J.B Sumarlin Pendekar Ekonomi Asal Nglegok, Blitar



Pada tahun 1970, di sebuah majalah Ramparts, David Ransom mencetuskan istilah Berkeley Mafia yang ditujukan pada alumnus University of California, Berkeley.


Kata "mafia" tersebut menegaskan betapa kuatnya peran mereka menentukan arah kebijakan ekonomi Pemerintahan Orde Baru kala itu.


Istilah mafia menjadi negatif, terutama karena dikaitkan dengan proyek ekonomi Amerika Serikat di Indonesia.


Di antara lulusan Berkeley tersebut adalah Prof. Drs. Johannes Baptista Sumarlin, M.A, Ph.D atau J.B Sumarlin.


Seorang tokoh kelahiran Nglegok, Kabupaten Blitar, 7 Desember 1932.


***


J.B Sumarlin adalah orang dekat Widjojo Nitisastro yang kerap disebut "pemimpin" Mafia Berkeley bersama Soemitro Djojohadikusumo.


Gagasan mereka ditentang oleh Presiden Soekarno yang kala itu anti Amerika Serikat, namun saat itu kondisi ekonomi sedang memburuk sehingga gagasan ekonomi dari alumnus Berkeley dianggap sebagai jalan keluar.


J.B Sumarlin, sebagaimana geng Berkeley adalah penganut mazhab Keynesian atau teori Keynes yang dicetuskan oleh ekonom asal Inggris John Maynard Keynes.


Suatu teori campuran yang yang menganggap pemerintah dan sektor swasta punya peranan penting dalam membangun ekonomi suatu negara.


Gagasan tersebut kontras dengan ide komunisme yang mana negara memiliki peran absolute.


Disamping itu banyak yang khawatir jika gagasan tersebut justru semakin menguatkan posisi imperialis-kapitalis jika pemerintah tidak memiliki posisi yang kuat.


Mereka yang menolak gagasan ini adalah pengusung ide ekonomi nasionalis, bahwa negara harus mandiri dan tidak boleh diintervensi oleh kepentingan kapital.


Namun ide keynesian yang diusung alumnus Berkeley nyatanya mendapat tempat di bawah kepemimpinan Presiden Soeharto.


Bahkan mereka menjadi tim khusus yang menentukan arah kebijakan ekonomi negara.


Trade mark orde baru sebagai era pembangunan pun kemudian bergulir, gedung-gedung megah mulai bermunculan dan investasi mulai berdatangan.


Peristiwa Malari 1974 adalah salah satu bentuk penentangan masuknya investasi asing di Indonesia.


***

J.B Sumarlin dan Istri berfoto dengan Pak Harto. Sumber: Sesawi.net

J.B Sumarlin lahir di Nglegok, anak keluarga petani sederhana yang memiliki sawah di daerah Ngadirejo.


Daerah Ngadirejo sekarang masuk wilayah Kepanjenkidul, Kota Blitar.


Ia juga ditulis bersekolah di SD Negeri 1 Blitar di tahun 1944. Ada dua kemungkinannya, apakah yang dimaksud adalah SDN Blitar di daerah Sukorejo atau SDN Ngadirejo 1 Kota Blitar.


Lalu ia melanjutkan SMP ke Kediri dan SMAN 1 Yogyakarta, namun pindah ke SMAN 1 Budi Utomo Jakarta. Pada tahun tersebut jenjang sekolah setingkat SMP dan SMA memang masih minim.


Itu berarti, sejak SMP, Sumarlin sudah merantau meninggalkan Blitar, mungkin sesekali kembali untuk berlibur atau mengunjungi orang tuanya.


***


J.B Sumarlin muncul ke panggung nasional karena kedekatannya dengan Widjojo Nitisastro.


Ia kerap diajak ikut sidang kabinet, bertemu dengan tokoh-tokoh penting seperti Sudharmono saat menjabat sebagai ketua presidium Kabinet Ampera, transisi peralihan dari Presiden Soekarno ke Presiden Soeharto.


Beberapa jabatan penting pernah dipercayakan padanya mulai dari Sekretaris Dewan Moneter, Deputi Ketua Bappenas Bidang Fiskal dan Moneter, Anggota MPR RI, Kepala Bappenas, Menteri Keuangan hingga Ketua BPK RI.


Meskipun menjadi bagian penting dari rezim orde baru, J.B Sumarlin dikenal sebagai sosok yang bersih dan berintegritas.


Sikap itulah yang membuatnya dipilih menjadi ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dan dipercaya oleh Presiden Soeharto.


Meskipun memangku beberapa jabatan penting, integritasnya begitu diakui karena berlatar belakang seorang akademisi yang prolifik.


Kolega dekatnya, Prof. Emil Salim yang juga kerap dianggap satu geng Berkeley menyebut jika J.B Sumarlin adalah pejabat teladan dalam sikap anti korupsi.


Beberapa cerita tentang upayanya memberantas pungli di Kementrian Keuangan pun juga kerap dikenang.


Namun, krisis ekonomi 1997-1998 menjadi fase terburuk dari kelompok Berkeley karena mereka dianggap paling bertanggung jawab.


Di era Presiden B.J Habibie geng Berkeley seolah tak dianggap, meskipun di era Gus Dur beberapa tokohnya seperti Widjojo Nitisastro masih menjadi penasehat presiden dalam bidang ekonomi.


***


Setamat dari SMA, J.B Sumarlin melanjutkan kuliah Doktorandus ke Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia.


Ia kemudian meraih beasiswa untuk menempuh S2 Master of Arts bidang Ekonomi dari University of California, Berkeley.


Setelah itu melanjutkan Doctor of Philosophy (Ph.D) bidang ekonomi dan pembangunan sosial di University of Pittsburgh, AS.


Putra asli Blitar tersebut mengembuskan nafas terakhirnya pada kamis, 6 Februari 2020 di Jakarta dan dimakamkan di pemakaman San Diego Hills.


Penulis: Ahmad Fahrizal Aziz


loading...

Post a Comment

0 Comments