![]() |
| Sumber: Wikipedia |
Berlokasi di jalur nasional yang menghubungkan Blitar dan Malang, Wlingi menjadi pintu masuk menuju berbagai destinasi alam di lereng Gunung Kawi-Butak.
Perpaduan antara kota kecil yang ramai dan kawasan pedesaan yang hijau membuat kecamatan ini layak dijelajahi lebih lama.
Berikut sejumlah fakta menarik tentang Kecamatan Wlingi.
1. Berada di Jalur Strategis Blitar-Malang
Wlingi menempati posisi penting sebagai pusat perekonomian Blitar bagian timur. Jalur nasional yang melintas menjadikan arus kendaraan, perdagangan, dan mobilitas masyarakat berlangsung hampir sepanjang hari.
Keberadaan Stasiun Wlingi memudahkan perjalanan menggunakan kereta api, sementara Pasar Wlingi menjadi pusat perdagangan yang melayani masyarakat dari berbagai kecamatan di sekitarnya.
Fasilitas lain seperti rumah sakit daerah, sekolah, perbankan, dan pusat layanan pemerintahan turut memperkuat peran Wlingi sebagai kota penghubung.
Tidak mengherankan bila wilayah ini pernah diwacanakan menjadi calon ibu kota Kabupaten Blitar.
2. Dikelilingi Lereng Gunung yang Membuat Alamnya Sangat Subur
Secara geografis, Wlingi berada di kaki dan lereng Gunung Kawi-Butak. Bagian utara, terutama Desa Ngadirenggo dan Tegalasri, dipenuhi kawasan hijau dengan udara yang lebih sejuk dibanding pusat kecamatan.
Luas wilayahnya mencapai sekitar 66,36 kilometer persegi. Pusat kecamatan berada pada ketinggian sekitar 240 meter di atas permukaan laut, sedangkan wilayah utara terus menanjak menuju kawasan pegunungan.
Curah hujan yang mencapai sekitar 2.300 milimeter setiap tahun membuat tanah vulkanik di daerah ini sangat subur. Kondisi tersebut mendukung pertanian, perkebunan, hingga peternakan modern.
3. Nama Wlingi Berasal dari Tanaman yang Pernah Tumbuh Lebat
Sejarah Wlingi berkaitan dengan masa setelah berakhirnya Perang Diponegoro sekitar tahun 1830.
Sejumlah pengikut Pangeran Diponegoro dikisahkan melarikan diri menuju kawasan timur Blitar yang saat itu masih berupa hutan.
Di antara tokoh yang dikenal dalam cerita tersebut ialah Ki Ageng Pandan Rowo dan Ki Tugurejo.
Karena kawasan itu dipenuhi tanaman wlingi, permukiman yang berkembang kemudian dikenal dengan nama Wlingi. Nama tersebut bertahan hingga sekarang dan menjadi identitas kecamatan.
4. Pernah Menjadi Pusat Kawedanan pada Masa Belanda
Pada era kolonial, Wlingi memiliki kedudukan administratif yang cukup penting.
Belanda menjadikannya pusat Kawedanan Wlingi yang membawahi wilayah Blitar bagian timur. Kawedanan ini mencakup kawasan yang kini menjadi Kecamatan Wlingi, Gandusari, Talun, Doko, Kesamben, hingga Selorejo.
Pemerintah kolonial juga membangun berbagai infrastruktur pendukung seperti jalur kereta api, stasiun, serta perkebunan teh dan kopi berskala besar.
Warisan infrastruktur tersebut masih memberikan pengaruh besar terhadap perkembangan ekonomi Wlingi hingga sekarang.
5. Memiliki Jejak Perjuangan Kemerdekaan
Pada masa Agresi Militer Belanda II tahun 1948, kawasan Wlingi menjadi salah satu lokasi penting dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan.
Pasukan TNI bersama Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP) melakukan berbagai operasi untuk menghadang pergerakan pasukan Belanda yang datang dari arah Malang menuju Blitar.
Walau tidak banyak dikenal wisatawan, kisah perjuangan itu menjadi bagian penting dalam sejarah lokal masyarakat Wlingi.
6. Kecamatan yang Terdiri dari Sembilan Wilayah Administratif
Saat ini Kecamatan Wlingi terdiri atas lima kelurahan dan empat desa.
Kelurahan tersebut meliputi Babadan, Beru, Klemunan, Tangkil, dan Wlingi.
Sementara desanya meliputi Balerejo, Ngadirenggo, Tegalasri, dan Tembalang.
Jumlah penduduk berdasarkan data terbaru mencapai sekitar 55 ribu jiwa. Sebagian besar bekerja di sektor pertanian, perdagangan, jasa, peternakan, industri kecil, dan usaha rumahan.
7. Menjadi Rumah bagi Peternakan Sapi Perah Modern
Salah satu potensi terbesar Wlingi berada di Desa Ngadirenggo.
Di kawasan ini berdiri Dairy Farm II milik PT Greenfields Indonesia yang dikenal sebagai salah satu peternakan sapi perah modern terbesar di Asia Tenggara.
Keberadaan peternakan tersebut memberikan dampak ekonomi yang besar melalui penyerapan tenaga kerja, pengembangan industri susu, hingga mendorong tumbuhnya usaha pendukung di sekitar wilayah Wlingi.
Ke depan, sektor peternakan modern juga menjadi peluang pengembangan wisata edukasi berbasis agro.
8. Perkebunan Teh Sirah Kencong Menjadi Ikon Wisata
Bagi pencinta wisata alam, nama Sirah Kencong tentu sudah tidak asing lagi.
Perkebunan teh yang berada di Desa Ngadirenggo menawarkan hamparan kebun teh hijau dengan udara pegunungan yang segar.
Jalan menuju lokasi juga menyuguhkan panorama lembah dan hutan yang memanjakan mata.
Selain menikmati pemandangan, pengunjung dapat menjelajahi air terjun di sekitar kawasan maupun mengunjungi Candi Sirah Kencong yang berada tidak jauh dari perkebunan.
Perjalanan menuju lokasi memang cukup menantang, tetapi panorama yang disuguhkan menjadi daya tarik utama wisatawan.
9. Surga bagi Wisata Agro dan Pecinta Kopi
Selain teh, kawasan pegunungan Wlingi juga menghasilkan kopi berkualitas.
Perkebunan yang telah ada sejak zaman kolonial masih menjadi bagian penting dari aktivitas ekonomi masyarakat. Beberapa kawasan perkebunan lama kini mulai dikenal sebagai destinasi wisata berbasis alam dan pertanian.
Wisatawan dapat menikmati udara pegunungan, melihat aktivitas perkebunan, sekaligus mencicipi hasil olahan kopi maupun teh dari kawasan sekitar.
Potensi ini membuka peluang berkembangnya desa wisata yang menggabungkan edukasi, pertanian, dan budaya lokal.
10. Kota Kecil yang Layak Dijadikan Titik Awal Menjelajah Blitar Timur
Banyak wisatawan menjadikan Wlingi sebagai tempat singgah sebelum melanjutkan perjalanan menuju Sirah Kencong, kawasan lereng Gunung Kawi, maupun berbagai desa wisata di Blitar bagian timur.
Pilihan kuliner cukup beragam, akses transportasi mudah, dan fasilitas publik relatif lengkap.
Suasana kotanya juga masih terasa nyaman karena tidak sepadat kota besar, sementara jarak menuju kawasan pegunungan dapat ditempuh dalam waktu relatif singkat.
Kombinasi antara sejarah, pertanian, wisata alam, dan aktivitas ekonomi menjadikan Wlingi memiliki karakter yang berbeda dibanding kecamatan lain di Kabupaten Blitar.
***
Kecamatan Wlingi menunjukkan bahwa sebuah wilayah tidak hanya berkembang sebagai pusat perdagangan, tetapi juga mampu menjaga kekayaan alam dan sejarahnya.
Dari kisah para pengikut Pangeran Diponegoro, peninggalan masa kolonial, perjuangan kemerdekaan, hingga hamparan kebun teh Sirah Kencong, semuanya membentuk identitas Wlingi yang khas.
Bagi wisatawan yang ingin mengenal sisi lain Kabupaten Blitar, Wlingi dapat menjadi titik awal perjalanan.
Dari pusat kotanya yang ramai hingga lereng pegunungan yang tenang, setiap sudut menawarkan pengalaman yang berbeda dan memperlihatkan bagaimana alam, sejarah, dan kehidupan masyarakat tumbuh berdampingan hingga hari ini. []
IBM


0 Comments
Tinggalkan jejak komentar di sini