#6 Jejak Panjang Islam Masuk ke Tanah Jawa

Dari Malaka ke Demak, Jejak Panjang Islam Masuk ke Tanah Jawa


Perubahan besar dalam sejarah Jawa ternyata berlangsung melalui jalan yang panjang.

Islam tidak datang ke Jawa dalam satu rombongan besar, lalu dalam waktu singkat mengubah seluruh kehidupan masyarakat. 

Ia bergerak bersama kapal dan pedagang, masuk melalui kota-kota pelabuhan, berhubungan dengan keluarga bangsawan, berkembang melalui para penyiar agama, lalu perlahan bergerak menuju pedalaman.

Saya menemukan gambaran itu ketika mengikuti uraian Koentjaraningrat pada halaman 47 sampai 61. 

Di sana sejarah Islamisasi Jawa terasa seperti perjalanan dari satu tempat ke tempat lain.

Dari Malaka ke Gresik.

Dari Gresik ke Demak.

Dari Demak ke Pajang.

Dari Pajang ke Mataram.

Lalu dari kota-kota pesisir menuju desa-desa di pedalaman Jawa.

Koentjaraningrat sejak awal mengingatkan bahwa sejarah persebaran Islam di Jawa masih menyimpan banyak persoalan. 

Para ahli sejarah belum mempunyai dokumentasi yang lengkap mengenai proses beralihnya penduduk Jawa kepada Islam. 

Karena itu, berbagai pendapat dan hipotesis masih harus dibandingkan dengan bukti sejarah yang tersedia.

Bagian tersebut terdapat dalam bab Munculnya Negara-Negara Islam di Pulau Jawa dalam Kebudayaan Jawa. 

Edisi 1984 diterbitkan Balai Pustaka dan memiliki 556 halaman. Buku tersebut merupakan nomor 2 dalam Seri Etnografi Indonesia.

Islam datang melalui jalur perdagangan

Kalau kita membayangkan Jawa pada masa itu, gambaran pertama yang muncul bukanlah pedalaman.

Yang terlihat justru laut.

Pelabuhan menjadi tempat bertemunya manusia dari berbagai wilayah. Kapal datang membawa barang dagangan. 

Para pedagang membawa bahasa dan kebiasaan masing-masing. Bersamaan dengan itu, agama dan gagasan ikut bergerak.

Koentjaraningrat menjelaskan bahwa salah satu jalur penting masuknya Islam ke Jawa berkaitan dengan Malaka.

Pada abad ke-14, Malaka berkembang sebagai pusat perdagangan yang berada pada posisi strategis. 

Pedagang Muslim dari Gujarat dan Persia datang ke sana. Dari Malaka, jaringan perdagangan kemudian bergerak menuju berbagai wilayah Nusantara.

Jalur dagang itu akhirnya sampai ke pantai utara Jawa.

Gresik, Demak dan Tuban menjadi bagian dari jaringan perdagangan tersebut. Pedagang Jawa berangkat menuju Malaka, sementara pedagang Muslim dari Malaka datang ke Jawa.

Di kota-kota pelabuhan Jawa juga hadir orang-orang dari Persia, India Selatan, Cina dan Vietnam.

Di tempat seperti inilah perjumpaan budaya berlangsung.

Islam masuk melalui lingkungan perdagangan yang sangat terbuka terhadap hubungan luar.

Gresik, Demak dan Tuban menjadi pintu masuk

Kota pelabuhan memiliki posisi penting karena menjadi tempat bertemunya banyak kepentingan.

Pedagang membutuhkan pelabuhan. Penguasa membutuhkan pemasukan. Syahbandar mengatur aktivitas perdagangan. 

Pedagang asing membangun jaringan dengan masyarakat setempat.

Dalam kondisi tersebut, agama juga bergerak.

Koentjaraningrat mencatat bahwa pedagang Muslim dari Malaka mengunjungi Jawa, sementara pedagang Jawa juga berhubungan dengan Malaka.

Perjalanan tersebut membuat agama Islam semakin dikenal di wilayah pesisir.

Namun prosesnya belum berarti seluruh masyarakat Jawa langsung memeluk Islam.

Pesisir dan pedalaman mempunyai pengalaman berbeda.

Kota pelabuhan lebih cepat berhubungan dengan dunia luar. Pedalaman memiliki struktur sosial dan kebudayaan sendiri yang telah berkembang selama berabad-abad.

Karena itu, Islamisasi Jawa berlangsung secara bertahap.

Peran syahbandar dalam perubahan

Salah satu tokoh yang menarik dalam uraian Koentjaraningrat adalah syahbandar.

Syahbandar mempunyai kedudukan penting di kota pelabuhan. Mereka mengurus berbagai kepentingan perdagangan, termasuk biaya pelabuhan dan pajak impor-ekspor.

Pekerjaan itu membuat mereka sering berhubungan dengan pedagang asing.

Ketika perdagangan semakin banyak melibatkan pedagang Muslim, sebagian syahbandar kemudian memeluk Islam.

Dari sini posisi ekonomi dapat berkembang menjadi pengaruh sosial dan politik.

Dalam beberapa kasus, kedudukan syahbandar diwariskan secara turun-temurun. Hubungan mereka dengan keluarga kerajaan juga semakin erat.

Melalui hubungan semacam itu, Islam mulai masuk ke lingkungan istana.

Jadi, penyebaran Islam bukan hanya persoalan perdagangan rakyat biasa. Hubungan antara pedagang, pejabat pelabuhan dan bangsawan ikut membentuk perubahan politik di Jawa.

Dari perdagangan menuju penyiaran agama

Perdagangan bukan satu-satunya jalur Islamisasi.

Koentjaraningrat juga membahas pendapat A.H. Johns mengenai peranan para penyiar Islam, khususnya kelompok sufi.

Menurut hipotesis Johns, persebaran Islam di kepulauan Indonesia sejak abad ke-13 berkaitan dengan aktivitas para penyiar mistik Islam.

Gagasan tasawuf kemudian menemukan ruang di Jawa.

Ada alasan kebudayaan yang menarik di balik proses itu.

Sebelum Islam berkembang, masyarakat Jawa telah mengenal tradisi Hindu-Buddha yang mempunyai banyak unsur mistik. 

Karena itu, ajaran Islam yang memiliki dimensi sufistik dapat berinteraksi dengan tradisi yang telah lebih dahulu dikenal masyarakat.

Islam datang ke dalam masyarakat yang sudah mempunyai sistem kepercayaan, tradisi sastra, ritual dan pandangan mengenai dunia gaib.

Pertemuan tersebut kemudian melahirkan corak Islam Jawa yang mempunyai karakter tersendiri.

Pesisir Jawa tidak pernah benar-benar seragam

Semakin jauh membaca halaman-halaman tersebut, semakin terlihat bahwa istilah Pesisir tidak menunjuk pada satu kebudayaan yang sama.

Koentjaraningrat mengutip pembagian Pigeaud yang membagi kota-kota pelabuhan Islam di Jawa Utara ke dalam beberapa kelompok.

Kelompok Timur terdiri dari Gresik dan Tuban, dengan hubungan pula dengan Madura dan Lombok.

Kelompok Tengah meliputi Demak, Jepara dan Kudus.

Kelompok Barat berkaitan dengan Cirebon dan Banten, lalu terhubung dengan wilayah Sunda dan Lampung.

Masing-masing kawasan mempunyai hubungan perdagangan, politik dan kebudayaan sendiri.

Karena itu, masyarakat Islam di pesisir Jawa tidak dapat dipandang sebagai satu kelompok yang memiliki kepentingan politik seragam.

Mereka mempunyai tujuan dan hubungan yang berbeda-beda.

Namun ada satu perubahan besar yang perlahan terlihat.

Orientasi kebudayaan kota-kota pelabuhan semakin berbeda dengan pusat kekuasaan Hindu-Buddha Majapahit.

Demak dan berakhirnya kekuasaan Majapahit

Di antara kota-kota pelabuhan tersebut, Demak kemudian tampil sebagai kekuatan penting.

Posisinya di pantai utara Jawa memberikan keuntungan dalam perdagangan. 

Ketika Majapahit mengalami kemunduran, kota-kota pelabuhan mempunyai ruang yang semakin besar untuk membangun kekuatan sendiri.

Demak kemudian bergerak secara politik dan militer.

Menurut uraian Koentjaraningrat, Demak menjadi kerajaan pantai yang berperan penting dalam jatuhnya Majapahit.

Pada 1527, Demak bersama sejumlah kekuatan kota Pesisir berhasil menghancurkan pusat kekuasaan Majapahit.

Peristiwa tersebut menjadi salah satu titik perubahan penting dalam sejarah Jawa.

Namun saya melihat ada hal lain yang juga penting.

Runtuhnya Majapahit bukan berarti seluruh kebudayaan Hindu-Buddha ikut lenyap.

Sebagian keluarga kerajaan dan bangsawan bergerak ke wilayah timur, terutama Blambangan dan Bali. Di sana tradisi Hindu-Buddha tetap bertahan.

Jadi, perubahan politik tidak otomatis menghapus kebudayaan lama.

Sebagian tradisi berpindah tempat dan terus hidup.

Dari Demak menuju Pajang

Kekuasaan Demak kemudian mengalami perubahan.

Pada abad ke-16, kekuasaan tersebut beralih kepada Pajang.

Jaka Tingkir menjadi tokoh penting dalam perubahan itu. Ia kemudian dikenal sebagai Sultan Adi Wijaya.

Pajang menjadi pusat kerajaan Islam di pedalaman Jawa.

Namun usia kerajaan tersebut tidak panjang.

Pada akhir abad ke-16, kekuasaan Mataram mulai berkembang dan akhirnya mengambil alih Pajang.

Panembahan Senapati menjadi tokoh penting dalam proses tersebut.

Dari sinilah pusat kekuasaan Islam bergerak lebih jauh ke pedalaman.

Perubahan itu menarik karena Islam yang mula-mula berkembang kuat di kota-kota pelabuhan kemudian mempunyai pusat kekuasaan di wilayah pedalaman.

Mataram dan hubungan yang rumit dengan Islam

Mataram berkembang menjadi kekuatan besar di pedalaman Jawa.

Sultan Agung kemudian menjadi salah satu tokoh terpenting dalam sejarah kerajaan tersebut.

Namun hubungan Mataram dengan kelompok Islam tidak selalu berjalan mulus.

Mataram tetap membangun hubungan dengan kerajaan-kerajaan Islam di Pesisir, termasuk Cirebon. 

Pada saat yang sama, pengaruh Islam tertentu juga dibatasi karena dianggap dapat memengaruhi stabilitas politik kerajaan.

Di sini sejarah menjadi lebih rumit.

Sebuah kerajaan yang secara politik merupakan kerajaan Islam ternyata tetap mempertahankan banyak unsur kebudayaan Jawa dari masa Hindu-Buddha.

Koentjaraningrat menunjukkan bahwa tradisi lama masih tampak dalam kehidupan istana, kesusastraan, upacara dan kehidupan keagamaan, meskipun berada dalam lingkungan kerajaan Islam.

Islam dan tradisi Jawa lama kemudian bertemu dalam ruang kebudayaan yang sama.

Pesantren menjadi jalan menuju pedalaman

Bagian tentang pesantren menjadi salah satu bagian yang penting untuk memahami proses Islamisasi Jawa.

Para penyiar agama bergerak dari daerah pesisir menuju pedalaman. Mereka hadir sebagai guru agama atau orang saleh.

Kemudian tumbuh lembaga pendidikan yang dikenal sebagai pesantren.

Pesantren bukan hanya tempat seseorang belajar agama.

Di dalamnya terdapat guru, keluarga, murid, asrama dan tempat beribadah. Pesantren juga menjadi bagian dari jaringan sosial dan ekonomi masyarakat di sekitarnya.

Lokasinya banyak berkembang di sepanjang jalur Bengawan Solo dan Brantas.

Sungai-sungai tersebut menjadi jalur menuju wilayah pedalaman yang memiliki penduduk padat dan sebelumnya menjadi pusat peradaban Hindu-Buddha.

Melalui jaringan semacam itu, ajaran Islam perlahan memasuki desa-desa.

Seorang murid belajar kepada guru, lalu membawa pengetahuan tersebut kembali ke lingkungan masyarakatnya.

Prosesnya berlangsung dari manusia ke manusia.

Islamisasi juga menghadapi konflik

Tidak semua penyiar Islam mempunyai pandangan yang sama.

Koentjaraningrat mencatat adanya perbedaan antara berbagai aliran dalam proses penyebaran Islam di pedalaman.

Salah satu tokoh yang disebut adalah Syekh Siti Jenar.

Ia digambarkan dalam sumber yang digunakan Koentjaraningrat sebagai tokoh yang mempunyai pandangan mistik yang dianggap ekstrem oleh kelompok Islam lainnya.

Kisah tersebut menunjukkan bahwa Islamisasi Jawa bukan proses yang seragam.

Ada perbedaan pemikiran dan praktik keagamaan.

Ada pula persaingan pengaruh.

Karena itu, sejarah masuknya Islam ke Jawa tidak tepat apabila digambarkan sebagai proses yang berlangsung tanpa konflik.

Ada perjumpaan, penyesuaian dan juga pertentangan.

Ketika Islam memasuki jantung Jawa

Pada paruh kedua abad ke-17, pengaruh Islam semakin terasa di wilayah pedalaman.

Namun prosesnya berlangsung lambat.

Koentjaraningrat mencatat bahwa pemerintah Mataram pada masa tertentu justru memasang berbagai hambatan terhadap perkembangan Islam di pedalaman karena kemajuan tersebut mulai dipandang sebagai ancaman terhadap stabilitas politik.

Rijcklof van Goens bahkan mencatat adanya tindakan kekerasan terhadap keluarga-keluarga Muslim di wilayah pedalaman pada masa itu.

Meski menghadapi berbagai hambatan, Islam akhirnya berhasil masuk ke wilayah yang sebelumnya menjadi pusat peradaban Hindu-Buddha Jawa.

Lembah Opak dan Praga menjadi salah satu kawasan penting dalam proses tersebut.

Begitu pula wilayah hulu Bengawan Solo di antara kompleks Merapi, Merbabu dan Lawu.

Di kawasan inilah proses Islamisasi akhirnya mencapai jantung masyarakat pedalaman Jawa.

Islamisasi Jawa adalah perjalanan kebudayaan

Setelah membaca halaman 47 sampai 61 Kebudayaan Jawa, saya melihat Islamisasi Jawa sebagai perjalanan panjang yang tidak dapat dijelaskan dengan satu sebab.

Perdagangan mempunyai peran.

Malaka menjadi simpul penting. Pedagang Gujarat dan Persia datang melalui jaringan maritim. Gresik, Tuban dan Demak berkembang sebagai kota pelabuhan.

Kemudian muncul syahbandar, bangsawan Muslim, hubungan perkawinan dan jaringan politik.

Para penyiar agama membawa Islam semakin jauh.

Pesantren menjadi pusat pendidikan dan komunikasi masyarakat.

Demak kemudian menjadi kekuatan politik besar, disusul Pajang dan Mataram.

Pada saat yang sama, tradisi Hindu-Buddha tidak hilang begitu saja. Banyak unsur kebudayaan lama terus hidup dan kemudian berinteraksi dengan Islam.

Itulah yang membuat sejarah Islam di Jawa menjadi menarik.

Perubahannya berlangsung melalui manusia dan jaringan kehidupan sehari-hari.

Kapal membawa pedagang.

Pedagang membawa agama.

Syahbandar membangun jaringan.

Keluarga bangsawan melakukan perkawinan.

Guru agama mendirikan pesantren.

Santri membawa pengetahuan ke desa.

Kerajaan kemudian mengambil posisi politik.

Dari rangkaian panjang itulah lahir wajah baru masyarakat Jawa.

Bukan sebuah perubahan dalam satu malam, melainkan perjalanan berabad-abad dari pelabuhan menuju pedalaman.

Sumber utama

Koentjaraningrat, Kebudayaan Jawa, Jakarta, Balai Pustaka, 1984, halaman 47–61, bagian Munculnya Negara-Negara Islam di Pulau Jawa. Edisi pertama buku ini memiliki 556 halaman dan diterbitkan sebagai nomor 2 dalam Seri Etnografi Indonesia.

Buku tersebut tercatat dalam katalog Perpustakaan Universitas Airlangga sebagai terbitan Jakarta, Balai Pustaka, 1984, dengan 556 halaman.

Sumber-sumber yang disebut Koentjaraningrat dalam bagian ini antara lain karya B.J.O. Schriecke, H.J. de Graaf, Th.G.Th. Pigeaud, G.W.J. Drewes, A.H. Johns, Tomé Pires dan C.C. Berg.

Artikel ini diolah dari halaman 47–61 Kebudayaan Jawa berdasarkan halaman buku yang diberikan, dengan mempertahankan gagasan utama, tokoh, tempat, kronologi dan perdebatan sejarah yang terdapat dalam sumber tersebut.

Ditulis oleh: Libra Lazuardi

0 Comments

Tinggalkan jejak komentar di sini