Pesan untuk Remaja : Kejar Ilmu untuk Masa Depan Kalian




Jangan Kawin Dulu, Kejar Ilmu untuk Masa Depan Kalian.

Itulah pesan yang ditulis oleh Zumrotin K. Susilo, aktivis perempuan dalam rangka merespon dan diskusi UU Revisi perkawinan, sekaligus memeringati 16 hari anti kekerasan terhadap perempuan dan anak perempuan.

Puncak acara berlokasi di Selasar perpustakaan Bung Karno (07/12), setelah sebelumnya diadakan dua pertemuan dalam rangka diskusi merespon revisi UU Perkawinan anak dari batas usia yang sebelumnya 16 tahun untuk perempuan, naik menjadi 19 tahun.

Zumrotin yang juga aktivis senior Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi (HKSR) itu merespon positif naiknya batas usia perkawinan untuk perempuan yang awalnya 16 tahun menjadi 19 tahun.

"Kalau kita perhatikan UU pernikahan 1974 baru bisa dirubah tahun 2019, butuh waktu 45 tahun, artinya untuk merubah hal ini tidaklah mudah," Ungkap Zum.

Zumrotin juga menceritakan perjuangannya selama di Yayasan Kesehatan Perempuan (YKP), yang salah satu gerakannya melakukan sosialisasi menentang perkawinan usia anak.

"YKP turut serta mengidentifikasi banyaknya kasus kekerasan dan perceraian yang tinggi, salah satunya karena usia pernikahan anak, akhibatnya emosinya labil ketika berumah tangga," Jelasnya.

Selain itu, faktor agama juga memengaruhi, seperti ketika anak perempuan mengalami menstruasi, maka secara agama dia sudah akil baliq, karena sudah bisa hamil.

"Menurut M. Quraish Shihab, menstruasi saja tidak cukup dijadikan dasar untuk menikah atau menjadi indikasi untuk siap menikah. Karena akalnya harus siap juga, yaitu berupa kematangan berpikir dan kedewasaan," Jelasnya ketika bertanya makna Akil Baliq kepada cendekiawan muslim tersebut.

Karena itu ia berpesan jangan cepat-cepat kawin, apalagi jika masih di bawah usia perkawinan. Sekolah dulu, kejar ilmu dan masa depan. (Red. LP)


loading...

Post a Comment

0 Comments