Cara Mengatasi Burung Blekok di Alun-alun Kota

Sumber: Mongabay


Burung blekok sawah dikenal dalam literatur sebagai Ardeola speciosa (Javan pond-heron), tiba-tiba menjadi aktor utama di banyak alun-alun kota di Jawa. 

Jika dulu ia identik dengan sawah dan rawa, kini koloni besar justru memilih pohon beringin di ruang publik sebagai tempat bermalam. 

Pemandangan ratusan hingga ribuan burung bertengger di satu titik menjadi atraksi tersendiri. 

Namun di bawahnya, jalanan dan trotoar jadi licin, bau menyengat, dan keluhan warga yang tak kunjung reda.

Fenomena ini bukan kebetulan. Ia lahir dari pertemuan antara perubahan lanskap, adaptasi satwa, dan kebijakan ruang kota yang belum sepenuhnya siap.

Profil Singkat, Burung Air yang Lincah dan Adaptif

Blekok termasuk famili bangau dan kuntul. Tubuhnya ramping, panjang sekitar 45 sentimeter, dengan paruh kuning berujung gelap. 

Pada musim biasa, bulunya cokelat pucat, menyatu dengan warna lumpur dan rerumputan. 

Saat musim kawin, penampilannya berubah drastis menjadi putih terang dengan aksen hitam-kuning di kepala.

Ia pemburu sabar. Tekniknya dikenal sebagai stand-and-wait: diam, lalu menyambar mangsa dalam sekejap. 

Menu hariannya meliputi ikan kecil, katak, kepiting, hingga serangga air—semuanya adalah organisme yang kerap dianggap hama oleh petani.

Di sinilah peran ekologisnya terlihat jelas. Di area persawahan, blekok membantu menekan populasi hama tanpa bahan kimia. Dalam bahasa sederhana: ia bekerja tanpa upah, tanpa pestisida.

Dari Sawah ke Kota, Pergeseran Habitat

Secara alami, blekok hidup di lahan basah: sawah irigasi, rawa, tepian sungai, dan mangrove. 

Persebarannya luas di Indonesia—Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, hingga Nusa Tenggara.

Namun lanskap berubah cepat. Alih fungsi lahan, pembangunan perumahan, dan berkurangnya area basah membuat ruang hidup mereka menyempit. Dalam kondisi ini, blekok tidak punah—ia beradaptasi.

Kota menyediakan alternatif kanal air, genangan, bahkan saluran drainase yang masih menyimpan makanan. 

Sementara untuk beristirahat, mereka butuh pohon besar. Dan di banyak kota Jawa, jawabannya sama, yaitu beringin di alun-alun.

Mengapa Beringin Jadi Favorit?

Pohon beringin—terutama Ficus benjamina (weeping fig)—bukan hanya simbol budaya, tapi juga struktur biologis yang ideal bagi burung koloni.

Beberapa alasan utamanya

1. Kanopi rapat
Daun yang lebat memberi perlindungan dari hujan dan angin, sekaligus menyamarkan posisi dari predator.

2. Cabang bertingkat dan saling terhubung
Burung bisa berpindah tanpa harus terbang jauh, menghemat energi.

3. Lokasi strategis
Alun-alun biasanya dekat dengan sumber makanan, sawah pinggiran, sungai kecil, atau drainase kota.

4. Stabil dan tahan lama
Beringin adalah pohon tua dengan akar kuat. Ini penting untuk koloni yang bisa menetap bertahun-tahun.

5. Minim gangguan malam hari
Meski siang ramai, malam hari relatif tenang—waktu ideal untuk roosting.

Dalam ekologi burung air, perilaku berkumpul di satu titik ini disebut rookery. Di Indonesia, fenomena rookery urban semakin sering terlihat.

Ketika Keindahan Berubah Jadi Masalah

Di atas pohon, blekok terlihat anggun. Di bawahnya, cerita berbeda.

Kotoran burung—dikenal sebagai guano—menjadi sumber keluhan utama. Warnanya putih keabu-abuan, teksturnya lengket, dan jumlahnya besar. 

Dalam satu malam, satu koloni bisa menghasilkan tumpukan signifikan.

Dampaknya:

  • Bau menyengat akibat kandungan amonia
  • Permukaan licin yang berisiko bagi pejalan kaki dan pengendara
  • Noda permanen pada fasilitas publik
  • Potensi kesehatan, termasuk bakteri seperti Salmonella

Di Blitar, misalnya, area alun-alun utara dan selatan menjadi titik utama. Petugas kebersihan bekerja setiap hari, namun kotoran kembali muncul setiap malam.

Dampak ekonomi pun terasa:

  • Biaya pembersihan meningkat
  • Pengunjung berkurang
  • Kegiatan publik terganggu

Konflik muncul, warga ingin nyaman, tetapi burung tidak bisa diusir begitu saja.

Status Hukum, Tidak Bisa Ditangani Sembarangan

Blekok termasuk satwa yang dilindungi. Perlindungan ini mengacu pada Undang-Undang No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati.

Artinya:

  • Tidak boleh dibunuh
  • Tidak boleh dirusak sarangnya
  • Tidak boleh dipindahkan secara sembarangan

Kebijakan ini penting untuk menjaga biodiversitas, tetapi di lapangan sering menimbulkan dilema. 

Pemerintah daerah harus mencari jalan tengah menjaga satwa, sekaligus menjaga kenyamanan warga.

Upaya Penanganan di Indonesia

Beberapa langkah yang sudah dilakukan:

1. Alat pengusir suara dan visual
Menggunakan suara bising atau objek bergerak. Efeknya terbatas karena burung cepat beradaptasi.

2. Pemangkasan pohon
Dilakukan secara selektif untuk mengurangi kepadatan kanopi.

3. Pembersihan rutin
Solusi jangka pendek, tetapi tidak menyelesaikan sumber masalah.

Hasilnya belum maksimal. Koloni sering kembali setelah beberapa waktu.

Belajar dari Negara Lain

Beberapa negara menghadapi masalah serupa dan menawarkan pendekatan lebih sistematis.

Amerika Serikat

Melalui U.S. Fish and Wildlife Service, strategi utama adalah habitat modification.

Intinya:

  • Membuka kanopi pohon
  • Mengurangi cabang horizontal
  • Membersihkan area bawah

Hasilnya signifikan koloni tidak kembali di musim berikutnya.

Korea Selatan

Pendekatan berbasis GIS digunakan untuk memprediksi lokasi rookery. Dengan data ini, pemerintah bisa mengatur lanskap kota agar tidak menarik koloni besar.

Australia dan Singapura

Menggunakan kombinasi:

  • Jaring pelindung (netting)
  • Laser pengusir burung
  • Pengelolaan vegetasi

Dalam 2–3 tahun, volume kotoran bisa turun drastis.

Strategi yang Bisa Diterapkan di Indonesia

Menggabungkan pengalaman global dengan kondisi lokal, beberapa langkah realistis:

1. Pemangkasan terencana
Dilakukan sebelum musim kawin, agar tidak melanggar hukum.

2. Pengurangan daya tarik pohon
Membuka sebagian kanopi tanpa merusak pohon.

3. Penggunaan deterrent non-mematikan
Laser, suara alami, atau metode visual yang dirotasi.

4. Penyediaan habitat alternatif
Menanam pohon di pinggiran kota dekat lahan basah sebagai lokasi baru.

5. Monitoring rutin
Melibatkan kampus dan komunitas pengamat burung.

6. Edukasi publik
Menjelaskan bahwa burung ini punya fungsi ekologis penting.

Antara Ekologi dan Ruang Kota

Masalah blekok bukan hanya soal burung. Ini tentang bagaimana kota berkembang.

Ketika sawah menyusut, burung mencari tempat baru. Ketika ruang publik didesain tanpa mempertimbangkan satwa, konflik muncul.

Alun-alun, dalam sejarahnya, adalah ruang bersama—bukan hanya untuk manusia, tapi juga makhluk lain. Namun dalam praktik modern, batas itu menjadi kabur.

Jalan Tengah yang Diperlukan

Mengusir total bukan solusi. Membiarkan tanpa kontrol juga bukan pilihan.

Pendekatan yang dibutuhkan:

  • Ilmiah
  • Bertahap
  • Tidak merusak
  • Melibatkan banyak pihak

Blekok tetap bisa hidup. Kota tetap bisa bersih.

Burung blekok adalah indikator ketika ia pindah ke kota, ada sesuatu yang berubah di habitat aslinya. Kehadirannya membawa manfaat sekaligus tantangan.

Alun-alun yang dipenuhi kotoran mungkin terasa mengganggu. Tapi di balik itu, ada cerita lebih besar—tentang perubahan lingkungan, adaptasi, dan cara manusia meresponsnya. []

0 Comments

Tinggalkan jejak komentar di sini