Kenapa Saya Nonton 한국드라마





Belakangan, dan sebelum-sebelumnya, saya memposting aktivitas menonton Drama Korea (한국드라마).

Ada yang mengkritik, bukankah itu membawa dampak buruk, khususnya ke para pelajar. Itu berarti, saya mungkin dinilai cukup permisif dan bahkan secara tak langsung mengajak orang lain, ayo nonton drakor.

Namun pada kesempatan ini, ijinkan saya menjelaskan. Sebelum membaca lengkap tulisan ini, mohon jangan ambil kesimpulan terlebih dahulu.

Sesungguhnya, saya tidak hanya menonton drama korea. Drama Jepang, Taiwan, Tiongkok, Hongkong, Singapore, Thailand dan Filipina, juga saya tonton.
Drama korea secara intens saya tonton belakangan, utamanya di masa pandemi ini. Itupun baru drakor produksi KBS (Korean broadcasting System). Tentu ada banyak Production House (PH) di Korea Selatan, sebagaimana banyaknya PH di Indonesia.

Maka saya tak bisa menyimpulkan, atau membandingkan drama korea dengan drama negara lain, termasuk di Indonesia.

Karena untuk membandingkan harus melakukan riset komprehensif. Misalnya ada berapa PH di negara tersebut, setidaknya menonton satu atau dua drama terbaik produksi masing-masing PH, baru bisa menyimpulkan.

loading...
Tidak adil juga kalau saya membandingkan drama series "kumenangis" dengan drakor KBS, kan? Karena ada banyak PH di Indonesia, yang lebih kompatible untuk dijadikan perbandingan.

Baik, mari saya ceritakan pengalaman saya nonton drakor KBS.

Sebelumnya, perlu dijelaskan bahwa drama series dan film itu berbeda. Drakor memiliki beberapa serie, jika film/movie selesai dalam satu durasi.

Jadi jangan sampai disamakan antara drama dan movie.

Drakor KBS pertama yang saya tonton adalah Blood series (블러드) yang bercerita tentang kehidupan Vampire. Ya, mungkin ketika membahas drakor langsung terbersit cerita romance. Padahal tidak demikian, meskipun ada kisah percintaannya.

Drakor KBS kedua yang saya tonton adalah Healer (힐러) yang bercerita tentang konspirasi besar, kehidupan para Jurnalis dan seorang pesuruh misterius. Ya, memang ada kisah percintaannya, tetapi ada unsur laga dan beragam analisis yang menarik.

Terbaru, saya menonton Who Are You, School 2015 (후아유: 학교 2015). Kisah korban Bullying yang ternyata memimiliki sodara kembar, dibalut kisah persahabatan, keluarga, pendidikan dan percintaan yang rumit.

Tiga drakor yang sama-sama memiliki banyak kejutan, teka-teki, dan kompleksitas. Sambil menonton kita benar-benar diajak mikir, membuat analisis atau sekadar menebak-nebak. Asyik, bukan?

Tebakan kita kadang benar, namun lebih sering salah. Para analis drakor memang banyak menyebut bahwa Plot adalah salah satu keunggulannya.

Menurut saya, menonton drakor KBS di atas bisa menambah kemampuan analisis, karena kita benar-benar diajak untuk itu.

Di samping banyaknya pelajaran lain yang mungkin disuguhkan.

Sayangnya, banyak orang lebih terfokus pada pemainnya yang good looking, kulit mulus, putih, badan bagus dan seterusnya.

Tidak salah juga jika hal itu yang dilihat, karena memang adanya begitu. Aktor di sana seperti jadi "komunikator" untuk negaranya. Aktor di bawah 40 tahun rata-rata memang mulus, atletis, dan apalagi aktrisnya.

Namun kan tergantung sisi mana yang kita perhatikan? Web series di Indonesia yang tayang di YouTube pun banyak juga yang mulai memperhatikan sisi itu.

Namun bagi saya, yang disatu sisi juga seorang pembaca novel, sisi menarik drakor KBS tidak saja dari pemainnya, namun lebih ke ide cerita, plot dan pengemasan konflik yang menarik. Itulah kenapa saya menonton drakor.

Jadi, tak masalah bukan? Toh meski menonton Healer puluhan kali, saya juga tak mungkin terobsesi menjadi seperti Ji Chang-wook.

Untuk lebih detailnya, silahkan menonton sendiri, sebab terlalu panjang untuk menuliskannya di sini. []

Blitar, 15 Januari 2021
Ahmad Fahrizal Aziz
loading...

Post a Comment

0 Comments