#2 Memahami Bahasa Orang Jawa, dari Sastra hingga Logat Daerah

Memahami Bahasa Orang Jawa, dari Sastra hingga Logat Daerah


Bahasa Jawa sering dipahami sebagai bahasa yang memiliki tingkatan. Ada ngoko, madya, dan krama. Tetapi kalau kita membaca uraian Koentjaraningrat dalam Kebudayaan Jawa, persoalannya jauh lebih luas.

Bahasa Jawa memiliki sejarah panjang. Ia berkembang bersama perubahan pusat-pusat kebudayaan, agama, kerajaan, perdagangan, pendidikan, hingga perubahan kehidupan sosial masyarakat Jawa.

Dalam buku Kebudayaan Jawa, pembahasan mengenai bahasa orang Jawa terdapat pada halaman 17–24. Koentjaraningrat membicarakan sejarah bahasa dan kesusastraan Jawa, perkembangan tulisan Jawa, tingkat bahasa, hingga berbagai logat yang berkembang berdasarkan wilayah geografis. 

Buku yang menjadi rujukan adalah Kebudayaan Jawa karya Koentjaraningrat, terbitan Balai Pustaka. Edisi 1984 memiliki 556 halaman.

Bahasa Jawa memiliki sejarah kesusastraan yang panjang

Koentjaraningrat menjelaskan bahwa bahasa orang Jawa termasuk sub-keluarga Hesperonesia dari keluarga bahasa Malayo-Polinesia.

Yang menarik, sejarah kesusastraan bahasa Jawa dapat ditelusuri hingga sekitar abad ke-8. 

Dalam rentang waktu yang panjang itu, bahasa Jawa mengalami perkembangan melalui berbagai fase. Perubahan tersebut berkaitan dengan lingkungan kebudayaan tempat bahasa itu digunakan.

Dengan demikian, bahasa Jawa tidak tumbuh dalam ruang yang kosong. Bahasa berkembang mengikuti perubahan masyarakatnya.

Pusat kebudayaan yang berbeda melahirkan tradisi bahasa dan kesusastraan yang memiliki ciri masing-masing. 

Jejaknya dapat ditemukan dalam prasasti, karya sastra, naskah keagamaan, karya para pujangga, hingga bahasa pergaulan masyarakat.

Koentjaraningrat membedakan bahasa Jawa berdasarkan penggunaannya menjadi bahasa kesusastraan dan bahasa sehari-hari. Bahasa kesusastraan kemudian dapat dilihat melalui enam fase perkembangan.

Enam fase bahasa kesusastraan Jawa

Fase pertama adalah Bahasa Jawa Kuno.

Bahasa ini digunakan dalam prasasti-prasasti kraton sekitar abad ke-8 hingga abad ke-10. Bahasa Jawa Kuno juga digunakan dalam karya kesusastraan antara abad ke-10 hingga abad ke-14.

Sebagian besar naskah Jawa Kuno yang masih dikenal sekarang berasal dari Jawa Timur. Bentuk kesusastraannya banyak berupa puisi yang dikenal sebagai kakawin.

Fase kedua adalah Bahasa Jawa Kuno dalam kesusastraan Jawa-Bali.

Tradisi kesusastraan tersebut berkembang di Bali dan Lombok sejak sekitar abad ke-14. Ketika Islam berkembang di Jawa Timur dan kebudayaan Hindu-Jawa mengalami perubahan, sebagian tradisi kebudayaan tersebut berkembang lebih kuat di Bali.

Tradisi kesusastraan Jawa-Bali kemudian bertahan hingga abad ke-20, meskipun bahasa sastra tersebut memiliki perbedaan dengan bahasa yang digunakan masyarakat Bali dalam kehidupan sehari-hari.

Fase ketiga berkaitan dengan kesusastraan Islam di Jawa Timur.

Perkembangan Islam membawa perubahan besar terhadap lingkungan kebudayaan Jawa. Koentjaraningrat menghubungkan perkembangan kesusastraan tersebut dengan kawasan aliran Sungai Brantas dan bagian hilir Bengawan Solo pada abad ke-16 dan ke-17.

Fase keempat adalah kesusastraan dalam kebudayaan Jawa-Islam di daerah Pesisir.

Kota-kota pantai utara Jawa menjadi pusat penting perkembangan kebudayaan tersebut. Orang Jawa kemudian mengenal istilah kebudayaan Pesisir.

Di dalam lingkungan Pesisir sendiri terdapat perbedaan. Pesisir yang berpusat di Cirebon memiliki karakter berbeda dengan Pesisir Timur yang berpusat di kota-kota seperti Demak, Kudus, dan Gresik.

Fase kelima adalah bahasa kesusastraan di lingkungan Kerajaan Mataram.

Bahasa tersebut digunakan dalam karya para pujangga kraton pada abad ke-18 dan ke-19. Lingkungan kebudayaannya berkaitan dengan kawasan pedalaman Jawa Tengah dan wilayah aliran Bengawan Solo.

Fase keenam adalah Bahasa Jawa masa kini, yang digunakan dalam percakapan sehari-hari serta dalam buku, surat kabar, dan berbagai bentuk tulisan berbahasa Jawa.

Pembagian tersebut menunjukkan bahwa sejarah bahasa Jawa berjalan bersama sejarah masyarakat Jawa. 

Perubahan agama, pusat kekuasaan, wilayah kebudayaan, dan perkembangan sosial ikut membentuk perjalanan bahasanya. 

Pembagian enam fase ini juga dikutip dalam sejumlah kajian akademik yang merujuk pada halaman 17–18 Kebudayaan Jawa.

Dari tulisan Palawa menuju aksara Jawa

Bahasa dan tulisan merupakan dua hal yang berbeda. Bahasa digunakan untuk berkomunikasi, sementara tulisan menjadi salah satu cara untuk merekam bahasa dan kebudayaan.

Koentjaraningrat menjelaskan bahwa masyarakat Jawa telah mengenal berbagai bentuk tulisan sepanjang sejarah kesusastraannya.

Ada legenda terkenal mengenai Aji Saka yang dikaitkan dengan asal-usul aksara Jawa. Legenda tersebut menghasilkan susunan dua puluh aksara yang dikenal luas dengan kalimat Hanacaraka datasawala padhajayanya magabathanga.

Di luar legenda tersebut, terdapat penjelasan berdasarkan kajian epigrafi. Menurut uraian Koentjaraningrat, tulisan Jawa memiliki hubungan dengan perkembangan tulisan Sanskerta Dewanagari dari India Selatan dan tradisi tulisan Palawa.

Tulisan tersebut kemudian mengalami perubahan dalam perjalanan sejarahnya. Bentuk huruf yang digunakan dalam prasasti Jawa mengalami perkembangan hingga muncul bentuk-bentuk yang memiliki ciri khas Jawa.

Pada masa berikutnya, huruf Jawa kembali mengalami perubahan. Bentuk yang kemudian diajarkan di sekolah-sekolah Jawa Tengah dan Jawa Timur berkembang dari tradisi kesusastraan zaman Mataram abad ke-18 dan ke-19.

Selain aksara Jawa, terdapat pula tulisan pegon atau gundhil. Bentuk tulisan ini menggunakan huruf Arab yang disesuaikan dengan kebutuhan bahasa Jawa. 

Penggunaannya terutama berkaitan dengan karya-karya kesusastraan yang memiliki corak Islam.

Kemudian, huruf Latin semakin banyak digunakan. Buku, majalah, dan surat kabar berbahasa Jawa pada masa modern banyak diterbitkan dengan huruf Latin.

Di bagian ini Koentjaraningrat juga memberikan catatan mengenai perubahan kemampuan membaca dan menulis aksara Jawa. 

Ia melihat adanya kecenderungan menurunnya penguasaan aksara tersebut di kalangan generasi Jawa pada masa itu.

Bahasa Jawa dan tingkat kesopanan

Salah satu ciri yang paling dikenal dari bahasa Jawa adalah adanya tingkat bahasa.

Menurut Koentjaraningrat, sistem tingkat bahasa Jawa berkaitan dengan hubungan sosial antara orang yang berbicara dan orang yang diajak berbicara.

Perbedaan umur, kedudukan, pangkat, dan tingkat keakraban ikut menentukan gaya bahasa yang digunakan.

Tiga gaya dasar yang disebut dalam buku tersebut adalah Ngoko, Madya, dan Krama.

Ngoko berkaitan dengan gaya yang lebih tidak resmi. Madya berada di tingkat pertengahan. Sementara Krama digunakan dalam situasi yang lebih resmi.

Di luar ketiga gaya dasar tersebut terdapat berbagai bentuk kombinasi. Karena itu, sistem tingkat bahasa Jawa dapat menjadi sangat rumit.

Ada pula kosakata khusus yang dikenal sebagai Krama Inggil. Koentjaraningrat menyebut jumlahnya sekitar 300 kata yang digunakan untuk membicarakan bagian tubuh, kepemilikan, tindakan, atau sifat orang yang memiliki kedudukan tertentu dalam hubungan sosial.

Bahasa dengan demikian tidak hanya menyampaikan isi pembicaraan. Pilihan kata juga menyampaikan hubungan antara pembicara dan lawan bicara.

Ketika seseorang memilih ngoko atau krama, pilihan itu dapat menunjukkan bagaimana ia menempatkan dirinya dalam hubungan sosial.

Bahasa juga merekam perubahan masyarakat

Sistem bahasa bertingkat tersebut menghadapi persoalan ketika masyarakat Jawa mengalami perubahan sosial.

Pendidikan, mobilitas sosial, perubahan ekonomi, dan munculnya masyarakat modern membuat hubungan sosial tidak lagi selalu mengikuti pola tradisional.

Seseorang yang lebih tua belum tentu memiliki kedudukan sosial lebih tinggi. Orang yang lebih muda bisa memiliki kekayaan atau jabatan yang lebih tinggi. Hubungan sosial menjadi lebih cair.

Situasi seperti itu membuat penentuan gaya bahasa menjadi semakin rumit.

Koentjaraningrat mencatat adanya gerakan Djawa Dipo yang mulai berkembang sejak 1916. Gerakan ini menginginkan penghapusan sistem gaya bahasa bertingkat dan mengusulkan penggunaan Ngoko sebagai dasar bahasa Jawa.

Gerakan tersebut mendapat reaksi dari kalangan bangsawan yang justru menganggap Krama lebih layak dipertahankan.

Setelah Perang Dunia II, perubahan masyarakat berlangsung semakin kuat. Generasi baru tidak lagi selalu menguasai sistem bahasa bertingkat sebagaimana generasi sebelumnya.

Di sini terlihat bahwa bahasa mengikuti perubahan masyarakat. Ketika struktur sosial berubah, cara manusia berbicara juga ikut berubah.

Jawa memiliki banyak logat

Bahasa Jawa juga tidak memiliki satu bentuk pengucapan yang seragam di seluruh Pulau Jawa.

Koentjaraningrat menjelaskan adanya berbagai logat yang berkembang berdasarkan wilayah geografis.

Salah satu faktor yang mungkin memengaruhi perkembangan logat adalah sungai. Pada masa lalu sungai menjadi jalur perhubungan. 

Masyarakat yang tinggal dalam satu daerah aliran sungai dapat memiliki hubungan lebih intensif sehingga bahasa mereka memiliki persamaan tertentu.

Sebaliknya, masyarakat yang hidup di lembah sungai berbeda dapat mengembangkan ciri bahasa yang berbeda pula.

Kondisi geografis Pulau Jawa kemudian melahirkan sejumlah kawasan linguistik.

Banyumas dan Solo-Yogya

Di bagian barat wilayah kebudayaan Jawa terdapat kawasan aliran Sungai Serayu. Dari wilayah tersebut berkembang logat Banyumas.

Logat ini mempunyai ciri pengucapan yang berbeda dari bahasa Jawa yang digunakan di kawasan lain.

Sementara itu, di daerah aliran Sungai Opak dan Progo serta bagian hulu Bengawan Solo berkembang logat Jawa Tengah Solo-Yogya.

Kawasan Solo-Yogya mempunyai kedudukan khusus dalam uraian Koentjaraningrat karena wilayah tersebut merupakan pusat kebudayaan kraton.

Bahasa yang digunakan di lingkungan ini memiliki sistem tingkat bahasa yang sangat rumit. 

Karena hubungannya dengan pusat kebudayaan kraton, logat Solo-Yogya kemudian sering dipandang sebagai bentuk bahasa Jawa yang dianggap paling beradab dalam perspektif kebudayaan tradisional tersebut.

Pesisir memiliki karakter berbeda

Di sebelah utara terdapat logat Jawa Pesisir.

Bahasa masyarakat di kota-kota pantai utara Jawa memiliki kemiripan dengan logat Solo-Yogya, tetapi penggunaan tingkat bahasa tidak serumit yang ditemukan di kawasan pusat kraton.

Bagian barat wilayah Pesisir juga mendapat pengaruh kuat dari kebudayaan dan bahasa Sunda.

Pengaruh tersebut terlihat dalam kawasan Cirebon, Indramayu, Tegal, dan daerah sekitarnya.

Kenyataan ini memperlihatkan bahwa batas bahasa tidak selalu sama dengan batas administratif. Bahasa berkembang melalui perjumpaan masyarakat.

Pelabuhan, perdagangan, perpindahan penduduk, dan hubungan antarwilayah dapat membuat suatu logat menerima pengaruh dari bahasa lain.

Jawa Timur memiliki keragaman sendiri

Kawasan Jawa Tengah kemudian berlanjut ke wilayah Sungai Brantas.

Daerah ini mencakup kawasan sekitar Madiun dan Kediri di bagian barat serta Malang, Lumajang, dan Jember di bagian timur.

Logat yang digunakan di wilayah tersebut banyak dipengaruhi logat Solo-Yogya dan memiliki kemiripan dengannya.

Namun, kawasan delta Brantas, terutama Surabaya, mempunyai ciri logat yang lebih khas.

Semakin ke arah pantai Jawa Timur, pengaruh bahasa Madura semakin terasa. Sementara di ujung timur Jawa, khususnya Banyuwangi dan Blambangan, bahasa Jawa mendapat pengaruh bahasa Bali.

Di sisi paling barat Pulau Jawa terdapat logat Banten. Masyarakat di kawasan tersebut menggunakan bahasa Jawa-Banten sekaligus bahasa Sunda. 

Serang, sebagai pusat wilayah tersebut, lebih banyak menggunakan bahasa Sunda menurut uraian Koentjaraningrat.

Bahasa Jawa adalah peta sosial dan geografis

Dari pembahasan Koentjaraningrat, bahasa Jawa dapat dibaca sebagai semacam peta masyarakat Jawa.

Sejarah kesusastraannya menunjukkan perubahan pusat kebudayaan. Tingkat bahasanya memperlihatkan hubungan sosial. Aksaranya menyimpan jejak perjalanan kebudayaan. 

Sementara logatnya memperlihatkan hubungan antara bahasa dengan kondisi geografis.

Karena itu, memahami bahasa Jawa berarti juga memahami sejarah masyarakat yang menggunakannya.

Bahasa Jawa tidak pernah benar-benar tunggal. Ia memiliki lapisan sejarah, lingkungan sosial, dan variasi wilayah yang panjang.

Ada bahasa kraton dan bahasa rakyat. Ada bahasa kesusastraan dan bahasa percakapan. Ada ngoko dan krama

Ada logat Banyumas, Solo-Yogya, Pesisir, Surabaya, Banyuwangi, hingga Banten.

Semua itu menunjukkan satu hal penting. Kebudayaan Jawa tumbuh dari banyak ruang dan pengalaman.

Bahasa menjadi salah satu bukti paling jelas bahwa masyarakat Jawa memiliki keragaman internal yang kuat. 

Di balik satu nama besar, Jawa, terdapat banyak suara, cara mengucapkan kata, cara menghormati orang lain, dan cara menyimpan pengalaman sejarah.

Sumber

Koentjaraningrat, Kebudayaan Jawa, Jakarta, Balai Pustaka, 1984, halaman 17–24. Buku tersebut merupakan bagian dari Seri Etnografi Indonesia dan memiliki 556 halaman.

Artikel ini merupakan pengolahan kembali gagasan dalam halaman 17–24 berdasarkan halaman buku yang ditampilkan, dengan susunan dan bahasa baru untuk kebutuhan artikel Insight Blitar. Beberapa rincian mengenai enam fase perkembangan bahasa Jawa juga dapat ditemukan dalam sumber akademik lain yang merujuk langsung pada Koentjaraningrat halaman 17–18. 

0 Comments

Tinggalkan jejak komentar di sini