7
PERJALANAN KE PANATARAN DAN LODHAYA
Mereka berjalan ke arah selatan, menempuh perjalanan yang sangat jauh hingga tiba di Candi Panataran, Blitar, di kaki Gunung Kelud. Candi itu dibangun dari batu hitam berukuran besar. Dari bagian bawah hingga ke atas, dinding-dindingnya dipenuhi ukiran dengan berbagai kisah dan ragam hias, termasuk relief yang menggambarkan tokoh-tokoh pewayangan.
Jayengresmi mendaki bangunan candi bertingkat hingga mencapai bagian puncak. Dua abdinya turut mengikuti. Ketika turun, Gathak dan Gathuk berjalan perlahan sambil merangkak dengan hati berdebar-debar.
Sesampainya di bawah, Gathuk berkata,
“Thak! Itu tadi gambar apa yang diukir pada badan candi? Kok ada gambar dedaunan, ceplok bunga, juga gambar raksasa dan kera?”
Gathak menjawab,
“Kalau ndak salah, itu gambar Rama Tambak, menggambarkan para prajurit kera yang sedang bekerja keras.”¹
Mereka juga melihat sebuah bangunan candi kecil berbentuk seperti cungkup. Di atas pintunya terdapat tulisan dengan aksara Buddha.
Gathuk bertanya,
“Denmas, itu tulisan apa, toh? Kok bentuknya ndak karuan, ndak jelas.”
“Itu aksara Buddha, sebagai penanda bahwa bangunan ini dibangun pada tahun 1291.”
Gathak dan Gathuk mengangguk sambil melongo.
Setelah puas melihat-lihat, mereka meninggalkan Panataran dan berjalan perlahan menuju arah utara. Mereka kemudian tiba di Desa Gamprang.
Di pinggir jalan, mereka melihat dua buah arca, masing-masing berupa arca laki-laki dan perempuan. Kedua arca itu dipenuhi bunga boreh dan dupa yang terus menyala. Di sekelilingnya terdapat pagar, sementara pada pintu masuk berdiri seorang penjaga.
Gathak dan Gathuk penasaran. Mereka mendekati penjaga tersebut.
“Ki, arca apa itu?”
Penjaga menjawab,
“Itu tempat ziarah Kiai dan Nyai Gamprang. Tempat ini digunakan untuk kaul atau memohon sesuatu. Biasanya didatangi orang yang ingin segera memiliki momongan. Caranya dengan duduk membelakangi kedua arca tersebut.”
Juru kunci itu kemudian menunjuk arca laki-laki.
“Nah, lihat itu. Yang berdiri tegak sejajar dengan hidung arca Ki Gamprang itu adalah alat kelamin laki-laki. Barang siapa memiliki hajat, suami dan istri membakar dupa sambil menyampaikan permohonannya agar segera diberi anak. Setelah itu keduanya duduk di ujung alat kelamin laki-laki tersebut. Menurut pengalaman orang-orang sebelumnya, biasanya permohonan itu berhasil.”
Gathak dan Gathuk cekikikan sambil bergumam,
“Tak kusangka, ternyata yang lurus berdiri tegak itu adalah zakar.”
Jayengresmi terus berjalan. Perjalanan mereka berlanjut hingga memasuki Hutan Lodhaya.
Di sana ia melihat sebuah gubuk kecil berdinding bambu dan beratap ilalang. Ia mendatangi gubuk itu dan mengintip ke dalam. Ternyata di dalamnya terdapat sebuah gong yang digantung.
Pemuda itu kemudian duduk di dekat gubuk untuk beristirahat.
Tidak lama kemudian datang seorang laki-laki setengah baya. Ia mendekati mereka dan bertanya tentang keperluan mereka.
Gathak dan Gathuk yang menjawab,
“Kami hanya singgah, Ki. Beristirahat sejenak untuk memulihkan tenaga. Kami penasaran, kok ada gong tergantung di tengah gubuk dalam hutan seperti ini?”
Laki-laki yang ternyata merupakan juru kunci gong itu menjawab,
“Gong itu sudah ada di sini sejak lama sekali, kemudian dikeramatkan oleh warga desa. Namanya Gong Kiai Pradhah. Barang siapa memiliki hajatan dan mengadakan hiburan, harus menggunakan Gong Kiai Pradhah itu. Jika tidak, dipercaya hidupnya akan celaka dan mengalami kesusahan. Karena itulah setiap hari selalu ada orang yang membakar dupa di sini. Gong itu juga ditaburi bunga boreh hingga warnanya menguning seperti itu.”
Jayengresmi hanya mendengarkan. Setelah itu ia melanjutkan perjalanan memasuki kampung.
---
Di desa itu Jayengresmi melihat sebuah rumah berbentuk tajug, dengan bagian atas yang meruncing. Bangunan itu jelas bukan rumah penduduk. Bentuknya lebih menyerupai sanggar pemujaan, atau bahkan seperti langgar² tempat sembahyang.
Namun, bangunan tersebut tampak sepi dan tidak menunjukkan tanda-tanda sedang digunakan.
Jayengresmi berkata kepada kedua abdinya,
“Kita mengaso dulu di masjid itu.”
Mereka mendekati bangunan tersebut. Di sampingnya terdapat sebuah mata air. Mereka mengambil air untuk berwudu, kemudian masuk ke dalam langgar.
Gathak mengumandangkan azan, sementara Gathuk melanjutkannya dengan iqamah. Sepanjang waktu itu Gathak dan Gathuk terus merasa berdebar-debar. Mereka ketakutan karena tempat tersebut terasa angker.
Mereka menunaikan salat sunah, kemudian salat Magrib, bertafakur, dan dilanjutkan dengan salat Isya secara berjemaah.
Usai menunaikan salat Isya, terdengar beberapa orang bercakap-cakap di luar. Gathak dan Gathuk merasa senang karena mengira telah mendapatkan teman.
Gathak berkata kepada temannya,
“Ayo kita temui orang-orang di luar itu. Mungkin mereka yang menjaga langgar ini.”
Gathuk mengangguk. Mereka berdua kemudian berjalan perlahan menuju pintu dan melongokkan wajah ke luar.
“Gandrik!”
Seketika Gathak meloncat menjauhi pintu. Gathuk tidak kalah terkejut dan ikut melompat mendekati tuannya.
Rupanya kedua abdi itu baru saja melihat beberapa ekor harimau di luar langgar. Binatang-binatang itu berukuran besar dan sedang duduk mengelilingi langgar.
Ada yang berbaring dengan kepala dan dagunya saling berhimpit. Ada yang mendengkur, menggeram, dan mendengus. Melihat pemandangan itu, tubuh kedua abdi tersebut menggigil ketakutan. Mereka kemudian melingkarkan tubuh pada tuannya dan menghimpitnya karena rasa takut yang luar biasa.
Dengan tubuh gemetar, Gathuk berkata,
“Aduh, Denmas. Rupanya suara-suara yang tadi seperti orang sedang bercakap-cakap itu bukan manusia, tetapi macan-macan yang berada di luar.”
“Iya, Den,” sahut Gathak. “Jumlahnya banyak sekali. Bergulungan dan berdesakan seperti babadan pacing. Kalau mereka bangun, pasti akan mencacah kita. Hii...”
Jayengresmi yang masih duduk bersila tersenyum.
“Kalian tidak perlu khawatir. Sebaiknya kita berserah diri kepada Gusti Allah. Kalau Dia menghendaki kita selamat, tidak ada yang dapat mencelakai kita. Takdir-Nya tidak mungkin salah. Kita sebagai makhluk hanya dapat tunduk dan pasrah kepada kehendak-Nya, ibarat sampah yang terapung di tengah samudra. Sudahlah, Kang Gathak, Kang Gathuk, kalian tenang saja. Tidurlah di sini. Aku yang akan menjaga kalian.”
Kedua abdi itu meringkuk menggigil di dekat Jayengresmi. Sementara itu sang tuan melanjutkan wirid, berzikir memuji dan mengagungkan Zat Hyang Suksma, Sang Penjaga Semesta, hingga fajar menjelang.
Ufuk timur mulai memerah. Jayengresmi menyudahi manekung-nya, lalu menunaikan salat Subuh seorang diri. Kedua abdinya masih terlelap karena dicekam ketakutan.
Setelah itu ia melanjutkan zikir hingga langit mulai terang. Ia kemudian membangunkan Gathak dan Gathuk serta menyuruh keduanya menunaikan salat Subuh.
Dalam keadaan antara sadar dan tidak, kedua abdi itu memberanikan diri mengintip keluar dari balik dinding. Langit mulai terang sehingga mereka dapat melihat tiga laki-laki sedang duduk di depan langgar.
Tampaknya mereka juga baru bangun tidur.
Ketiga laki-laki itu kemudian bangkit dan meninggalkan langgar menuju tengah-tengah kampung. Gathak dan Gathuk mengawasi kepergian mereka.
Sementara itu, di tengah kampung, ketiga laki-laki tersebut tiba di rumah Ki Lurah. Mereka memberitahukan bahwa di langgar terdapat tiga orang tamu dari tempat yang jauh. Salah seorang di antaranya masih muda, berwajah tampan dan bercahaya serta memiliki perawakan yang menarik. Mereka tampaknya telah bermalam di langgar sejak senja hingga fajar.
Ki Lurah mengangguk. Dalam hati ia bergumam bahwa tamu tersebut pastilah bukan orang sembarangan.
Ia kemudian memanggil istrinya.
“Nyai! Segera buat tumpeng satu bakul dari beras terbaik. Siapkan juga dendeng rusa, bayam, hati, umbi, obat-obatan, mentimun, siwalan, kelapa muda, serta lalapan. Jangan lupa nira.”
Sang istri Lurah menyatakan sanggup. Sementara itu Ki Lurah segera pergi ke langgar untuk menemui para tamunya.
Sesampainya di langgar, Ki Lurah berkata,
“Saya ucapkan selamat datang di dusun kami, Nakmas. Kalian ini siapa dan datang dari mana?”
Jayengresmi membungkuk sebagai tanda hormat.
“Paman, kami adalah santri yang sedang mengembara untuk mencari saudara yang hilang. Kasihan sekali mereka. Lha, Paduka ini siapa?”
“Saya adalah Lurah Desa Pakel. Orang-orang di sini memanggil saya Ki Carita. Saya sengaja datang tergesa-gesa kemari karena sejak dahulu hingga sekarang tidak ada yang berani masuk ke dalam langgar ini. Sampai Nakmas datang dan menginap semalaman. Ini sungguh luar biasa. Tentunya Nakmas adalah keturunan pertapa atau trah bangsawan. Saya memberanikan diri menawarkan, sudilah mampir ke gubuk saya. Ada jamuan di sana, siapa tahu dapat menghilangkan rasa lapar. Apa yang saya lakukan ini semata-mata demi memperoleh berkah dari Paduka.”
Jayengresmi memenuhi permintaan Ki Lurah.
Mereka kemudian mampir ke rumah Ki Carita. Di sana telah tersedia berbagai macam hidangan yang menggugah selera.
Jayengresmi melegakan hati tuan rumah dengan menyantap nasi sebesar biji kepayang dan seiris dendeng rusa. Ia bersendawa beberapa kali. Setelah itu buah siwalan dan air nira disajikan. Jayengresmi makan dan minum secukupnya hingga tubuhnya kembali terasa segar.
Setelah itu Gathak dan Gathuk dipersilakan makan.
“Mari, silakan. Ndak usah malu-malu!”
“Iya, Ki. Terima kasih.”
Kedua abdi itu langsung berhambur menyantap makanan dengan lahap hingga kenyang. Setelah selesai makan, mereka meluruskan kedua kaki sambil mengendurkan ikat pinggang. Tangan mereka tidak berhenti memegangi perut yang terasa penuh.
Jayengresmi kemudian bertanya kepada Ki Lurah Carita,
“Paman, bagaimana ceritanya dahulu, kok ada rumah angker dan ada dua kempek yang tergantung itu?”
Ki Carita menjawab,
“Kata orang-orang tua, dahulu rumah itu adalah sanggar pemujaan. Dua kempek itu, yang satu berisi kain lurik dengan berbagai corak dan kain perada, ikat kepala bertepi renda dan perada. Adapun kempek yang satunya berisi kampuh gadhung mlathi, yaitu kain dodot panjang berwarna hijau dengan bagian tengah berwarna putih dan dihiasi perada emas.
“Menurut cerita, dahulu benda-benda itu milik Gusti Kanjeng Nyai Rara Kidul. Setahun sekali saya membawanya ke rumah untuk memeriksa apakah jumlahnya masih lengkap atau tidak, kemudian saya angin-anginkan. Jika semuanya lengkap, saya kembalikan lagi ke sanggar.
“Setiap kali saya mengambil dan mengembalikan barang-barang tersebut, selalu ada harimau yang mengikuti dari belakang, tetapi dari kejauhan. Itulah harimau yang menjaga sanggar tersebut.
“Setiap malam ada tiga ekor harimau yang menjaga. Pada siang hari, harimau-harimau itu berubah wujud menjadi manusia.
“Dua pohon pakel yang tumbuh di depan sanggar dan dua pohon durian yang tumbuh di sisi kanan dan kiri sanggar juga dipercaya sebagai tanaman Kanjeng Gusti Panembahan Senapati. Karena itu, setiap kali berbuah, hasilnya selalu kami persembahkan ke Mataram.”
Gathak dan Gathuk bertanya lirih,
“Ki, saya pernah mendengar cerita bahwa kalau ada harimau jadi-jadian, itu merupakan penjelmaan manusia tanpa tumit. Apa benar, Ki?”
“Konon memang seperti itu ceritanya,” sahut Ki Lurah.
Jayengresmi berkata,
“Ki Carita, saya sangat berterima kasih atas budi baik Paduka dan jamuan yang telah diberikan kepada kami. Semoga Gusti Hyang Widhi membalas kebaikan Ki Lurah dengan berlipat ganda. Sekarang hari sudah menjelang siang. Kami hendak melanjutkan perjalanan.”
“Oh, silakan. Semoga kalian selamat dalam perjalanan.”
---
Catatan kaki
¹ Rama Tambak merujuk pada kisah para prajurit kera yang membantu Rama membangun tambak atau jembatan melintasi laut untuk menyeberang menuju Alengka dan membebaskan Sinta yang ditawan Rahwana.
² Istilah langgar atau musala konon mulai dikenal pada masa Sunan Ampel. Ada pula pendapat yang menyebut istilah tersebut telah digunakan sejak masa Maulana Malik Ibrahim. Penggunaan istilah langgar berkaitan dengan perubahan fungsi dan istilah bangunan keagamaan dari masa sebelumnya yang mengenal sanggar sebagai tempat pemujaan.

0 Comments
Tinggalkan jejak komentar di sini