Van der Tuuk, Orang Belanda yang Menjelajah Bahasa Nusantara dari Dekat
Ketika membicarakan sejarah Nusantara, nama orang Belanda biasanya muncul dalam konteks kolonialisme, perdagangan, pemerintahan, atau militer.
Namun ada satu nama yang memiliki kisah berbeda. Ia datang dari Eropa, tetapi menghabiskan sebagian besar hidupnya mempelajari bahasa dan kebudayaan masyarakat Nusantara.
Namanya Herman Neubronner van der Tuuk, atau lebih dikenal sebagai H.N. van der Tuuk.
Van der Tuuk adalah seorang ahli bahasa dan filologi Belanda yang hidup pada abad ke-19. Ia lahir di Malaka pada 1824 dan meninggal di Surabaya pada 1894.
Namanya mungkin tidak sepopuler tokoh-tokoh kolonial lain. Namun dalam sejarah penelitian bahasa-bahasa Nusantara, kontribusinya sangat penting.
Ia mempelajari bahasa Batak, Melayu, Jawa, Bali, Lampung, serta bahasa-bahasa lain. Yang membuat kisahnya menarik adalah cara ia melakukan penelitian. Van der Tuuk tidak puas hanya membaca buku atau naskah dari balik meja.
Ia datang langsung ke masyarakat.
Belajar bahasa dengan hidup bersama masyarakat
Pada masa Van der Tuuk hidup, penelitian mengenai bahasa Nusantara masih berkembang. Banyak orang Eropa mempelajari bahasa lokal karena kebutuhan pemerintahan, perdagangan, atau penyebaran agama.
Van der Tuuk juga mempunyai hubungan dengan lembaga misionaris. Ia mendapat tugas mempelajari bahasa lokal, termasuk untuk kepentingan penerjemahan teks keagamaan.
Namun cara berpikirnya kemudian berkembang menjadi lebih akademis.
Ia menyadari bahwa sebuah bahasa tidak bisa dipahami hanya melalui kamus. Bahasa hidup di tengah masyarakat. Ia digunakan dalam percakapan, ritual, cerita, perdagangan, hubungan keluarga, hingga karya sastra.
Karena itu, Van der Tuuk melakukan perjalanan dan tinggal di wilayah yang menjadi objek penelitiannya.
Salah satu wilayah yang sangat penting dalam perjalanan intelektualnya adalah tanah Batak.
Van der Tuuk dan masyarakat Batak
Van der Tuuk tinggal di wilayah sekitar Barus dan melakukan perjalanan ke daerah pedalaman Sumatra Utara.
Di sana ia mempelajari bahasa Batak secara langsung dari penuturnya.
Masyarakat Batak bahkan mempunyai nama tersendiri untuknya. Ia dikenal antara lain sebagai Pan Dor Toek atau Si Radja Toek.
Kehadirannya bukan tanpa tujuan. Ia ingin memahami struktur bahasa Batak secara mendalam, termasuk kosakata, tata bahasa, serta tradisi sastra masyarakat setempat.
Ia kemudian menghasilkan karya penting mengenai bahasa Batak.
Salah satunya adalah karya mengenai tata bahasa Batak Toba yang diterbitkan pada abad ke-19.
Bagi perkembangan studi bahasa Nusantara, pekerjaan seperti ini sangat berarti. Pada masa itu, banyak bahasa lokal belum terdokumentasikan secara sistematis dalam kajian ilmiah Eropa.
Van der Tuuk ikut membuka jalan.
Bahasa bukan hanya kumpulan kata
Salah satu hal penting dari pemikiran Van der Tuuk adalah perhatian terhadap hubungan antarbasa.
Ia tidak hanya bertanya, "Apa arti kata ini?"
Ia juga bertanya bagaimana sebuah kata berubah, bagaimana bunyi berpindah dari satu bahasa ke bahasa lain, bagaimana struktur kalimat terbentuk, dan bagaimana bahasa-bahasa di wilayah Nusantara memiliki hubungan sejarah.
Dari sinilah namanya kemudian berhubungan dengan perkembangan linguistik perbandingan.
Penelitiannya membantu memperkuat kajian mengenai hubungan berbagai bahasa Austronesia.
Nusantara ternyata bukan kumpulan pulau yang hanya terpisah secara geografis. Di balik laut yang memisahkan pulau-pulau tersebut terdapat hubungan bahasa yang panjang.
Sebuah kata di satu daerah bisa memiliki kerabat di daerah lain.
Perubahan bunyi tertentu dapat ditelusuri.
Struktur bahasa dapat dibandingkan.
Dari sana, sejarah masyarakat dan perpindahan kebudayaan bisa sedikit demi sedikit dipahami.
Perjalanan ke Bali
Setelah periode penelitiannya di Sumatra, Van der Tuuk kemudian menghabiskan waktu yang cukup panjang di Bali.
Ia tinggal di Singaraja.
Di Bali, perhatiannya tertuju pada bahasa Bali dan berbagai naskah tradisional.
Masyarakat Bali mengenalnya dengan nama Tuan Dertik.
Di tempat ini ia semakin dekat dengan dunia sastra dan kebudayaan lokal. Ia mempelajari bahasa Bali, Jawa Kuno, serta naskah-naskah tradisional.
Pekerjaannya bukan pekerjaan yang mudah.
Naskah-naskah tradisional Nusantara memiliki sistem tulisan, kosakata, dan konteks budaya yang berbeda dengan tradisi Eropa. Untuk memahami satu teks, peneliti harus memahami bahasa sekaligus masyarakat yang melahirkan teks tersebut.
Van der Tuuk menghabiskan bertahun-tahun untuk pekerjaan itu.
Sosok yang dikenal eksentrik
Di luar karya ilmiahnya, Van der Tuuk juga mempunyai reputasi sebagai sosok yang eksentrik.
Ia tidak terlalu tertarik mempertahankan gaya hidup orang Eropa yang tinggal di wilayah kolonial.
Ia justru banyak beradaptasi dengan lingkungan setempat.
Kebiasaan dan penampilannya membuatnya berbeda dari banyak orang Eropa pada zamannya.
Bagi sebagian orang, Van der Tuuk tampak aneh.
Namun mungkin justru karena itulah ia dapat memperoleh pengalaman lapangan yang berbeda.
Ia berusaha mendekati bahasa dari kehidupan sehari-hari, bukan hanya dari buku.
Dalam penelitian bahasa, kedekatan semacam ini sangat penting.
Bahasa sering kali memiliki makna yang tidak tercantum dalam kamus.
Satu kata dapat berubah arti tergantung siapa yang mengucapkannya.
Sebuah ungkapan dapat berkaitan dengan adat.
Sebuah peribahasa dapat menyimpan cara masyarakat melihat dunia.
Dan sebuah cerita rakyat dapat menyimpan ingatan kolektif yang tidak ditemukan dalam dokumen resmi pemerintah kolonial.
Hubungan yang rumit dengan misi Kristen
Kisah Van der Tuuk juga tidak bisa dilepaskan dari konteks kolonial dan aktivitas misionaris pada abad ke-19.
Ia pada awalnya mempunyai hubungan dengan lembaga misionaris yang membutuhkan pengetahuan mengenai bahasa lokal untuk kegiatan penerjemahan.
Namun dalam perjalanan hidupnya, Van der Tuuk dikenal memiliki pandangan yang kritis terhadap sebagian aktivitas misionaris.
Di sinilah sosoknya menjadi menarik.
Ia tetap merupakan bagian dari dunia kolonial Eropa. Ia bekerja dalam struktur yang dibentuk oleh kepentingan kolonial dan keagamaan.
Namun ia juga mempunyai sikap kritis terhadap orang-orang Eropa yang menurutnya tidak memahami masyarakat lokal dengan cukup baik.
Bagi Van der Tuuk, memahami bahasa berarti memahami masyarakat.
Orang yang tidak menguasai bahasa setempat akan sulit memahami cara berpikir masyarakat yang menggunakannya.
Warisan Van der Tuuk
Van der Tuuk meninggal di Surabaya pada 1894.
Ia kemudian dimakamkan di Pemakaman Peneleh, Surabaya.
Usianya telah berakhir, tetapi pekerjaannya meninggalkan warisan panjang.
Kamus, tata bahasa, catatan linguistik, dan penelitian terhadap naskah yang ia kerjakan menjadi bagian dari sejarah studi bahasa Nusantara.
Namanya juga terus muncul dalam kajian linguistik, terutama yang berkaitan dengan bahasa-bahasa Austronesia.
Menariknya, sebagian warisan tersebut lahir dari perjalanan yang panjang dan melelahkan.
Ia harus meninggalkan kenyamanan kehidupan Eropa.
Ia harus belajar mendengar.
Ia harus berbicara dengan masyarakat lokal.
Ia harus mencatat kata demi kata.
Dan yang paling penting, ia harus menerima kenyataan bahwa bahasa tidak pernah berdiri sendiri.
Bahasa selalu mempunyai pemilik, penutur, sejarah, dan kebudayaan.
Mengapa Van der Tuuk masih penting dibicarakan?
Di zaman sekarang, ketika kamus digital dapat menerjemahkan ribuan kata dalam hitungan detik, pekerjaan Van der Tuuk mungkin terlihat sangat jauh dari kehidupan kita.
Namun justru di situlah relevansinya.
Ia menunjukkan bahwa bahasa bukan hanya persoalan menerjemahkan kata.
Bahasa adalah cara manusia menyimpan pengalaman.
Ketika sebuah bahasa hilang, sebagian cara manusia memahami dunia juga berpotensi ikut hilang.
Van der Tuuk memang datang sebagai orang Eropa pada masa kolonial. Tetapi dalam sejarah ilmu pengetahuan, ia meninggalkan catatan yang membantu dunia memahami kekayaan bahasa Nusantara.
Dari Batak hingga Bali, dari Melayu hingga Jawa Kuno, ia ikut mendokumentasikan kekayaan linguistik kepulauan ini.
Barangkali warisan terbesarnya bukan hanya kamus atau tata bahasa.
Melainkan sebuah cara melihat Nusantara.
Bahwa pulau-pulau yang dipisahkan laut ternyata memiliki hubungan yang jauh lebih dalam melalui bahasa, sastra, dan kebudayaan.
Dan untuk menemukan hubungan itu, Van der Tuuk memilih satu cara yang cukup melelahkan.
Ia datang.
Ia tinggal.
Ia mendengar.
Kemudian ia menulis.

0 Comments
Tinggalkan jejak komentar di sini