Tikar mulai digelar di balai Kelurahan Blitar, Kecamatan Sukorejo, Kota Blitar. Tidak ada panggung megah atau tata cahaya yang mencolok. Yang hadir adalah orang-orang yang datang membawa cerita, puisi, lagu, dan keinginan untuk saling mendengarkan.
Begitulah suasana Suara Sastra Edisi 77, sebuah pertemuan sastra yang kembali memperlihatkan bahwa ruang literasi tidak selalu harus berada di perpustakaan atau gedung pertunjukan.
Balai kelurahan pun dapat berubah menjadi tempat lahirnya gagasan, pertemuan antargenerasi, dan ruang bagi anak muda untuk menemukan keberanian menyampaikan suara.
Suara Sastra Datang ke Kelurahan Blitar
Edisi ke-77 berlangsung pada pukul 15.00 hingga 17.00 WIB. Kegiatan dipandu seperti biasa oleh Ahmad Fahrizal Aziz, yang mengarahkan jalannya acara dengan suasana santai dan memberi kesempatan kepada setiap peserta untuk tampil maupun berdiskusi.
Acara dibuka dengan sambutan Suraya, Ketua Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) Kelurahan Blitar yang selama ini aktif menggerakkan kegiatan seni, budaya, dan pariwisata di wilayahnya.
Dalam sambutannya, ia mengapresiasi kolaborasi antara Suara Sastra dengan Karang Taruna Kelurahan Blitar. Menurutnya, kerja sama seperti ini perlu terus diperkuat agar menjadi ruang kreatif bagi generasi muda, baik di Kelurahan Blitar maupun Kota Blitar secara lebih luas.
Harapannya, Anak-anak muda memiliki tempat untuk berkumpul, berkarya, berdiskusi, dan membangun jejaring melalui kegiatan budaya.
Pertanyaan Pembuka yang Mengundang Renungan
Sebelum penampilan dimulai, seluruh hadirin diajak menjawab sebuah pertanyaan.
"Apa satu hal yang bisa diperkenalkan dari Blitar selain Bung Karno?"
Pertanyaan itu memunculkan banyak jawaban.
Ada yang menyebut suasana Blitar yang masih asri dan tenang. Ada pula yang mengatakan udara yang adem menjadi daya tarik tersendiri.
Peserta lain mengingatkan bahwa Blitar memiliki sejarah yang panjang. Mulai dari peninggalan candi-candi, kisah kerajaan, hingga warisan budaya yang masih hidup di tengah masyarakat.
Pertanyaan sederhana itu berubah menjadi ruang refleksi bersama. Blitar ternyata memiliki banyak identitas yang layak dikenalkan kepada masyarakat luar.
Panggung Terbuka bagi Semua Orang
Setelah sesi pembuka, peserta mulai bergantian tampil.
Sebagian membacakan puisi.
Sebagian menyanyikan lagu.
Ada pula yang membawakan musikalisasi puisi, monolog, hingga berbagi cerita.
Tidak ada batasan profesi maupun usia. Semua memperoleh kesempatan yang sama untuk menyampaikan karya.
Sesudah penampilan, peserta bersama-sama mendiskusikan makna karya yang telah dipentaskan. Diskusi berlangsung santai tanpa sekat antara penampil dan penonton.
Model seperti inilah yang menjadi ciri khas Suara Sastra sejak pertama kali digelar.
Bersua untuk Bersuara
Suara Sastra bukan organisasi formal.
Ia merupakan ruang terbuka yang memiliki slogan "Bersua untuk Bersuara."
Makna slogan tersebut terlihat dalam setiap penyelenggaraan.
Siapa pun dapat datang.
Tidak harus menjadi penyair.
Tidak harus menjadi musisi.
Tidak harus memiliki buku.
Datang untuk mendengarkan pun sudah menjadi bagian dari kegiatan.
Konsep terbuka ini membuat Suara Sastra berkembang menjadi ruang literasi yang mudah diterima berbagai kalangan.
Berawal dari Gagasan Dua Pegiat Literasi
Suara Sastra digagas oleh Andik Prasetyo atau yang lebih dikenal sebagai Jon Blitar bersama Galang Bima Suhastra dari Desa Kebonduren, Kecamatan Ponggok.
Keduanya kemudian membangun kolaborasi bersama Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Blitar.
Dukungan dari Dispusip membuat kegiatan ini terus berjalan secara konsisten.
Selain menyediakan ruang kegiatan, Dispusip juga aktif mendokumentasikan serta mempublikasikan berbagai edisi Suara Sastra sehingga jangkauannya semakin luas.
Berpindah Tempat agar Menjangkau Lebih Banyak Orang
Pada awalnya kegiatan banyak dilaksanakan di halaman Perpustakaan Daerah Kabupaten Blitar di Jatilengger, Kecamatan Ponggok.
Namun dalam perkembangannya, Suara Sastra tidak terpaku pada satu lokasi.
Mereka memilih berpindah-pindah agar lebih dekat dengan masyarakat.
Beberapa lokasi yang pernah menjadi tempat penyelenggaraan antara lain Blitar Art Center, Sanggar Seni Sasmita Sukorejo, Pasar Wage Kota Blitar, Penataran Night Street Food, Sinar Remaja di kawasan timur Stasiun Kota Blitar, Ngglanuk Spot Talun, hingga kini Balai Kelurahan Blitar.
Pola berpindah lokasi membuat semakin banyak warga mengenal kegiatan ini.
Perjalanan Menuju Edisi 77
Sepanjang tahun 2026, Suara Sastra terus menghadirkan berbagai tema dan kolaborasi.
Edisi 73 berlangsung pada 10 Mei 2026 di Ngglanuk Spot Talun.
Edisi 74 diselenggarakan di Sinar Remaja Kota Blitar.
Edisi 75 berkolaborasi bersama Majelis Maiyah Balitar.
Kemudian Edisi 76 menjadi penyelenggaraan spesial dalam rangka Haul Bung Karno di halaman Dispusip Kabupaten Blitar.
Kini, Edisi 77 membawa semangat literasi memasuki lingkungan kelurahan dengan menggandeng Karang Taruna sebagai mitra.
Langkah ini menunjukkan bahwa sastra dapat hadir lebih dekat dengan masyarakat.
Melahirkan Buku Bersama
Suara Sastra tidak berhenti pada kegiatan panggung.
Forum ini juga melahirkan berbagai karya kolektif.
Salah satunya adalah antologi puisi Dari Blitar untuk Indonesia Jilid 2 yang mengangkat tema Harapan untuk Blitar.
Buku tersebut melibatkan puluhan penulis dari Blitar Raya.
Selain itu hadir pula antologi cerpen Blitar dalam Cerita yang diluncurkan pada penghujung tahun 2025.
Ke depan, penggagas juga menyiapkan proyek antologi berikutnya sebagai wadah bagi penulis baru.
Kegiatan rutin akhirnya menghasilkan jejak yang dapat dibaca kembali dalam bentuk buku.
Menjadi Objek Penelitian Akademik
Konsistensi Suara Sastra juga menarik perhatian kalangan akademisi.
Pada tahun 2024, kegiatan ini menjadi objek penelitian skripsi Ismaya Rahmawati dari UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung.
Penelitian tersebut membahas peran Suara Sastra dalam meningkatkan literasi informasi pegiat sastra di Perpustakaan Daerah Kabupaten Blitar.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa diskusi, pertukaran gagasan, dan interaksi antarpeserta memberikan dampak positif terhadap kemampuan literasi para anggotanya.
Meski masih ditemukan hambatan fasilitas dan faktor pribadi peserta, kegiatan ini dinilai efektif membangun budaya membaca, berdiskusi, dan berkarya.
Ruang Literasi yang Terus Bertumbuh
Di banyak daerah, kegiatan sastra sering bergantung pada agenda tahunan.
Berbeda dengan itu, Suara Sastra memilih berjalan secara rutin.
Pertemuan yang konsisten membuat hubungan antarpeserta semakin erat.
Orang yang awalnya datang sebagai penonton perlahan mulai berani membaca puisi.
Yang semula hanya mendengarkan akhirnya membawa gitar.
Yang sebelumnya hanya mengabadikan acara dengan kamera kemudian ikut berdiskusi.
Proses seperti ini menunjukkan bahwa literasi tumbuh melalui kebiasaan, bukan karena perlombaan.
Lebih dari Sekadar Pentas
Suara Sastra Edisi 77 memperlihatkan bahwa sastra dapat hadir di mana saja.
Balai kelurahan berubah menjadi ruang dialog.
Karang Taruna bertemu pegiat sastra.
Warga berdiskusi mengenai identitas Blitar.
Generasi muda memperoleh kesempatan menyampaikan gagasan.
Kolaborasi semacam ini juga memperlihatkan bahwa pengembangan budaya tidak selalu bergantung pada acara besar. Pertemuan kecil yang dilakukan secara konsisten mampu melahirkan dampak yang panjang.
Ketika masyarakat mempunyai ruang untuk berbicara dan saling mendengar, karya akan terus lahir. Dari karya muncul percakapan. Dari percakapan lahir komunitas yang terus bertumbuh.
Suara Sastra telah membuktikan perjalanan itu hingga memasuki edisi ke-77. Setiap pertemuan menjadi pengingat bahwa sastra bukan milik kalangan tertentu, melainkan milik siapa pun yang ingin berbagi pengalaman, mendengarkan orang lain, dan menjaga kehidupan budaya tetap bergerak di Blitar.

0 Comments
Tinggalkan jejak komentar di sini