Kunjungan Sunan Pakubuwono X ke Blitar Tahun 1924

Sumber: Koleksi Tropenmuseum / KITLV via Wikimedia Commons

Pada awal abad ke-20, perjalanan seorang raja bukan hanya urusan seremonial. Di tengah kuatnya cengkeraman pemerintahan kolonial Belanda, setiap langkah penguasa pribumi dapat dimaknai sebagai pesan politik, kebudayaan, bahkan identitas.

Salah satu perjalanan yang masih dapat ditelusuri hingga kini adalah kunjungan Sri Susuhunan Pakubuwono X ke Kompleks Candi Panataran, Kabupaten Blitar, sekitar 23 April 1924. 

Perjalanan tersebut menjadi salah satu lawatan budaya yang terdokumentasi paling baik melalui arsip foto kolonial Belanda.

Kunjungan itu bukan berlangsung di pusat Kota Blitar, melainkan di kawasan Candi Panataran, Desa Panataran, Kecamatan Nglegok. 

Hingga kini, peristiwa tersebut dikenang melalui sejumlah foto arsip koleksi KITLV dan Tropenmuseum yang memperlihatkan rombongan Keraton Surakarta menikmati kawasan candi peninggalan Majapahit.

Kunjungan yang Terdokumentasi

Tidak semua perjalanan tokoh besar pada masa Hindia Belanda memiliki dokumentasi lengkap. Namun lawatan Pakubuwono X ke Blitar termasuk salah satunya.

Sejumlah foto resmi memperlihatkan sang susuhunan bersama rombongan berada di kawasan Candi Panataran. 

Arsip itu diberi keterangan berbahasa Belanda yang menjelaskan kunjungan Pakubuwono X beserta pengiringnya ke candi Hindu di Panataran, Blitar, Jawa Timur.

Foto-foto tersebut kini menjadi sumber sejarah primer yang penting. Beberapa nomor koleksinya antara lain TMnr 60041835, 60041836, dan 60041837. 

Dokumentasi tersebut memperlihatkan suasana kunjungan yang tenang, tanpa agenda politik terbuka, tetapi sarat makna kebudayaan.

Didampingi Permaisuri dan Bangsawan Keraton

Dalam lawatan itu, Pakubuwono X tidak datang seorang diri.

Ia didampingi permaisurinya, GKR Hemas, putri Sultan Hamengkubuwono VII dari Yogyakarta. Rombongan juga terdiri atas para kerabat keraton, bangsawan Surakarta, serta para abdi dalem.

Besarnya rombongan menunjukkan bahwa perjalanan tersebut merupakan agenda resmi Keraton Surakarta, bukan perjalanan pribadi. 

Kehadiran keluarga kerajaan juga memperlihatkan bahwa lawatan ini dirancang sebagai perjalanan budaya sekaligus penghormatan terhadap warisan sejarah Jawa.

Menikmati Keagungan Candi Panataran

Tujuan utama kunjungan ialah menikmati Kompleks Candi Panataran, situs Hindu terbesar di Jawa Timur yang berkembang pada masa Kerajaan Majapahit.

Pada masa itu, Panataran telah lama menarik perhatian para arkeolog Belanda karena kelengkapan bangunan, relief, dan nilai sejarahnya.

Pakubuwono X bersama rombongan berjalan menyusuri kawasan candi, mengamati arsitektur batu yang masih berdiri kokoh, serta menikmati relief-relief yang menghiasi bangunan utama.

Salah satu bagian yang diduga mendapat perhatian ialah relief kisah Ramayana pada Candi Induk. Relief tersebut menjadi mahakarya seni pahat Jawa Timur yang menunjukkan tingginya peradaban Nusantara berabad-abad sebelum masa kolonial.

Kegiatan lain yang terdokumentasi adalah berfoto bersama di kawasan candi. Foto-foto itulah yang kemudian menjadi arsip resmi dan masih dapat dinikmati hingga sekarang.

Tidak Ada Agenda Politik Terbuka

Berbeda dengan kunjungan pejabat kolonial yang biasanya diisi inspeksi pemerintahan atau proyek pembangunan, lawatan Pakubuwono X ke Blitar tidak mencatat adanya pertemuan resmi dengan pejabat daerah.

Tidak ditemukan arsip mengenai kunjungan ke pasar, masjid, kantor pemerintahan, maupun kegiatan politik lainnya.

Karena itu, para sejarawan menilai perjalanan tersebut lebih bersifat budaya, simbolis, dan rekreasional.

Namun pada masa penjajahan, kegiatan budaya pun sering memiliki makna yang jauh lebih dalam.

Bagian dari Lawatan Akbar

Perjalanan ke Blitar merupakan satu mata rantai dari rangkaian lawatan besar Pakubuwono X ke berbagai daerah di Jawa Timur.

Sejak awal dekade 1920-an, beliau aktif mengunjungi berbagai kota.

Pada 1922, rombongan keraton mengunjungi Madiun dan beberapa wilayah lain.

Sekitar 1924, selain ke Blitar, beliau juga melakukan perjalanan besar ke Malang. Lawatan tersebut bahkan menarik perhatian Gubernur Jenderal Dirk Fock karena sambutan masyarakat yang luar biasa.

Beberapa tahun kemudian, pada 1927, perjalanan dilanjutkan ke Gresik, Surabaya, hingga Bangkalan di Madura.

Semua perjalanan itu memperlihatkan bahwa Pakubuwono X bukan penguasa yang hanya tinggal di dalam keraton. Ia memilih hadir langsung di tengah masyarakat.

Membangkitkan Ingatan terhadap Majapahit

Salah satu tujuan penting lawatan tersebut ialah membangkitkan kembali kesadaran masyarakat terhadap kejayaan sejarah Jawa.

Candi Panataran bukan dipilih secara kebetulan.

Pada masa Majapahit, kompleks ini merupakan tempat pemujaan penting kerajaan. Keberadaannya melambangkan kebesaran peradaban Jawa Timur.

Dengan mengunjungi Panataran, Pakubuwono X seolah menghubungkan Kasunanan Surakarta dengan mata rantai sejarah panjang kerajaan-kerajaan Jawa.

Pesan simboliknya cukup jelas. Bangsa yang memiliki sejarah besar tidak boleh kehilangan kepercayaan diri meskipun sedang hidup di bawah penjajahan.

Disambut Antusias Rakyat

Salah satu alasan pemerintah kolonial sering merasa khawatir terhadap perjalanan Pakubuwono X adalah besarnya antusiasme masyarakat.

Meskipun perjalanan itu sering disebut sebagai kunjungan incognito, kenyataannya rakyat hampir selalu mengenali kedatangan beliau.

Di berbagai daerah, masyarakat berbondong-bondong menyaksikan rombongan keraton.

Popularitas Pakubuwono X jauh melampaui batas wilayah Surakarta. Banyak rakyat memandangnya sebagai lambang kepemimpinan Jawa yang masih memiliki wibawa di tengah dominasi kolonial.

Situasi inilah yang membuat pemerintah Belanda beberapa kali mengkritik perjalanan tersebut. Alasan resmi yang dikemukakan biasanya menyangkut biaya perjalanan atau aturan administratif. Namun di balik itu terdapat kekhawatiran terhadap pengaruh sosial dan politik sang susuhunan.

Simbol Nasionalisme Kebudayaan

Pakubuwono X dikenal sebagai raja yang mampu bergerak hati-hati di tengah tekanan kolonial.

Beliau jarang melakukan konfrontasi terbuka terhadap Belanda. Namun melalui kegiatan budaya, pendidikan, dan perjalanan ke berbagai daerah, ia menunjukkan bahwa identitas Jawa tetap hidup.

Lawatan ke Panataran dapat dipahami sebagai bentuk nasionalisme kebudayaan.

Dengan mengunjungi peninggalan Majapahit, beliau mengingatkan masyarakat bahwa Nusantara memiliki peradaban besar jauh sebelum kedatangan bangsa Eropa.

Kesadaran sejarah seperti inilah yang kemudian ikut menyuburkan rasa kebangsaan pada awal abad ke-20.

Warisan yang Masih Dapat Dilihat

Hingga kini, kunjungan Pakubuwono X ke Blitar masih dapat ditelusuri melalui arsip foto kolonial yang tersimpan di KITLV dan Tropenmuseum.

Foto-foto tersebut bukan hanya merekam perjalanan seorang raja, melainkan juga menggambarkan hubungan antara keraton, masyarakat, dan warisan budaya Jawa.

Di sisi lain, belum banyak arsip lokal yang memberikan rincian tambahan mengenai kunjungan tersebut. Karena itu, dokumentasi dari koleksi Belanda masih menjadi rujukan utama bagi para peneliti.

Apabila di masa mendatang ditemukan arsip dari pemerintah daerah, keraton, atau koleksi pribadi masyarakat Blitar, sangat mungkin kisah lawatan tahun 1924 ini akan semakin lengkap.

Meski berlangsung lebih dari seabad lalu, perjalanan Pakubuwono X ke Candi Panataran tetap memiliki arti penting. Lawatan itu menunjukkan bahwa menjaga ingatan terhadap sejarah merupakan bagian dari menjaga jati diri. 

Di tengah kekuasaan kolonial, seorang raja memilih berjalan di antara batu-batu candi peninggalan leluhurnya, seakan mengingatkan bahwa sebuah bangsa dapat kehilangan kekuasaan, tetapi tidak boleh kehilangan ingatan terhadap akar peradabannya.

0 Comments

Tinggalkan jejak komentar di sini

Artikel Terbaru
Lihat semua →

Memuat artikel...

Artikel Terbaru
Lihat semua →

Memuat artikel...