Bung Karno dan Sastra, Dari Max Havelaar hingga Pancasila




Nama Bung Karno selalu dikaitkan dengan perjuangan kemerdekaan, pidato politik, dan lahirnya Republik Indonesia. Namun ada sisi lain yang sering luput dari perhatian. 

Ia adalah seorang pembaca yang tekun dan pecinta sastra yang menjadikan buku sebagai salah satu sumber utama pembentukan pemikirannya.

Hubungan Bung Karno dengan sastra bukanlah hubungan yang dangkal. Sastra ikut membentuk pandangan hidupnya, memengaruhi cara ia berbicara kepada rakyat, bahkan memberi sumbangan penting dalam perumusan gagasan kebangsaan Indonesia. 

Jejak pengaruh sastra dapat ditemukan dalam pidato-pidatonya, kebijakan kebudayaannya, hingga pemilihan istilah Pancasila sebagai dasar negara.

Sejak masa muda, Bung Karno dikenal gemar membaca berbagai jenis buku. Ia tidak hanya mempelajari politik dan filsafat, tetapi juga karya sastra dari dalam maupun luar negeri. 

Salah satu buku yang disebut memiliki pengaruh besar terhadap kesadaran politiknya adalah Max Havelaar karya Multatuli atau Eduard Douwes Dekker.

Novel yang terbit pada tahun 1860 itu menggambarkan penderitaan rakyat Jawa di bawah sistem kolonial Belanda. Melalui cerita yang tajam dan menyentuh, pembaca diajak melihat ketidakadilan yang dialami masyarakat pribumi. 

Bagi generasi pergerakan nasional, buku tersebut menjadi salah satu karya yang membuka mata mengenai wajah kolonialisme. Bung Karno termasuk tokoh yang tumbuh dalam iklim intelektual yang dipengaruhi oleh bacaan semacam itu.

Namun sumber inspirasi Bung Karno tidak hanya berasal dari Barat. Ia juga menaruh perhatian besar pada warisan sastra Nusantara. 

Karya-karya klasik Jawa dan Bali menjadi bagian penting dari dunia intelektualnya. Salah satu yang paling terkenal adalah Kakawin Sutasoma karya Mpu Tantular yang ditulis pada masa Majapahit.

Dari karya inilah lahir istilah “Pancasila” yang kemudian digunakan Bung Karno dalam sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945. 

Bung Karno tidak ingin Indonesia berdiri dengan meniru bangsa lain. Ia berusaha menggali nilai-nilai yang telah hidup dalam tradisi Nusantara untuk dijadikan dasar kehidupan berbangsa.

Ketertarikan Bung Karno terhadap sastra klasik juga tampak dalam gaya pidatonya. Ia sering menggunakan kisah wayang sebagai ilustrasi politik dan kepemimpinan. 

Tokoh-tokoh dari Mahabharata dan Ramayana kerap muncul dalam berbagai pidato kenegaraan. Bagi Bung Karno, cerita-cerita tersebut adalah sumber kebijaksanaan yang masih relevan bagi masyarakat modern.

Dalam perjalanan hidupnya, Bung Karno juga memiliki hubungan dekat dengan sejumlah sastrawan. Salah satu yang paling dikenal adalah Mohammad Yamin. 

Selain aktif dalam pergerakan nasional, Yamin merupakan penyair dan penulis yang memberi warna penting dalam perkembangan sastra Indonesia modern. 

Kedekatan keduanya terlihat dalam berbagai momentum sejarah, mulai dari Sumpah Pemuda hingga perumusan dasar negara.

Bung Karno juga berhubungan dengan para ahli sastra dan budaya yang membantu menjelaskan berbagai istilah serta simbol dalam tradisi Nusantara. 

Salah satunya adalah I Gusti Bagus Sugriwa, seorang penerjemah dan pakar sastra Bali yang banyak mengkaji karya-karya Jawa Kuno. Kehadiran para intelektual seperti ini memperkaya wawasan budaya Bung Karno.

Selain membaca sastra Nusantara, Bung Karno juga mengikuti perkembangan pemikiran dunia. Ia diketahui mengenal karya filsuf Jerman Friedrich Nietzsche, terutama buku Also Sprach Zarathustra. 

Ia juga membaca berbagai tulisan mengenai Mahatma Gandhi serta pemikir anti-kolonial lainnya. Bacaan yang luas membuat cara berpikirnya tidak terjebak pada satu tradisi intelektual tertentu.

Pengaruh sastra tidak hanya terlihat pada apa yang dibaca Bung Karno, tetapi juga pada cara ia menulis dan berbicara. 

Banyak pidatonya dipenuhi metafora, simbol, dan pengulangan kalimat yang kuat. Ia mampu mengubah gagasan politik yang rumit menjadi bahasa yang mudah dipahami rakyat.

Karena itu, banyak pengamat menilai pidato-pidato Bung Karno memiliki kualitas sastra yang tinggi. Orasinya bukan hanya menyampaikan informasi, tetapi juga membangun imajinasi kolektif tentang bangsa Indonesia. 

Kalimat-kalimatnya dirancang untuk menggugah perasaan, menanamkan harapan, dan membangkitkan keberanian.

Pandangan Bung Karno terhadap sastra semakin terlihat ketika ia memimpin Indonesia. Pada masa Demokrasi Terpimpin, kebudayaan ditempatkan sebagai bagian penting dari revolusi nasional. 

Sastra tidak dianggap berdiri sendiri, melainkan memiliki hubungan langsung dengan kehidupan sosial dan politik.

Salah satu langkah nyata yang dilakukan pemerintah saat itu adalah memperluas akses bacaan melalui Balai Pustaka. Ribuan taman bacaan didorong untuk berkembang agar masyarakat lebih mudah memperoleh buku. 

Upaya tersebut menjadi bagian dari gerakan literasi nasional yang bertujuan mengurangi buta huruf dan meningkatkan kualitas pendidikan rakyat.

Di bidang kebudayaan, Bung Karno juga mendorong gagasan bahwa seni harus berpihak kepada rakyat. Ia mendukung pandangan yang melihat sastra sebagai alat perjuangan sosial dan nasional. 

Karena itu, kelompok-kelompok kebudayaan yang mengusung semangat revolusi memperoleh ruang yang cukup besar pada masa tersebut.

Di sisi lain, perdebatan mengenai hubungan antara seni dan politik juga semakin tajam. Kelompok Manifesto Kebudayaan yang menekankan kebebasan berekspresi dan humanisme universal berhadapan dengan kelompok yang menganggap seni harus tunduk pada tujuan revolusi. 

Ketegangan itu mencapai puncaknya ketika kegiatan Manifesto Kebudayaan dilarang pada tahun 1964.

Terlepas dari berbagai kontroversi politik yang menyertainya, satu hal yang sulit dibantah adalah besarnya perhatian Bung Karno terhadap dunia sastra dan kebudayaan. Ia melihat sastra bukan sebagai kegiatan yang jauh dari kehidupan masyarakat, melainkan sebagai sarana untuk membangun kesadaran bangsa.

Dari novel Max Havelaar hingga Kakawin Sutasoma, dari kisah wayang hingga pidato-pidato revolusi, sastra hadir dalam banyak lapisan kehidupan Bung Karno. Ia membaca, mengutip, mengadaptasi, dan memanfaatkan kekuatan bahasa untuk menggerakkan rakyat. 

Sastra adalah bagian dari perjuangan, identitas, dan cita-cita Indonesia sebagai sebuah bangsa. []

0 Comments

Tinggalkan jejak komentar di sini