Miss June, dan Semangat Literasinya





Selasa, 2 Juli 2019

Agustus tahun lalu seorang wartawan senior, Imam Prihandyoko, bertanya pada saya tentang Missjune saat kami berjumpa di Jogja. Pertanyaan itu diajukan karena sebelumnya saya memperkenalkan diri dari Blitar.

Saya belum mengenal siapa MissJune, hanya tahu jika ada media online bernama MissJune News yang pernah memuat berita diskusi mingguan Paguyuban Srengenge/ Komunitas Malas Baca sebelum berganti nama menjadi Komunitas Muara Baca.

Baru tahu jika Pak Imam Prihandyoko adalah Pimrednya MissJune News itu. Maka awalnya saya kira MissJune itu adalah nama media, atau nama brand. Sebab selain media online, ada juga MissJune & Friend Cafe, MissJune Company, dan MissJune Cultural Center. Semua menggunakan nama MissJune.

Awal 2019, baru saya ngeh kalau Miss June itu nama orang, tepatnya nama panggilan akrab. Meski sempat mengira jika MissJune itu seorang bule, karena Pak Imam sempat bercerita jika MissJune lama tinggal di New Hamsphire, USA.

Sebenarnya belum lama ini, saya dua kali hadir dalam acara diskusi yang diadakan MissJune, di kafenya. Melihat langsung sosok MissJune, dan belum sempat berbincang, sebab ya terlalu banyak orang yang mengajaknya ngobrol.

Tiba-tiba lewat akun facebooknya, Juni Levesque, mengirim inbox dan menanyakan nomor WA saya. Lantas kami pun ngobrol sekilas via WA dan diundang untuk mampir ke rumahnya.

Baru Jumat lalu (28/6) saya bisa mampir ke rumahnya. Samping rumah beliau didesain seperti mini kafe, bertuliskan MissJune Food and Drink.

Dan terlihat di bagian sisi rumahnya, ada beberapa komputer, yang difungsikan sebagai ruang kerja. Kami berbincang banyak hal, tidak saja tentang literasi.

Sebenarnya MissJune juga seorang pebisnis, ia memiliki toko online. Banyak produk tertera di "etalase" websitenya, dan ia juga bercerita akan meluncurkan produk khusus sabun herbal dalam waktu dekat ini.

Namun yang juga menarik, MissJune sering mengadakan diskusi atau bedah buku, yang penulisnya didatangkan dari Jakarta, yang ternyata juga teman akrabnya.

Bisa jadi karena dulu ia kuliah di UI dan IKIP Jakarta (sekarang UNJ) dan banyak koneksi di Jakarta. Lalu menikah dengan warga negara Amerika dan tinggal 11 tahun di sana. Sekarang memilih menetap dan berkegiatan di Blitar.

Fase perjalanan inilah yang ingin ia bagikan ke saya, terutama rencana besarnya mengelola salah satu tempat di daerah Blitar selatan, yang ingin sekali ia fungsikan sebagai pusat pendidikan dan literasi.

Dalam waktu dekat ini kami diundang untuk membuat kegiatan di tempat itu, yang lokasinya di atas bukit.
Semangat literasinya memang luar biasa, di tengah kesibukannya sebagai Ibu dan, sebut saja, aktivis sosial yang sekaligus pengusaha. []

Salam,
Ahmad Fahrizal Aziz
loading...
loading...

Post a Comment

0 Comments