Panduan Menulis Sejarah Desa/Kelurahan di Kabupaten Blitar



Desa Minggirsari. Dok by Eriel Love



Mengangkat sejarah sebuah daerah, dalam hal ini desa atau kelurahan, seharusnya menjadi bagian penting dalam program desa/kelurahan tersebut.


Tidak hanya sebagai konten media, namun juga agar tercipta kesinambungan dalam proses pembangunan di daerah tersebut.


Selama ini, sejarah yang tersedia lebih banyak bermuatan cerita tutur/oral history yang masih perlu diperkuat dengan data.


Menulis sejarah desa/kelurahan menjadi sangat menarik karena itu akan mengungkap sejarah masa lampau yang mungkin saja saling terhubung dengan peristiwa lain dalam sejarah.


Lalu bagaimana memulai menulis sejarah desa/kelurahan?


Cari data yang ada

Tugu Gula Kelapa, Kandangan, Srengat. Dok/Rudi Handoko.

Sumber terkuat dari penulisan sejarah tentu saja sumber tertulis berupa arsip atau dokumen.


Pihak desa/kelurahan perlu membongkar arsip lawasnya guna memberikan petunjuk awal penulisan sejarah.


Arsip yang dimaksud bisa catatan sejarah lama (jika ada), surat keputusan atau arsip pendukung lainnya yang masih bisa ditemui.


Adanya sumber tertulis tersebut menjadi bukti yang kuat untuk berpijak pada tahap selanjutnya.


Namun sayangnya, banyak yang kurang baik dari sisi pengarsipan sehingga mungkin akan ada kendala atau kesulitan dalam proses ini.


Berangkat dari nama

Tugu Rante di Desa Bendo, salah satu warisan sejarah.

Selanjutnya, mulailah dari nama. Apa asal usul nama daerah tersebut?


Dalam proses pencarian asal usul nama daerah ini kita bisa merujuk banyak referensi.


Itu dikarenakan, nama-nama daerah terutama desa/kelurahan saat ini sebagian besar diambil dari nama lama, bahkan konon sejak era Kerajaan-kerajaan di Pulau Jawa.


Bukan sejak Proklamasi Kemerdekaan dibacakan pada 17 Agustus 1945.


Sehingga perlu referensi dari sumber terkait untuk mengupas asal usul nama daerah tersebut.


Mencari titik babad

Patung tangan dua anak cukup. Ikon terkenal di era orde baru. Dok/Info Seputaran Blitar.

Biasanya, sebuah daerah memiliki tokoh yang dikenal sebagai babad atau orang yang pertama bermukim di daerah tersebut.


Beberapa desa/kelurahan bahkan memberikan tanda khusus pada makamnya sebagai pengingat.


Coba gali siapa sosok ini, telusuri siapa kerabat yang masih ditemui.


Tanyakan sosok tersebut dan kiprahnya di masa lalu. Kerabat yang ditemui mungkin saja masih mendapat cerita, meski sekilas, dan itu akan menjadi informasi yang menarik.


Ini untuk memperkaya sumber sejarah, sebelum menarik benang merahnya.


Cari orang sepuh atau tokoh yang dituakan

Patung Gajah Mada di Desa Ngadri, Binangun. Dok/Jay Nall

Berikutnya, cobalah mencari tokoh yang dituakan di desa yang sekiranya bisa bercerita banyak hal tentang kehidupan desa di masa lampau.


Jika memang tidak ada tokoh, carilah orang yang usianya paling tua di daerah tersebut.


Cara ini memang tidak mudah, dan yang ditemui memang tidak satu dua orang, bisa beberapa.


Selain itu biasanya ada kendala karena faktor umur seperti pikun, sulit menjelaskan karena fisik tak sehat lagi, dan lain sebagainya.


Berapapun informasi yang didapat, simpanlah dengan rapi sebagai sumber informasi.


Wawancara kepala desa tiap periodenya

Candi Rambut Monte di Krisik, Gandusari. Dok/Syamsul Arifin.

Dalam penulisan kronik, sangat perlu wawancara kepala desa.


Kita juga perlu tahu sudah berapa tahun desa berdiri dan sudah ada berapa kepala desa yang menjabat.


Wawancara kepala desa dalam rangka menggali informasi terkait arah kepemimpinannya saat itu dan saat ini.


Cerita dari kepala desa tersebut akan menjadi variasi tersendiri dalam penulisan sejarah nantinya.


Buru foto-foto eksklusif


Jika di desa/kelurahan memiliki arsip foto, mintalah salinannya, foto adalah bukti valid sebagai penguat tulisan.


Foto-foto yang ada kadang juga menggambarkan situasi desa dari masa ke masa.


Kadang dari foto tersebut ada temuan menarik seperti berubahnya gedung, jalan, atau kunjungan dari publik figur di era dahulu yang terdokumentasi.


Foto sangat penting diburu, bahkan kalau perlu meminta bantuan siapapun warga desa yang memiliki foto-foto eksklusif terkait desa.


Cara kepenulisan


Sejarah bisa ditulis secara kronologis mulai dari awal terbentuknya daerah tersebut.


Diawali dari tahun terbentuknya lalu maju ke tahun-tahun berikutnya.


Cara penulisan kronologi menekankan pada periode ke periode.


Cara penulisan kronologi memerlukan dukungan riset yang kuat setiap periodenya agar kronik periodenya bisa terhubung.


Periode yang dimaksud pun juga menyesuaikan kondisi, semisal suatu daerah yang sudah eksis sebelum kemerdekaan, konsep periodenya juga berbeda.


Agar lebih mudah, periode bisa dibuat berdasar tahun atau figur, atau bisa juga mengkombinasikan keduanya.


Misalnya, sebelum muncul aturan periodisasi jabatan, kepala desa bisa menjabat belasan tahun. Maka periode kades A antara tahun sekian hingga sekian.


Jika menulis cara kronologi dirasa masih cukup sulit, bisa juga menulis dengan cara bunga rampai.


Yaitu dengan menulis dari topik tertentu berdasar peristiwa.


Misal bagian  A adalah asal usul nama, bagian B bisa mengupas sosok seperti pendiri atau orang pertama yang bermukim di daerah tersebut.


Cara penulisan bunga rampai tak terikat kronologi, namun tetap memberikan wawasan sejarah berdasar sumber yang ada.


Biasanya cara penulisan bunga rampai dipilih untuk mempermudah penerbitan, namun belum final dan masih mungkin ada penambahan atau mungkin pembaharuan berikutnya.


Cara penulisan bunga rampai memang dipilih karena ada beberapa periodisasi yang belum tergali atau sulit tergali, ada beberapa part yang rumpang.


Story dan history


Menulis sejarah harus berdasar sumber antara lain:


Sumber primer berupa dokumen resmi yang ditemukan atau dari pelaku sejarahnya. Sumber sekunder yang tidak terlibat langsung namun mendapatkan informasi, dan sumber tersier sebagai pelengkap karya tulis.


Dengan adanya sumber di atas, maka fakta yang ada bisa diperkuat data yang ditemukan. Sehingga layak disebut history.


Sebuah informasi yang berdasarkan cerita turun temurun dan belum dibuktikan masih sebatas story dan belum menjadi history.


Maka pentingnya untuk memperkuat informasi dengan data dan fakta yang valid.


Pentingnya mengetahui sejarah


Sejarah sangat penting diketahui agar kita tahu asal usul dan jati diri.


Kita juga memiliki kedekatan emosi pada masa lalu yang membentuk kita saat ini.


Selain itu bisa juga memunculkan inspirasi, seperti misal pemanfaatan potensi lokal yang dulu pernah berhasil.


Bagi generasi berikutnya, mengetahui sejarah ibarat memberi tongkat estafet, agar tidak tercerabut dari akarnya dan menjalankan program yang berkesinambungan.


Karena kadang kala suatu daerah ketika berganti pemimpin akan berganti orientasi baru yang belum tentu berhasil.


Dengan adanya sejarah, maka siapapun akan menyadari sudah berada di titik mana sekarang, dan upaya apa untuk melanjutkannya lebih baik, bukan memulai lagi dari awal.


Selamat mencoba.


Panduan Menulis Sejarah Lokal

Insight Blitar



loading...

Post a Comment

0 Comments