Jejak Manusia Purba hingga Datangnya Hindu ke Jawa
Jawa memiliki sejarah kebudayaan yang jauh lebih panjang daripada sejarah kerajaan, prasasti, candi, dan kesultanan.
Jauh sebelum dikenal sebagai wilayah dengan kerajaan besar, Pulau Jawa telah dihuni manusia purba yang hidup dari berburu, meramu, menangkap ikan, hingga mengembangkan teknologi pertanian dan pengolahan logam.
Dalam buku Kebudayaan Jawa, Koentjaraningrat menempatkan pembahasan mengenai masa tersebut dalam bagian Sejarah Singkat Kebudayaan Jawa, khususnya subbab Zaman Prehistori.
Uraian pada halaman 30–38 memperlihatkan bagaimana kehidupan manusia di Jawa berkembang secara bertahap, mulai dari masa manusia purba hingga munculnya pengaruh Hindu yang menandai berakhirnya zaman prasejarah di Jawa.
Buku Kebudayaan Jawa karya Koentjaraningrat diterbitkan Balai Pustaka dan termasuk Seri Etnografi Indonesia. Katalog perpustakaan mencatat edisi 1994 memiliki 556 halaman.
Manusia purba di Jawa
Sekitar dua juta tahun lalu, kawasan yang sekarang dikenal sebagai Jawa dan wilayah sekitarnya memiliki lingkungan yang sangat berbeda dibandingkan masa kini.
Dalam uraian Koentjaraningrat, kawasan Dataran Sunda dan Dataran Sahul mengalami curah hujan besar dan ditutupi vegetasi tropis yang lebat.
Di lingkungan tersebut telah hidup manusia purba yang berburu dan menjelajahi lembah-lembah sungai.
Jawa Timur menjadi salah satu kawasan penting dalam penelitian manusia purba.
Fosil ditemukan di sejumlah lokasi seperti Trinil, Ngandong, Sangiran dan sekitar Mojokerto.
Manusia purba yang ditemukan di wilayah tersebut pada masa penelitian awal dikenal dengan nama Pithecanthropus Erectus, yang dalam perkembangan ilmu paleoantropologi lebih sering disebut Homo erectus.
Mereka diperkirakan hidup dalam kelompok kecil. Kehidupan mereka sangat bergantung pada lingkungan alam. Binatang buruan menjadi salah satu sumber makanan, sedangkan sungai dan lembah menyediakan jalur pergerakan sekaligus sumber kehidupan.
Temuan manusia purba di Jawa menjadi bagian penting dalam kajian evolusi manusia di Asia.
Penelitian terhadap situs-situs tersebut menunjukkan bahwa Pulau Jawa telah menjadi ruang kehidupan manusia dalam rentang waktu yang sangat panjang.
Dari batu menjadi alat kehidupan
Salah satu hal penting dalam kehidupan manusia purba adalah kemampuan membuat alat.
Temuan di kawasan Pacitan menunjukkan adanya perkakas batu yang digunakan manusia pada masa prasejarah.
Alat-alat tersebut berkaitan dengan aktivitas memotong, mengolah hasil buruan, mengolah kayu, dan berbagai kebutuhan kehidupan sehari-hari.
Karena ditemukan di lokasi tertentu, perkembangan alat batu kemudian dikenal melalui istilah seperti kebudayaan Pacitan dan kebudayaan Ngandong.
Literatur prasejarah Indonesia juga mencatat Pacitan sebagai salah satu lokasi penting temuan alat batu Paleolitikum.
Perubahan alat memperlihatkan sesuatu yang penting. Manusia tidak hanya bergantung pada benda yang tersedia di alam.
Mereka mulai mengubah batu, tulang, kayu, dan bahan lain menjadi alat yang sesuai dengan kebutuhan.
Dari sinilah teknologi manusia mulai berkembang.
Alat yang tampak sederhana bagi manusia modern sebenarnya menunjukkan kemampuan berpikir, mengamati lingkungan, memilih bahan dan menentukan fungsi sebuah benda.
Kehidupan berburu dan meramu
Pada tahap awal, manusia hidup dengan cara berburu dan meramu. Mereka mengikuti ketersediaan makanan di alam dan belum bergantung pada pertanian menetap seperti masyarakat kemudian.
Kelompok-kelompok kecil menjadi bentuk kehidupan yang memungkinkan manusia bertahan dalam lingkungan yang belum sepenuhnya mereka kuasai.
Sungai mempunyai peranan penting. Lembah sungai dapat menyediakan air, tumbuhan, ikan dan binatang buruan.
Karena itu tidak mengherankan apabila banyak situs manusia purba ditemukan di sekitar aliran sungai.
Bengawan Solo dan kawasan Lembah Brantas menjadi contoh penting dalam sejarah prasejarah Jawa.
Jejak kehidupan manusia juga ditemukan dalam bentuk tempat tinggal dan sisa makanan. Gua serta ceruk batu dapat menjadi tempat berlindung.
Di wilayah pantai, manusia memanfaatkan hasil laut dan meninggalkan tumpukan kulit kerang yang kemudian menjadi petunjuk bagi para arkeolog mengenai pola kehidupan masa lampau.
Dari daratan menuju laut
Kemampuan manusia memanfaatkan lingkungan kemudian berkembang.
Manusia mulai mengenal berbagai cara menangkap ikan dan memanfaatkan sumber makanan di daerah rawa, sungai, muara dan pantai.
Dalam perkembangan berikutnya, mereka mengenal teknologi perahu.
Perahu memungkinkan manusia bergerak lebih jauh melalui perairan. Kemampuan tersebut menjadi bagian penting dalam sejarah persebaran manusia dan kebudayaan di kawasan kepulauan Asia Tenggara.
Hubungan antara daratan dan kepulauan membuat perkembangan budaya di Jawa tidak dapat dipisahkan dari wilayah Asia Tenggara yang lebih luas.
Jawa berada dalam jalur pertemuan berbagai kelompok manusia dan kebudayaan.
Pertemuan tersebut berlangsung selama ribuan tahun sebelum munculnya kerajaan-kerajaan bercorak Hindu.
Munculnya teknologi pertanian
Perubahan besar terjadi ketika manusia mulai mengenal bercocok tanam.
Kehidupan tidak lagi sepenuhnya bergantung pada hasil berburu dan meramu. Manusia mulai menanam tanaman yang dapat digunakan sebagai sumber makanan.
Dalam uraian Koentjaraningrat, salah satu tanaman penting dalam perkembangan masyarakat Nusantara adalah padi.
Kemampuan bercocok tanam kemudian berkembang menjadi pertanian yang semakin teratur.
Padi mempunyai kedudukan penting dalam sejarah masyarakat Jawa karena kemudian menjadi tanaman utama dalam kehidupan ekonomi pedesaan.
Menariknya, penanaman padi dengan sistem pengairan telah dikenal di Jawa sebelum pengaruh Hindu berkembang.
Hal tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Jawa telah memiliki kemampuan mengelola lingkungan sebelum munculnya kerajaan-kerajaan Hindu-Jawa.
Dengan demikian, datangnya pengaruh India bukan berarti masyarakat Jawa sebelumnya tidak memiliki teknologi atau kebudayaan.
Masyarakat lokal telah mengalami proses perkembangan kebudayaan yang panjang.
Kebudayaan perunggu dan Dongson
Gelombang perubahan berikutnya berkaitan dengan penggunaan logam.
Dalam uraian Koentjaraningrat, pengaruh kebudayaan perunggu yang ditemukan di kawasan Dongson, Vietnam Utara, menjadi salah satu unsur penting dalam perkembangan kebudayaan prasejarah Indonesia.
Temuan Dongson antara lain berupa nekara atau genderang perunggu serta berbagai perkakas logam.
Benda-benda perunggu tersebut kemudian ditemukan dalam berbagai wilayah Nusantara.
Nekara menjadi salah satu contoh benda yang menunjukkan tingkat kemampuan teknologi dan hubungan antardaerah pada masa tersebut.
Selain benda upacara, masyarakat juga mulai mengenal berbagai peralatan dari logam.
Perkembangan teknologi logam membawa perubahan dalam kehidupan masyarakat. Kemampuan membuat alat yang lebih beragam mendukung kegiatan pertanian, kerajinan, perdagangan dan kehidupan sosial.
Munculnya pusat-pusat perdagangan
Perkembangan pertanian dan teknologi kemudian diikuti perubahan organisasi sosial.
Masyarakat tidak lagi hanya hidup dalam kelompok-kelompok kecil yang berpindah mengikuti sumber makanan.
Di sejumlah kawasan mulai berkembang komunitas yang lebih menetap.
Wilayah pantai mempunyai posisi penting karena menjadi titik pertemuan antara masyarakat lokal dan pendatang dari wilayah lain.
Pelabuhan-pelabuhan kecil berkembang sebagai pusat pertukaran barang. Hubungan perdagangan memungkinkan benda, teknologi, gagasan dan kepercayaan berpindah dari satu wilayah ke wilayah lainnya.
Jawa berada dalam jaringan tersebut.
Hubungan dengan kawasan Asia Tenggara dan India kemudian semakin kuat. Perdagangan menjadi salah satu jalur penting masuknya berbagai unsur kebudayaan asing ke Nusantara.
Kedatangan Hindu dan berakhirnya zaman prasejarah
Perubahan terbesar terjadi ketika pengaruh India mulai masuk ke kepulauan Indonesia.
Pedagang dari India Selatan, termasuk kelompok Tamil, disebut dalam uraian Koentjaraningrat sebagai salah satu pembawa pengaruh Hindu dan Buddha ke Nusantara.
Pengaruh tersebut kemudian berkembang di Pulau Jawa.
Masuknya Hindu membawa perubahan besar karena masyarakat Jawa mulai mengenal tradisi tulis yang berkaitan dengan kebudayaan India, sistem penanggalan, konsep kerajaan, keagamaan serta berbagai bentuk kebudayaan baru.
Penemuan prasasti dari masa awal Hindu-Jawa menjadi salah satu bukti perubahan tersebut.
Kajian lain yang mengutip Koentjaraningrat menyebut bahwa prasasti dari Jawa Barat menggambarkan aktivitas raja dan pembangunan irigasi serta bangunan keagamaan pada abad ke-4 Masehi.
Dengan hadirnya tulisan dan peninggalan yang dapat digunakan untuk merekonstruksi peristiwa sejarah, batas antara masa prasejarah dan masa sejarah mulai terbentuk.
Koentjaraningrat menempatkan permulaan zaman Hindu sebagai titik yang mengakhiri zaman prasejarah di Jawa.
Artinya, sejarah Jawa tidak dimulai dari kedatangan Hindu. Sebaliknya, Hindu datang setelah masyarakat Jawa melewati perjalanan kebudayaan yang sangat panjang.
Jawa sebelum kerajaan Hindu-Jawa
Dari halaman 30–38 Kebudayaan Jawa, terlihat bahwa kebudayaan Jawa memiliki akar yang jauh lebih tua daripada kerajaan-kerajaan yang kemudian muncul.
Manusia purba telah hidup di Jawa. Mereka berburu dan meramu, membuat perkakas batu, memanfaatkan gua dan sungai, menangkap ikan, membuat perahu, mengembangkan pertanian, mengenal padi, menggunakan teknologi logam dan membangun hubungan perdagangan.
Semua proses tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjang terbentuknya masyarakat Jawa.
Karena itu, ketika membicarakan sejarah kebudayaan Jawa, perhatian tidak cukup diarahkan pada Majapahit, Mataram, Demak atau kerajaan-kerajaan sesudahnya.
Jauh sebelum semua itu, telah ada manusia yang hidup di lembah Bengawan Solo, Brantas, Pacitan dan berbagai wilayah lain di Jawa.
Mereka meninggalkan fosil, perkakas, tempat tinggal dan berbagai jejak kehidupan yang memungkinkan generasi sekarang melihat kembali masa yang berlangsung ratusan ribu hingga jutaan tahun lalu.
Sejarah Jawa pada akhirnya bukan dimulai ketika kerajaan pertama berdiri. Sejarah itu telah berjalan jauh sebelumnya, ketika manusia purba mulai mengenali lingkungannya, membuat alat, mencari makanan, menetap, bertani dan berhubungan dengan masyarakat dari wilayah lain.
Dari proses panjang itulah kemudian terbentuk dasar kehidupan masyarakat yang memasuki zaman sejarah.
Sumber utama
Koentjaraningrat. Kebudayaan Jawa. Jakarta, Balai Pustaka, 1994. Seri Etnografi Indonesia No. 2, khususnya bagian Sejarah Singkat Kebudayaan Jawa, Zaman Prehistori, halaman 30–38. Data bibliografis edisi tersebut tercatat dalam katalog Perpustakaan DPRD DIY.
Untuk struktur buku, katalog UPT Perpustakaan Universitas Sebelas Maret mencatat bahwa bagian kedua buku tersebut memang membahas sejarah singkat kebudayaan Jawa, dimulai dari zaman prehistori kemudian berlanjut ke negara-negara Hindu-Jawa, negara-negara Islam, kolonial Belanda, perkembangan kota, pendidikan dan pergerakan nasional.

0 Comments
Tinggalkan jejak komentar di sini