Menulis Setiap Hari, Mana Mungkin?






Minggu, 1 September 2019

Beberapa tokoh punya tradisi menulis setiap hari, misalnya rektor saya dulu Prof. Imam Suprayogo, yang menulis tiap selepas shalat subuh, sampai mendapat rekor muri menulis tiap hari tanpa jeda selama 3 tahun.

Penulis lain, seperti mantan Bos Jawa Pos Dahlan Iskan yang sekarang menulis setiap hari di kanal pribadinya Disway.id yang diunggah jam 5 pagi.

Beberapa penulis lain mungkin juga punya tradisi yang sama, hanya belum kita ketahui. Kalau yang mingguan ada banyak, atau dua sampai tiga kali seminggu, seperti Reza A.A Wattimena di website rumahfilsafat.com miliknya.

Beberapa kolomnis juga menulis mingguan, yang dimuat pada media cetak, entah koran, majalah, atau tabloid.

Namun, menulis setiap hari itu adalah hal ajaib. Ada keistiqomahan luar biasa. Sebab menulis itu kan tak gampang? Juga tak sulit, jika sudah terbiasa.

Sejauh yang saya ketahui, mereka yang memiliki tradisi menulis setiap hari, atau lebih dari dua kali dalam seminggu, bentuknya adalah esai. Bukan puisi dan cerpen.
Selain esai, wartawan koran harian biasanya dituntut menulis antara 3-4 berita setiap harinya. Bentuknya berita, atau tepatnya straight news.

Artinya, menulis esai dan berita lebih gampang. Bahasanya lugas, tidak perlu majas. Karena itulah bisa dituangkan harian. Menulisnya juga relatif cepat, kurang dari sejam. Bahkan ada yang kurang dari 30 menit.

Namun yang juga menarik, adalah proses menangkap ide itu sendiri. Baik menulis dalam bentuk apapun. Ide menjadi sangat penting karena itulah yang menjadi pijakan awalnya.

Misalnya wartawan yang harus menulis 4 berita setiap hari, tentu harus punya cukup kemampuan untuk melihat peristiwa yang ia temui dari sudut pandang yang beragam.

Misalnya acara Seminar Nasional. Sekilas itu hanya bisa jadi satu berita, padahal jika dilihat dari beragam sisi, bisa diolah menjadi 4 berita sekaligus.

Selain acara seminarnya, yang bisa diangkat adalah statement narasumbernya, apalagi jika narasumbernya melemparkan statement yang baru dan menggugah publik. Narasumber pun kadang bisa lebih dari satu, bukan?

Peserta yang hadir juga bisa menjadi berita, apalagi jika pesertanya membludak, apalagi jika ada yang datang dari luar kota atau pulau. Lalu bagaimana jika seminarnya sepi? Itupun juga bisa jadi berita, tinggal pandai-pandai mengolahnya.

Dan masih banyak lagi yang bisa ditulis.

Jadi ide sangat berkaitan dengan kemampuan kita menangkap realitas yang terjadi di masyarakat, atau bahkan diri sendiri, atau yang kita prediksi akan terjadi.

Salah satu pentingnya kita memperkaya bacaan antara lain untuk memperkaya wawasan. Jika wawasan sudah banyak, maka kita bisa melihat hidup dari banyak sisi.

Mungkin kita belum cukup mampu untuk menjadikannya sebuah tulisan, yang bersifat harian. Namun kemampuan menangkap ide itu tetap bisa kita asah, setiap hari.

Setelah itu, mungkin kita bisa menuliskannya. Minimal sekali seminggu, atau dua sampai tiga kali. Jika ide sudah mengepul dan mendesak untuk dituangkan, bisa setiap hari kan?

Di Lojikopi
Ahmad Fahrizal Aziz
Just-fahri.blogspot.com


loading...

Post a Comment

0 Comments