Isolasi Mandiri




By Ahmad Fahrizal Aziz

--
Pihak Rumah Sakit mengabariku dan memberitahukan jika hasilnya positif. 

Positif lagi? Batinku, sambil menghela nafas.

Sejak pulang dari Jakarta 3 hari lalu aku sudah mengunci diri di kontrakan. Ibuku yang biasanya datang membawa makanan kuminta untuk meletakkannya di teras.

Meski sudah ada swab antigen, namun aku masih percaya dengan swab PCR, meski harus menunggu lebih lama.

Padahal, agendaku padat. Besok malam ada undangan dari salah satu tim dari tokoh politik terkemuka, yang memintaku memberi masukan terkait beberapa instansi pemerintah.

Saat masih di Jakarta, sebuah kantor ritel pusat juga meminta jasaku untuk membuat review pada salah satu cabangnya di Kediri.

Sejumlah uang sudah ditransfer untuk belanja. Aku akan menyamar menjadi konsumen, membeli beberapa barang dan mengoreksi beberapa pelayanan tanpa diketahui oleh mereka.

Tugas sebagai independent reviewer itu harus aku selesaikan dalam seminggu ini. Mana mungkin terkejar?

Seminggu kemudian, aku juga harus mengisi workshop tentang marketing ads sosial media di dinas koperasi dengan audiens para penggerak UMKM.

Aku sendiri yang meminta pelatihan itu berlangsung tatap muka agar lebih mudah menjelaskan dan mempraktikkan bagaimana membuat ads di sosial media.
"Apa ada gelaja medis serius?" tanya Susan, petugas rumah sakit yang juga sudah kukenal akrab.

"Tidak mbak, sepertinya saya akan isolasi mandiri," jawabku.

"Baik, jika ada gejala serius silahkan hubungi kami, tim akan datang membantu," pesannya.

"Terima kasih," pungkasku, lalu kumatikan ponsel.

Aku hanya sedikit batuk dan flu, namun untungnya masih bisa membaui segala macam aroma. Namun setelah ada kabar positif, kepalaku sedikit pusing.

Ini kali kedua aku positif. Seharusnya tak terlalu masalah untuk diriku, namun karena membahayakan orang lain, aku harus Isolasi Mandiri sekurangnya 2 minggu untuk tes ulang.

Saat positif yang pertama, aku langsung dirujuk ke rumah karantina, dicek status kesehatannya setiap hari, minum vitamin, berjemur dan olahraga.

Padahal itu sudah menjadi kebiasaanku sejak lama. Sejak masih bekerja sebagai wartawan di Malang, aku biasa berangkat pagi ke lokasi reportase, berjemur dengan sinar matahari secara alami.

Di kontrakan, aku juga punya alat-alat olahraga sederhana seperti burble, lompat tali, besi pull up dan body trimmer. Intinya, aku biasa olahraga ringan.

Di dapur pun, persediaan jahe emprit juga selalu ada. Biasanya kuseduh 2 hari sekali, tanpa gula. Konon jahe adalah minuman tradisional yang direkomendasikan.

Kebiasaan yang dianjurkan selama isolasi mandiri sudah kulakukan sejak lama, dan kini hanya perlu sedikit lebih membiasakan saja.

Namun bukan itu yang berat. Dengan isolasi mandiri, pendapatanku menurun. Ya, meskipun aku masih dapat honor sebagai editor yang bisa dikerjakan dari rumah.

###

Ponselku berdering beberapa kali saat sedang berada di dapur. Itu dari Vio. Aku sampai lupa menanyakan keadaannya, karena kami sama-sama pulang dari Jakarta.

"Positif bro," tulisnya melalui pesan whatsapp.

Lalu kuhubungi via video call, Vio tampak baru melepaskan nebulizer. Dia memang punya masalah pernafasan sejak kecil, itu yang kutahu dari orang tuanya.

"Kamu di mana?" tanyaku.

"Di kamar isolasi," jawabnya dengan nafas tersengal.

Saat tes tiga hari lalu dia tampak baik-baik saja. Mungkin karena khawatir dengan kondisinya yang sudah komorbid, dia akhirnya down.

Padahal, kami baru saja mendapatkan temuan penting. Vio adalah pengacara yang sedang mengawal kasus sebuah perusahaan besar. Dia memintaku membantu bagian publikasinya, meskipun tidak gampang.

Vio harus di rawat di ruang isolasi. Aku jadi khawatir, semoga dia tidak mati dulu sebelum kasus itu naik ke pengadilan dan dia memenangkan persidangan.

B E R S A M B U N G
Nantikan lanjutannya
loading...

Post a Comment

0 Comments