Hubungan Bung Karno dengan Blitar terbentang selama lebih dari lima dekade. Dimulai sejak remaja ketika mengikuti orang tuanya pindah ke Blitar, berlanjut ketika menjadi pemimpin bangsa, hingga akhirnya dimakamkan di kota tersebut pada 1970.
Awal Kehidupan Bung Karno di Blitar
Hubungan Bung Karno dengan Blitar bermula sekitar tahun 1917–1919 ketika ayahnya, Raden Soekemi Sosrodihardjo, dipindahtugaskan ke Blitar. Keluarga kemudian menempati sebuah rumah bergaya kolonial yang kini dikenal sebagai Istana Gebang atau Ndalem Gebang, yang berada di Jalan Sultan Agung, Kelurahan Bendogerit, Kecamatan Sananwetan, Kota Blitar.
Saat itu Soekarno berusia sekitar 16 hingga 18 tahun. Ia tinggal bersama kedua orang tuanya, Raden Soekemi Sosrodihardjo dan Ida Ayu Nyoman Rai, serta kakaknya, Soekarmini.
Walaupun kemudian melanjutkan pendidikan di Hogere Burgerschool (HBS) Surabaya dan Technische Hoogeschool (THS) Bandung, Bung Karno hampir selalu pulang ke Blitar setiap liburan sekolah.
Rumah keluarga di Istana Gebang menjadi tempat berkumpul sekaligus melepas rindu bersama orang tua.
Kebiasaan pulang ke Blitar terus berlanjut hingga masa pergerakan nasional. Bahkan pada masa pendudukan Jepang, Soekarno masih sempat berkunjung meski frekuensinya tidak sesering sebelumnya karena kesibukan politik dan perjuangan kemerdekaan.
Kisah Orang Tua Bung Karno
Tahun 1944 menjadi titik penting bagi keluarga Soekarno. Pemerintah Jepang membawa kedua orang tuanya ke Jakarta agar lebih dekat dengan Bung Karno yang saat itu memiliki peran penting dalam pemerintahan pendudukan.
Ayah Bung Karno, Raden Soekemi Sosrodihardjo, wafat pada Mei 1945 di Jakarta. Jenazahnya dimakamkan di TPU Karet sebelum kemudian keluarga memiliki kompleks makam di Blitar.
Sementara itu, sang ibu, Ida Ayu Nyoman Rai, kembali menetap di Blitar setelah Indonesia merdeka. Beliau tinggal di Istana Gebang hingga akhir hayatnya pada tahun 1958.
Selama sang ibu masih hidup, Bung Karno hampir selalu menyempatkan pulang ke Blitar untuk bersilaturahmi.
Kini Istana Gebang telah dipugar dan difungsikan sebagai Museum Situs Istana Gebang. Bangunan tersebut menyimpan berbagai koleksi yang berkaitan dengan kehidupan keluarga Bung Karno dan menjadi salah satu destinasi sejarah utama di Kota Blitar.
Kunjungan Presiden Soekarno ke Blitar
Setelah menjadi Presiden Republik Indonesia, Bung Karno tetap menjaga kedekatan dengan Blitar. Kunjungannya ke Blitar tidak hanya untuk menjalankan agenda kenegaraan, tetapi juga bertemu keluarga serta sungkem kepada ibundanya.
Menurut arsip resmi Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Bung Karno bahkan dapat berkunjung dua hingga tiga kali dalam setahun, terutama sepanjang dekade 1950-an.
Kunjungan Bersejarah Tahun 1953
Salah satu kunjungan yang terdokumentasi dengan baik berlangsung pada 3 November 1953.
Presiden Soekarno tiba menggunakan kereta api di Stasiun Blitar setelah sebelumnya singgah di Stasiun Wlingi. Ribuan masyarakat memadati stasiun untuk menyambut kedatangannya. Barisan tentara turut memberikan penghormatan kepada kepala negara.
Dalam kunjungan tersebut, Bung Karno datang bersama dua anaknya, Guntur Soekarnoputra dan Megawati Soekarnoputri. Setibanya di Istana Gebang, ia langsung menemui ibundanya, Ida Ayu Nyoman Rai, untuk melakukan sungkem sebagai bentuk penghormatan kepada orang tua.
Peristiwa tersebut diabadikan dalam foto-foto resmi Departemen Penerangan Jawa Timur yang kini tersimpan di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur.
Wejangan di Blitar dan Kunjungan ke Candi Penataran
Setahun kemudian, tepatnya 11 November 1954, Bung Karno kembali mengunjungi Blitar.
Dalam kesempatan itu ia memberikan pidato atau wejangan kepada masyarakat yang berkumpul di Stasiun Kereta Api Blitar. Kehadirannya kembali disambut antusias oleh warga.
Kunjungan tersebut juga dimanfaatkan Bung Karno untuk mendatangi Kompleks Candi Penataran, salah satu peninggalan Kerajaan Majapahit terbesar di Jawa Timur.
Sebagai sosok yang sangat menghargai sejarah Nusantara, Bung Karno memang dikenal sering mengunjungi situs-situs bersejarah untuk menggali inspirasi kebangsaan.
Tahun 1955 Menjadi Masa Kunjungan Terpadat
Tahun 1955 menjadi periode ketika Bung Karno paling sering datang ke Blitar.
Saat itu Indonesia tengah menghadapi berbagai agenda besar, mulai dari penyelenggaraan Konferensi Asia-Afrika di Bandung hingga Pemilu pertama Republik Indonesia.
Di tengah kesibukannya sebagai presiden, Bung Karno tetap menyempatkan pulang ke Blitar.
Salah satu momen penting terjadi pada 8 September 1955 ketika Bung Karno berpidato di hadapan masyarakat dari sebuah podium di Alun-alun Blitar. Ribuan warga memenuhi kawasan alun-alun untuk mendengarkan pidato presiden yang terkenal dengan kemampuan orasinya tersebut.
Pidato itu menjadi salah satu dokumentasi penting hubungan Bung Karno dengan masyarakat Blitar.
Tahun 1958, Tahun Duka bagi Bung Karno
Hubungan Bung Karno dengan Blitar semakin kuat karena keberadaan sang ibu yang tinggal di Istana Gebang.
Pada tahun 1958, Bung Karno tercatat melakukan sedikitnya dua kunjungan penting.
Pertama, saat pulang kampung pada masa Lebaran atau Iduladha untuk berkumpul bersama keluarga.
Kedua, setelah ibundanya, Ida Ayu Nyoman Rai, wafat pada 12 September 1958 di Blitar.
Kehilangan sang ibu menjadi pukulan emosional bagi Bung Karno. Ia hadir dalam prosesi pemakaman serta melakukan ziarah di makam ibundanya. Upacara pemakaman tersebut juga terdokumentasi dalam arsip resmi Pemerintah Provinsi Jawa Timur.
Kunjungan Hingga Awal 1965
Setelah wafatnya sang ibu, Bung Karno masih beberapa kali datang ke Blitar.
Arsip juga mencatat bahwa pada tahun 1961 telah disiapkan sebuah mobil Mercedes-Benz Type 190 untuk menjemput Presiden dari Bandara Abdulrahman Saleh di Malang menuju Blitar.
Kunjungan-kunjungan tersebut berlangsung hingga sekitar awal tahun 1965. Selain agenda pemerintahan, Bung Karno masih menyempatkan diri menemui keluarga dan mengenang rumah masa mudanya di Istana Gebang.
Tidak semua kunjungan memiliki catatan yang sangat rinci. Namun, dokumentasi foto dari Departemen Penerangan Jawa Timur menunjukkan bahwa Blitar merupakan salah satu daerah yang paling sering dikunjungi Presiden Soekarno selama masa pemerintahannya.
Blitar Menjadi Tempat Peristirahatan Terakhir
Setelah lengser dari kekuasaan, kondisi kesehatan Bung Karno terus menurun.
Ia wafat di Jakarta pada 21 Juni 1970.
Sesuai keputusan pemerintah saat itu, jenazah Bung Karno dimakamkan di Blitar, berdampingan dengan makam kedua orang tuanya dalam satu kompleks pemakaman keluarga.
Kini kawasan tersebut dikenal sebagai Makam Bung Karno, salah satu destinasi wisata sejarah dan ziarah nasional yang setiap tahun dikunjungi ratusan ribu peziarah dari berbagai daerah di Indonesia maupun mancanegara.
Di sekitar kompleks makam juga berdiri Museum Bung Karno dan Perpustakaan Nasional Bung Karno yang menyimpan berbagai koleksi sejarah, arsip, serta benda-benda peninggalan sang proklamator.
Warisan Sejarah yang Tetap Hidup
Hubungan Bung Karno dengan Blitar bukan sekadar karena makamnya berada di kota tersebut. Blitar adalah tempat yang menyimpan jejak perjalanan hidupnya sejak remaja, menjadi rumah bagi kedua orang tuanya, lokasi berbagai kunjungan kenegaraan sebagai presiden, hingga akhirnya menjadi tempat peristirahatan terakhirnya.
Arsip-arsip resmi Pemerintah Provinsi Jawa Timur memperlihatkan bahwa hampir setiap kunjungan Bung Karno ke Blitar selalu disambut antusias oleh masyarakat. Kedekatan emosional antara presiden pertama Indonesia dengan warga Blitar menjadi bagian penting dalam sejarah nasional.
Karena itulah, hingga sekarang Blitar tetap dikenal sebagai Bumi Bung Karno, sebuah kota yang tidak hanya menjaga makam sang proklamator, tetapi juga merawat kenangan perjalanan hidupnya melalui Istana Gebang, Makam Bung Karno, museum, arsip, dan berbagai situs sejarah yang masih dapat disaksikan hingga hari ini. []


0 Comments
Tinggalkan jejak komentar di sini