Dari kejauhan, Gunung Pegat di Blitar tampak seperti piramida. Sudutnya tegas. Siluetnya rapi. Apalagi jika dilihat dari arah timur laut saat matahari turun—bayangan membentuk garis lurus yang jarang dimiliki bukit biasa.
Namun belum ada kajian ilmiah serius yang menelisik apakah ia hanya bentang alam biasa atau menyimpan struktur yang lebih kompleks.
Di Jawa, dua situs lain—Candi Borobudur dan Gunung Padang—sudah lama masuk radar penelitian, bahkan menjadi rujukan dunia.
Sementara Gunung Pegat masih hidup dalam cerita warga soal “pegatan” pengantin, jalur yang dipercaya memisahkan takdir, hingga kisah pertapaan era Majapahit.
Perbandingan ini bukan untuk menyamakan secara gegabah, tetapi untuk menunjukkan satu kemungkinan ada ruang kosong dalam peta penelitian purbakala di Blitar.
Borobudur, Dari Gundukan Tanah Menjadi Warisan Dunia
Kisah Candi Borobudur dimulai bukan sebagai candi megah, melainkan seperti bukit yang terlupakan.
Tahun 1814, saat Thomas Stamford Raffles memerintahkan pencarian situs kuno, yang ditemukan hanyalah gundukan tanah tertutup semak dan batu berserakan.
Pembersihan awal oleh H. C. Cornelius membuka sedikit demi sedikit struktur bertingkat yang terkubur berabad-abad. Namun bentuk utuhnya belum terlihat jelas.
Pemugaran resmi dimulai pada 1907–1911 di bawah Theodoor van Erp. Ia menyusun ulang batu, memperbaiki stupa, dan mengembalikan sebagian struktur.
Meski terbatas, langkah ini menjadi fondasi penting.
Gelombang besar datang pada 1973–1983. Pemerintah Indonesia bersama UNESCO menjalankan restorasi menyeluruh, membongkar dan memasang ulang jutaan batu, memperbaiki drainase, dan mengatasi kerusakan akibat air serta lumut.
Hasilnya, Borobudur berdiri seperti sekarang—teras berundak, stupa-stupa melingkar, dan satu stupa induk di puncak.
Dimensi aslinya menunjukkan skala yang luar biasa:
Dasar 123 × 123 meter
Tinggi sekitar 35 meter (tanpa puncak chattra)
Struktur 6 teras persegi dan 3 teras melingkar
Yang penting dicatat, sebelum kajian dan pemugaran, Borobudur hanyalah “bukit” yang tidak dipahami sepenuhnya.
Gunung Padang, Antara Sains dan Perdebatan
Berbeda dengan Borobudur yang sudah jelas sebagai candi Buddha abad ke-8–9, Gunung Padang justru berada di wilayah abu-abu antara fakta dan interpretasi.
Situs ini dikenal sebagai punden berundak—teras batu yang mengikuti kontur bukit.
Penelitian intensif pada 2011–2015, termasuk penggunaan radar geofisika dan tomografi seismik, menunjukkan adanya lapisan-lapisan struktur di bawah permukaan.
Sebagian peneliti, seperti Danny Hilman Natawidjaja, mengajukan hipotesis bahwa Gunung Padang mungkin memiliki usia sangat tua, bahkan puluhan ribu tahun.
Klaim ini memicu perdebatan luas di kalangan arkeolog.
Di sisi lain, banyak peneliti tetap melihatnya sebagai situs megalitik khas Nusantara tanpa perlu dikaitkan dengan konsep “piramida purba”.
Namun satu hal tidak terbantahkan, Gunung Padang telah masuk tahap penelitian serius dengan teknologi modern. Ia tidak lagi sekadar legenda.
Gunung Pegat, Antara Bentuk Alam dan Warisan Tersembunyi
Gunung Pegat berada di antara Kecamatan Ponggok dan Srengat, Blitar.
Cirinya mudah dikenali, jalan yang membelah bukit, seolah gunung itu “dipisahkan”.
Dari situlah nama “Pegat” dipercaya berasal.
Secara geologi, bentuknya dapat dijelaskan sebagai perbukitan batu kapur yang tererosi dan terpotong struktur sesar.
Proses alam ini bisa menghasilkan siluet tajam menyerupai piramida.
Namun pertanyaan muncul ketika membandingkan dengan dua situs sebelumnya:
Borobudur dulu juga tampak seperti bukit biasa
Gunung Padang juga awalnya dianggap formasi alami
Apakah Gunung Pegat sepenuhnya alami? Atau ada kemungkinan intervensi manusia di masa lampau?
Saat ini belum ada jawaban ilmiah. Tidak ada ekskavasi arkeologi besar. Tidak ada survei geofisika mendalam. Yang ada justru cerita turun-temurun:
- pasangan pengantin yang melewati jalan ini diyakini berpisah
- lokasi ritual leluhur
- tempat pertapaan pada masa kerajaan.
- Cerita ini hidup kuat, tetapi belum diuji dengan metode ilmiah.
Tiga Situs, Tiga Tahap Peradaban
Jika disusun dalam satu garis perkembangan, ketiganya membentuk pola menarik.
Candi Borobudur
Sudah diteliti, dipugar, dan diakui dunia. Representasi peradaban klasik Jawa yang matang.
Gunung Padang
Sedang dikaji dengan teknologi modern. Membuka kemungkinan baru tentang masa prasejarah Nusantara.
Gunung Pegat (Blitar)
Masih berada pada tahap cerita dan persepsi. Potensi ilmiahnya belum disentuh secara serius.
Perbedaan ini bukan soal nilai, tetapi soal perhatian. Borobudur mendapat perhatian internasional.
Gunung Padang memicu rasa ingin tahu ilmuwan. Gunung Pegat belum masuk agenda besar penelitian.
Peluang yang Terbuka di Blitar
Blitar bukan wilayah asing dalam sejarah Jawa. Kawasan ini berada dalam lintasan penting peradaban, dari Mataram Kuno hingga Majapahit.
Banyak situs tersebar, sebagian sudah tercatat, sebagian lain masih tersembunyi dalam lanskap.
Gunung Pegat bisa menjadi pintu masuk penelitian baru. Langkah awal tidak harus besar:
- survei geologi detail
- pemetaan struktur bawah tanah
- studi arkeologi permukaan
Jika ditemukan indikasi struktur buatan, penelitian bisa ditingkatkan.
Jika tidak, setidaknya narasi ilmiah akan menggantikan spekulasi.
Pendekatan ini pernah terjadi pada Borobudur dan Gunung Padang. Keduanya tidak langsung dipahami dalam satu waktu.
Antara Mitos dan Data
Gunung Pegat hari ini berdiri di dua dunia, dunia cerita dan dunia yang belum diteliti.
Mitos tentang “pegatan” memberi identitas kultural. Ia menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat.
Namun tanpa kajian ilmiah, narasi itu berhenti sebagai kepercayaan, bukan pengetahuan.
Sementara itu, contoh dari Candi Borobudur menunjukkan bagaimana sesuatu yang tampak seperti bukit bisa berubah menjadi salah satu situs terbesar di dunia setelah diteliti.
Dan Gunung Padang memperlihatkan bahwa penelitian bisa membuka kemungkinan baru, meski tidak selalu menghasilkan kesimpulan tunggal.
Menunggu Dibuka, atau Tetap Dibiarkan?
Gunung Pegat tidak kekurangan daya tarik. Bentuknya sudah cukup mencuri perhatian. Ceritanya sudah lama hidup. Lokasinya mudah dijangkau.
Yang belum ada hanyalah keputusan untuk menelitinya secara serius.
Jika tidak, Gunung Pegat akan tetap menjadi siluet indah di kejauhan—dipotret, diceritakan, lalu dilupakan dalam kerangka ilmiah.
Namun jika suatu saat penelitian dimulai, ada kemungkinan narasinya berubah.
Dari sekadar bukit yang “terbelah”, menjadi bagian dari peta panjang peradaban Jawa. []
Insight Blitar Team




0 Comments
Tinggalkan jejak komentar di sini