#5 Dari Kerajaan Agraris hingga Majapahit, Jejak Berdirinya Negara-Negara Hindu-Jawa

Dari Kerajaan Agraris hingga Majapahit, Jejak Berdirinya Negara-Negara Hindu-Jawa


Sejarah Jawa tidak berhenti pada masa manusia purba. Setelah melalui masa panjang berburu, meramu, bercocok tanam, mengenal teknologi logam dan membangun hubungan perdagangan, masyarakat Jawa memasuki babak baru ketika muncul kerajaan-kerajaan bercorak Hindu-Buddha.

Perubahan tersebut berlangsung secara bertahap. Pengaruh India membawa sistem keagamaan, konsep kerajaan, tradisi intelektual, kesusastraan dan simbol-simbol politik baru. 

Namun masyarakat pedesaan tidak serta-merta berubah mengikuti kebudayaan istana. Kehidupan petani, pertanian, irigasi dan desa tetap menjadi bagian penting dari kehidupan Jawa.

Gambaran mengenai proses tersebut dijelaskan Koentjaraningrat dalam Kebudayaan Jawa, khususnya bagian Zaman Berdirinya Negara-Negara Hindu-Jawa pada halaman 38–46. 

Buku edisi pertama diterbitkan Balai Pustaka pada 1984 dengan tebal 556 halaman dan merupakan bagian kedua dari Seri Etnografi Indonesia.

Prasasti menjadi tanda masuknya zaman sejarah

Bukti awal mengenai keberadaan negara-negara Hindu-Jawa ditemukan melalui prasasti batu di Jawa Barat. 

Dalam uraian Koentjaraningrat, prasasti tersebut ditemukan di kawasan pantai utara Jawa Barat, sekitar lembah Sungai Cisadane.

Prasasti itu tidak mencantumkan tanggal secara langsung. Namun bentuk dan gaya hurufnya menunjukkan pengaruh India Selatan. 

Isinya berkaitan dengan upacara yang dilakukan seorang raja dalam rangka peresmian bangunan irigasi dan bangunan keagamaan pada sekitar abad ke-4 Masehi.

Peristiwa tersebut menunjukkan perubahan penting dalam sejarah masyarakat Jawa dan Nusantara. Masyarakat lokal mulai berhubungan dengan tradisi politik dan keagamaan India.

Raja menggunakan nama-nama bercorak Hindu dan mendatangkan Brahmana dari India. Para Brahmana tersebut berperan sebagai penasihat dalam urusan keagamaan dan intelektual.

Pengaruh India pada tahap awal terutama kuat di lingkungan istana. Masyarakat pedesaan mengalami perubahan yang jauh lebih terbatas. 

Petani tetap menjalankan kehidupan pertanian yang telah berkembang dari masa sebelumnya.

Hal ini penting untuk dipahami. Kedatangan pengaruh Hindu bukan berarti seluruh masyarakat Jawa tiba-tiba berubah menjadi masyarakat India. 

Unsur baru terutama berkembang dalam lingkungan elite kerajaan, sementara tradisi lokal tetap bertahan di desa-desa.

Dua tipe kerajaan Hindu-Indonesia

Koentjaraningrat membedakan dua tipe umum kerajaan Hindu-Indonesia kuno.

Tipe pertama adalah kerajaan pantai yang bertumpu pada perdagangan. Pusat kekuasaannya berkembang di sekitar kota pelabuhan. 

Kerajaan semacam ini tidak selalu memiliki wilayah pertanian yang luas, tetapi mempunyai hubungan perdagangan dan armada pelayaran.

Sriwijaya menjadi salah satu contoh penting. Kerajaan ini berkembang sekitar abad ke-7 Masehi dan memiliki hubungan kuat dengan jaringan perdagangan maritim Asia Tenggara.

Letak pusat Sriwijaya masih menjadi bahan perdebatan para ahli. Berbagai penelitian menunjukkan pentingnya kawasan Sumatra Selatan, terutama sekitar Palembang, dalam pembahasan mengenai kerajaan tersebut.

Pemerintah Indonesia melalui Direktorat Pelindungan Kebudayaan juga mencatat Sriwijaya sebagai salah satu kekuatan maritim penting di Asia Tenggara pada pertengahan abad ke-7.

Tipe kedua adalah kerajaan pedalaman yang berbasis pertanian. Model ini berkembang di lembah-lembah subur dan dataran tinggi, terutama di antara sungai dan kawasan gunung berapi di Jawa.

Kerajaan agraris mempunyai masyarakat petani yang tinggal di desa-desa dan mengembangkan pertanian padi dengan sistem irigasi.

Dari sini terlihat bahwa kondisi geografis turut membentuk corak kerajaan. Wilayah pesisir membuka peluang perdagangan laut, sedangkan wilayah pedalaman yang memiliki tanah subur mendukung berkembangnya kerajaan berbasis pertanian.

Kota kerajaan dan kehidupan istana

Kerajaan agraris mempunyai pusat kekuasaan berupa kota kerajaan. Di dalamnya terdapat istana, bangunan pendukung, permukiman pejabat, keluarga bangsawan dan kelompok masyarakat lainnya.

Bangunan kerajaan pada masa itu banyak menggunakan bahan yang mudah rusak seperti kayu dan bambu. 

Karena itu, tidak semua bangunan istana yang pernah berdiri dapat ditemukan kembali.

Berbeda dengan bangunan tempat tinggal manusia, bangunan keagamaan banyak dibuat menggunakan batu.

Candi menjadi salah satu peninggalan yang paling bertahan hingga sekarang. Bangunan batu tersebut berkaitan dengan kehidupan keagamaan dan juga menjadi simbol kekuasaan.

Candi-candi di Jawa menjadi bukti bahwa masyarakat masa itu telah mengembangkan kemampuan arsitektur, seni pahat dan organisasi pembangunan dalam skala besar.

Koentjaraningrat juga membahas perdebatan para ahli mengenai fungsi candi dan hubungannya dengan raja. 

Berbagai ahli pada masa lalu memiliki interpretasi berbeda mengenai apakah candi terutama merupakan tempat pemakaman raja, tempat pemujaan atau memiliki fungsi keagamaan lain.

Perdebatan tersebut menunjukkan bahwa peninggalan batu tidak selalu mudah ditafsirkan. Penelitian sejarah membutuhkan perbandingan antara prasasti, arkeologi, kesusastraan dan sumber lainnya.

Konsep raja sebagai pusat kosmos

Salah satu gagasan penting dalam kerajaan Hindu-Jawa adalah hubungan antara kerajaan dan alam semesta.

Dalam pandangan kosmologis Hindu yang berkembang di Asia Tenggara, alam semesta mempunyai susunan tertentu. 

Gunung Mahameru ditempatkan sebagai pusat kosmos dan berkaitan dengan dunia para dewa.

Konsep tersebut kemudian diterapkan dalam kehidupan kerajaan.

Raja ditempatkan sebagai pusat kekuasaan. Susunan kota, istana, pejabat dan berbagai bangunan keagamaan dapat dipahami dalam hubungan dengan gagasan mengenai keteraturan alam semesta.

Dengan demikian, kerajaan tidak dipandang hanya sebagai organisasi politik. Kerajaan juga memiliki dimensi keagamaan.

Raja memiliki tugas menjaga keseimbangan antara kehidupan manusia dan tatanan kosmos. 

Dalam kerajaan yang berhubungan dengan pemujaan Syiwa, raja dapat dipandang sebagai penjelmaan Syiwa. Dalam tradisi Waisnawa, raja dapat dikaitkan dengan Wishnu.

Konsep tersebut memberikan dasar keagamaan bagi kewibawaan raja.

Kekuatan sakti seorang raja

Dalam pandangan masyarakat kerajaan masa itu, raja dipercaya memiliki kasekten atau kekuatan sakti.

Kekuatan tersebut dipercaya memancar dari raja kepada orang-orang di sekitarnya. Kemudian pengaruh tersebut dapat diteruskan melalui hubungan kekerabatan, perkawinan dan hubungan politik hingga ke lapisan masyarakat yang lebih luas.

Keseimbangan kekuatan sakti dipercaya berkaitan dengan stabilitas kerajaan.

Karena itu raja mempunyai tugas mempertahankan kekuatan tersebut melalui pertapaan, semadi, upacara keagamaan dan berbagai ritual.

Konsep tersebut juga menjelaskan mengapa pusat kerajaan mempunyai arti yang sangat penting. 

Menaklukkan pusat kerajaan bukan hanya berarti menguasai wilayah administratif, tetapi juga mengambil alih simbol dan legitimasi kekuasaan.

Koentjaraningrat menunjukkan bahwa perubahan dinasti tidak selalu berarti seluruh sistem kerajaan ikut berubah. 

Pergantian raja dapat terjadi, sementara pejabat administrasi, kelompok ekonomi dan struktur pemerintahan tetap berjalan.

Dengan demikian, kesinambungan suatu kerajaan tidak hanya ditentukan oleh sosok rajanya.

Bagaimana kehidupan petani

Sumber sejarah dari masa Hindu-Jawa jauh lebih banyak berbicara mengenai raja, bangsawan, agama dan bangunan keagamaan dibandingkan kehidupan masyarakat desa.

Padahal petani merupakan kelompok penting dalam kerajaan agraris.

Petani menanam padi dengan sistem irigasi dan kemungkinan juga menjalankan pertanian ladang. 

Tanah berada dalam hubungan yang kompleks antara raja, desa dan kelompok pemegang hak tertentu.

Para petani memiliki kewajiban membayar pajak kepada kerajaan. Pajak dapat berupa hasil bumi maupun bentuk kewajiban lainnya.

Ada pula desa-desa tertentu yang memperoleh status bebas pajak karena mempunyai tugas khusus, misalnya merawat tempat pemujaan, bangunan keagamaan atau makam raja. Desa semacam itu dikenal dengan istilah desa merdeka.

Penduduk desa juga memiliki pekerjaan lain. Masyarakat yang tinggal dekat sungai, misalnya, dapat menjalankan usaha penyeberangan menggunakan perahu.

Hal ini memperlihatkan bahwa ekonomi masyarakat Jawa kuno tidak hanya bertumpu pada sawah. Sungai, perdagangan, kerajinan dan berbagai pekerjaan lain ikut menopang kehidupan masyarakat.

Mataram dan perpindahan pusat kekuasaan ke Jawa Timur

Perkembangan kerajaan Hindu-Jawa kemudian berlangsung di Jawa Tengah.

Kerajaan Mataram menjadi salah satu kerajaan penting dalam perkembangan tersebut. 

Kawasan Jawa Tengah memiliki dataran subur dan jaringan sungai yang mendukung pertanian.

Pada periode berikutnya muncul Dinasti Syailendra yang berkaitan dengan perkembangan agama Buddha Mahayana dan pembangunan bangunan monumental seperti Borobudur.

Di sisi lain, tradisi keagamaan Syiwa berkembang kuat dan kemudian melahirkan kompleks Prambanan.

Perkembangan politik di Jawa Tengah kemudian mengalami perubahan. Dalam uraian Koentjaraningrat, perpindahan penduduk menuju Jawa Timur berkaitan dengan berbagai faktor, termasuk tekanan politik, perkembangan ekonomi dan kondisi lingkungan.

Pada awal abad ke-10, pusat kekuasaan kemudian berpindah ke kawasan Jawa Timur. Mpu Sindok menjadi tokoh penting dalam perpindahan tersebut.

Lembah Sungai Brantas memiliki arti penting karena menyediakan lahan pertanian sekaligus akses menuju jaringan perdagangan.

Perpindahan pusat kekuasaan tersebut menjadi salah satu titik penting dalam sejarah politik Jawa.

Dari Airlangga menuju Kediri dan Janggala

Perkembangan kerajaan Jawa Timur melahirkan berbagai pusat kekuasaan baru.

Airlangga kemudian membagi kerajaan untuk kedua putranya. Dari pembagian tersebut muncul dua kerajaan, yaitu Janggala dan Panjalu.

Panjalu kemudian berkembang menjadi kekuatan penting. Pusat kekuasaannya berkaitan dengan wilayah Kediri.

Periode Kediri juga dikenal sebagai masa penting dalam perkembangan kesusastraan Jawa Kuno. Pengaruh wiracarita India seperti Ramayana dan Mahabharata berkembang dalam bentuk karya sastra yang kemudian diolah sesuai dengan lingkungan budaya Jawa.

Kebudayaan Jawa tidak menerima unsur India secara pasif. Cerita, simbol dan gagasan yang berasal dari India mengalami proses penyesuaian dengan kehidupan masyarakat Jawa.

Singasari dan Kertanegara

Pada abad ke-13, kekuasaan Kediri kemudian digantikan oleh Singasari.

Kertanegara menjadi salah satu tokoh penting pada periode ini. Ia memerintah ketika kekuatan Mongol berkembang di Asia.

Kertanegara berusaha memperluas pengaruh kerajaan dan menghadapi ancaman dari kekuatan luar.

Politiknya tidak hanya menggunakan kekuatan militer. Koentjaraningrat juga membahas pandangan C.C. Berg yang menekankan penggunaan simbolisme dan unsur mistik dalam politik Kertanegara.

Namun pemerintahan Kertanegara berakhir ketika ia dibunuh oleh Jayakatwang dari Kediri.

Peristiwa tersebut kemudian membuka jalan bagi Raden Wijaya untuk membangun kekuasaan baru.

Lahirnya Majapahit

Raden Wijaya memanfaatkan kedatangan pasukan Mongol untuk menghadapi lawan politiknya. Setelah kepentingan tersebut tercapai, ia kemudian mendirikan Majapahit.

Kerajaan ini berkembang menjadi salah satu kekuatan politik terbesar dalam sejarah Jawa.

Sumber seperti Nagarakretagama memberikan gambaran mengenai luasnya jaringan kekuasaan dan hubungan politik Majapahit.

Pada masa Majapahit, agama Syiwa dan Buddha Mahayana berkembang berdampingan. Kehidupan keagamaan menghasilkan berbagai bangunan dan karya sastra.

Di sisi lain, kehidupan istana berkembang dengan kemewahan yang kontras dengan kehidupan sebagian masyarakat petani.

Perdagangan internasional juga semakin berkembang. Pedagang asing, termasuk dari Gujarat, Persia dan kemungkinan Tiongkok, hadir di kota-kota pelabuhan.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa Majapahit bukan kerajaan yang terisolasi. Jawa telah menjadi bagian dari jaringan perdagangan Asia.

Kemunduran Majapahit dan munculnya Demak

Kejayaan Majapahit tidak berlangsung selamanya.

Menjelang akhir abad ke-14, kekuasaan kerajaan mulai mengalami kemunduran. Konflik internal dan persaingan antarkekuatan politik semakin memengaruhi stabilitas kerajaan.

Pada abad ke-15, kota-kota pelabuhan berkembang menjadi pusat ekonomi dan politik baru. Perdagangan semakin memberikan kekuatan kepada kerajaan-kerajaan pesisir.

Pada 1478, menurut uraian Koentjaraningrat, sebuah cabang Dinasti Majapahit mengambil alih kekuasaan di kawasan delta Sungai Brantas dan kemudian memindahkan pusat pemerintahan ke Daha.

Sementara itu, kekuatan kota-kota pelabuhan di pantai utara Jawa semakin berkembang.

Sekitar 1520, sisa kekuasaan Majapahit di Mojokerto akhirnya dihancurkan oleh Demak, sebuah kerajaan pelabuhan yang berkembang di pantai utara Jawa.

Peristiwa tersebut menandai perubahan besar dalam sejarah Jawa. Pusat kekuasaan mulai bergerak dari kerajaan Hindu-Jawa menuju kerajaan-kerajaan Islam.

Sejarah Jawa adalah proses perubahan panjang

Halaman 38–46 Kebudayaan Jawa memperlihatkan bahwa berdirinya kerajaan Hindu-Jawa bukan sebuah peristiwa tunggal.

Ada proses panjang di belakangnya. Pengaruh India bertemu dengan kebudayaan lokal. 

Kerajaan pantai berkembang melalui perdagangan, sedangkan kerajaan pedalaman bertumpu pada pertanian. 

Istana berkembang dengan konsep kosmologi dan kekuasaan sakral, sementara masyarakat desa tetap menjalankan pertanian dan berbagai pekerjaan ekonomi.

Dari Jawa Tengah, pusat kekuasaan kemudian bergerak menuju Jawa Timur. Muncul Mataram, Kediri, Singasari dan akhirnya Majapahit.

Setelah Majapahit mengalami kemunduran, kota-kota pelabuhan semakin berpengaruh dan membuka jalan bagi perubahan politik serta keagamaan berikutnya.

Dengan melihat rangkaian tersebut, sejarah kebudayaan Jawa dapat dipahami sebagai perjalanan yang terus berubah. 

Pengaruh asing memang memainkan peranan penting, tetapi masyarakat Jawa juga memiliki kemampuan untuk mengolah, menyesuaikan dan memasukkan unsur baru ke dalam kebudayaannya sendiri.

Sumber utama

Koentjaraningrat. Kebudayaan Jawa. Jakarta, Balai Pustaka, 1984, khususnya halaman 38–46. Edisi tersebut merupakan cetakan pertama dengan tebal 556 halaman dan tercatat sebagai Seri Etnografi Indonesia nomor 2.

Koentjaraningrat. Javanese Culture. Singapore, Oxford University Press, 1985. Edisi bahasa Inggris ini merupakan pengembangan dari kajian Koentjaraningrat mengenai masyarakat dan kebudayaan Jawa dan mencantumkan bagian sejarah singkat kebudayaan Jawa mulai halaman 30.

Direktorat Pelindungan Kebudayaan. “Mataram Kuna, Agraris atau Maritim”. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, 2017. Sumber ini digunakan sebagai pembanding mengenai karakter kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha dan posisi Sriwijaya serta Majapahit dalam sejarah maritim Nusantara. 

0 Comments

Tinggalkan jejak komentar di sini