar telah muncul dalam Prasasti Balitar I maupun Kitab Negarakertagama sebagai nama wilayah pada masa Majapahit.

Karena didukung bukti tertulis sezaman, teori ini lebih banyak digunakan dalam kajian sejarah.

Jejak Blitar Jauh Lebih Tua

Meskipun Hari Jadi Kabupaten Blitar ditetapkan pada tahun 1324, sejarah kawasan ini sesungguhnya telah dimulai jauh sebelumnya.

Bukti tertua berasal dari Prasasti Kinewu tahun 907 M, yang menunjukkan bahwa wilayah Blitar telah menjadi bagian dari Kerajaan Mataram Kuno pada masa Raja Balitung.

Selain itu, masih terdapat sejumlah prasasti lain yang menyebut wilayah di Kabupaten Blitar sekarang, antara lain:

  • Prasasti Pandelegan I (1117 M)
  • Prasasti Panumbangan I (1120 M)
  • Prasasti Geneng I (1128 M)
  • Prasasti Talang (1136 M)
  • Prasasti Japun (1144 M)
  • Prasasti Pandelegan II (1159 M)
  • Prasasti Mleri (1169 M)
  • Prasasti Jaring (1181 M)
  • Prasasti Semanding (1182 M)
  • Prasasti Palah (1197 M)
  • Prasasti Subhasita (1198 M)
  • Prasasti Tuliskriyo (1202 M)

Seluruh prasasti tersebut menunjukkan bahwa wilayah Blitar telah berkembang sebagai kawasan pertanian, permukiman, dan pusat aktivitas masyarakat jauh sebelum lahirnya Majapahit.

Mengapa Tidak Menggunakan Tahun 907?

Sejarawan Sukarto Kartoatmodjo menjelaskan bahwa penetapan hari jadi daerah dapat didasarkan pada beberapa pertimbangan, yaitu catatan sejarah tertua, peristiwa yang membanggakan masyarakat, atau momentum lahirnya pemerintahan.

Pemerintah Kabupaten Blitar akhirnya memilih tahun 1324 karena dianggap sebagai momentum lahirnya Blitar sebagai daerah swatantra yang memiliki identitas administratif yang jelas sekaligus berkaitan erat dengan masa kejayaan Majapahit.

Hari Jadi Blitar Berbeda dengan HUT Pemerintah Kabupaten Blitar

Hari Jadi Kabupaten Blitar diperingati setiap 5 Agustus berdasarkan Prasasti Balitar I tahun 1324.

Sementara itu, Hari Ulang Tahun Pemerintah Kabupaten Blitar diperingati setiap 31 Desember, yang mengacu pada pembentukan pemerintahan kabupaten modern pada tahun 1830 melalui penggabungan Kadipaten Srengat dan Kadipaten Ngantang pada masa pemerintahan Hindia Belanda.

Pemisahan kedua peringatan tersebut dilakukan agar masyarakat dapat membedakan antara sejarah wilayah Blitar dan sejarah pembentukan pemerintahannya.

***

Hari Jadi Kabupaten Blitar yang diperingati setiap 5 Agustus memiliki landasan sejarah yang kuat melalui Prasasti Blitar I bertanggal 5 Agustus 1324 Masehi

Prasasti tersebut menjadi bukti pengakuan resmi Balitar sebagai daerah swatantra pada masa Raja Jayanegara, sehingga dipandang sebagai tonggak lahirnya identitas administratif Kabupaten Blitar.

Di sisi lain, berbagai prasasti dari abad ke-10 hingga abad ke-13 membuktikan bahwa kawasan Blitar telah berkembang jauh sebelum masa Majapahit. 

Oleh karena itu, penetapan tahun 1324 bukan berarti mengabaikan sejarah yang lebih tua, melainkan memilih momentum yang paling tepat sebagai simbol lahirnya Kabupaten Blitar berdasarkan bukti sejarah dan ketetapan pemerintah daerah.


Daftar Sumber

  1. Pemerintah Kabupaten Blitar. Sejarah Kabupaten Blitar. https://www.blitarkab.go.id/2012/06/05/sejarah-kabupaten-blitar/

  2. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Blitar. Sejarah Blitar. https://disbudpar.blitarkab.go.id/sejarah-blitar/

  3. Pemerintah Kabupaten Blitar. Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) RPJPD Kabupaten Blitar 2025–2045.

  4. Bappedalitbang Kabupaten Blitar. Buku Profil Daerah Kabupaten Blitar.

  5. Detik Jatim. Asal-usul dan Penetapan Hari Jadi Kabupaten Blitar 5 Agustus (4 Agustus 2025). 

0 Comments

Tinggalkan jejak komentar di sini