Di tengah menjamurnya boba, gelato, hingga aneka minuman kekinian, Blitar masih memiliki satu sajian dingin yang mampu mempertahankan pesonanya selama puluhan tahun.
Namanya Es Drop, jajanan tradisional yang bagi banyak warga juga dikenal sebagai es lilin.
Bentuknya sederhana, memanjang dengan stik kayu, dibungkus kertas tipis, lalu disimpan dalam termos sebelum dijual berkeliling kota.
Bagi masyarakat Blitar, Es Drop adalah bagian dari ingatan kolektif. Banyak orang mengenangnya sebagai teman bermain di masa kecil, teman berjalan-jalan di alun-alun, atau penutup perjalanan setelah berziarah ke Makam Bung Karno.
Es Drop, Warisan Kuliner Blitar Sejak 1937
Sejarah Es Drop di Blitar dapat ditelusuri hingga tahun 1937. Pada tahun itulah berdiri pabrik Es Drop Cap Burung Betet di Jalan Anggrek Nomor 49, Sukorejo, Kota Blitar.
Pabrik ini masih bertahan hingga sekarang dan dikelola oleh generasi ketiga keluarga pendirinya.
Tidak banyak usaha kuliner tradisional di Indonesia yang mampu bertahan hampir satu abad tanpa berpindah lokasi produksi.
Keberadaan pabrik tersebut menjadi bukti bahwa Es Drop bukan sekadar jajanan musiman, melainkan bagian dari perjalanan sejarah Kota Blitar.
Awalnya, Es Drop dipasarkan secara sederhana. Para penjual membawa termos merah besar yang diisi es batu dan garam agar Es Drop tetap beku selama berjualan.
Mereka berkeliling menuju alun-alun, sekolah, pasar, hingga kawasan wisata yang ramai pengunjung.
Cara berjualan seperti ini menjadi pemandangan yang sangat akrab pada masa lalu.
Meski kini sudah tersedia freezer dan kendaraan bermotor, sebagian penjual tetap mempertahankan cara lama sehingga nuansa nostalgia masih terasa.
Bukan Es Lilin Pertama di Indonesia
Meski sangat identik dengan Blitar, Es Drop bukan merupakan es lilin pertama di Indonesia.
Catatan sejarah menunjukkan bahwa produksi es lilin secara komersial telah berlangsung di Surabaya setidaknya sejak tahun 1928.
Surat kabar Hindia Belanda bahkan pernah memberitakan mengenai kebersihan air yang digunakan pabrik es lilin di kota tersebut.
Di Jawa Barat, istilah "Es Lilin" juga sudah dikenal luas sebelum tahun 1940. Bahkan pada tahun 1937 muncul lagu Sunda berjudul Es Lilin yang kemudian menjadi salah satu lagu daerah paling terkenal.
Artinya, konsep es santan beku berstik memang telah berkembang di berbagai daerah Nusantara.
Namun Es Drop Blitar memiliki perjalanan berbeda. Yang membuatnya istimewa bukan karena menjadi yang pertama, melainkan karena mampu bertahan dengan identitas yang konsisten sejak tahun 1937.
Mengapa Disebut Es Drop?
![]() |
| Termos Es Drop yang ikonik |
Istilah "Ice Drop" diyakini berasal dari pengaruh bahasa Inggris pada masa kolonial. Seiring waktu, penyebutannya berubah menjadi "Es Drop" di kalangan masyarakat Blitar.
Sebagian warga lebih sering menyebutnya sebagai es lilin karena bentuknya yang memanjang menyerupai lilin.
Apa pun namanya, masyarakat Blitar langsung mengenali jajanan ini melalui bungkus kertas tipis berwarna putih dan stik kayu yang menjadi ciri khasnya.
Cita Rasa yang Berbeda dari Es Krim
Sekilas Es Drop memang tampak seperti es krim batang. Namun keduanya memiliki karakter yang berbeda.
Es krim umumnya menggunakan susu dan krim sebagai bahan utama. Sementara Es Drop mengandalkan santan segar yang dipadukan dengan susu sapi, gula merah, gula pasir, serta bahan alami sesuai varian rasanya.
Perpaduan santan menghasilkan tekstur yang lembut dengan aroma kelapa yang kuat. Gula merah memberikan rasa manis yang lebih kaya dibanding gula pasir saja.
Karena itulah Es Drop memiliki cita rasa tradisional yang sulit ditemukan pada produk beku modern.
Varian Rasa Favorit
Selama puluhan tahun, pabrik Es Drop Cap Burung Betet menghadirkan berbagai pilihan rasa.
Beberapa yang paling dikenal antara lain
- Kacang hijau
- Cokelat
- Stroberi
- Durian
- Vanila
- Kelapa
Di antara semuanya, kacang hijau menjadi varian paling legendaris.
Kacang hijau direbus hingga empuk, kemudian dihaluskan bersama adonan santan. Hasilnya adalah Es Drop dengan rasa gurih, manis, dan tekstur yang lebih padat dibanding varian lain.
Banyak pelanggan lama menganggap rasa kacang hijau sebagai ciri khas Es Drop asli Blitar.
Mengapa Dibungkus Kertas?
Salah satu hal yang membedakan Es Drop dari es lilin modern adalah kemasannya.
Jika sekarang banyak produk menggunakan plastik, Es Drop tradisional justru dibungkus dengan kertas roti atau kertas tipis.
Pemilihan bahan tersebut bukan tanpa alasan.
Selain telah digunakan sejak dahulu, kemasan kertas dianggap lebih aman dan mengurangi risiko perpindahan zat pewarna dari plastik ke makanan. Dari sisi lingkungan, penggunaan kertas juga lebih mudah terurai.
Kemasan sederhana ini justru menjadi identitas yang masih dipertahankan hingga sekarang.
Bahan Dasar Es Drop
Rahasia kelezatan Es Drop terletak pada bahan-bahan yang digunakan.
Komposisi utamanya meliputi
- Santan segar dari kelapa tua.
- Susu sapi segar.
- Gula merah asli.
- Gula pasir.
- Air.
- Bahan alami sesuai rasa.
Tanpa dominasi perisa sintetis, rasa santan dan gula merah tetap menjadi karakter utama.
Cara Membuat Es Drop di Rumah
Meski resep asli pabrik tidak dipublikasikan, masyarakat dapat membuat versi rumahan yang mendekati cita rasa tradisional.
Bahan yang diperlukan meliputi
- 250 gram kacang hijau.
- Santan dari dua butir kelapa tua.
- 100 gram gula merah.
- 200 gram gula pasir.
- 500 ml susu sapi segar.
- Air secukupnya.
- Stik kayu.
- Cetakan atau selongsong es lilin.
Langkah pembuatannya cukup mudah.
Rendam kacang hijau selama beberapa jam hingga mengembang. Setelah itu rebus sampai empuk.
Masukkan santan, gula merah, gula pasir, dan susu ke dalam rebusan. Aduk hingga semua gula larut.
Setelah dingin, haluskan menggunakan blender sampai teksturnya lembut.
Tuang ke dalam cetakan, pasang stik kayu, lalu bekukan selama semalaman.
Hasilnya memang tidak akan sama persis dengan buatan pabrik, tetapi cukup mampu menghadirkan rasa nostalgia.
Menjadi Ikon Kuliner Blitar
![]() |
| Alm. Mbah Bero, salah satu penjual es drop yang dikenal luas pada masanya |
Ada banyak alasan mengapa Es Drop layak disebut sebagai salah satu kuliner khas Blitar.
Pertama, pusat produksinya berada di Blitar dan masih aktif sejak tahun 1937.
Kedua, proses pembuatannya masih mempertahankan banyak cara tradisional.
Ketiga, Es Drop telah menjadi bagian dari pengalaman wisata di Kota Blitar. Banyak wisatawan yang sengaja mencarinya setelah mengunjungi Makam Bung Karno, Candi Penataran, atau berbagai destinasi lain.
Keempat, harganya tetap terjangkau sehingga dapat dinikmati oleh semua kalangan.
Kelima, nilai sejarah yang dimilikinya membuat Es Drop lebih dari sekadar makanan. Ia menjadi penanda perjalanan panjang kota ini.
Bertahan di Tengah Perubahan Zaman
Tidak semua kuliner tradisional mampu melewati perubahan selera masyarakat.
Banyak jajanan lama menghilang karena kalah bersaing dengan produk industri besar.
Es Drop menunjukkan perjalanan yang berbeda.
Ia tetap diproduksi oleh keluarga yang sama, tetap menggunakan identitas yang sama, dan tetap memiliki pelanggan dari berbagai generasi.
Orang tua membeli Es Drop untuk mengenang masa kecilnya. Anak-anak menikmatinya sebagai pengalaman baru yang berbeda dari es krim modern.
Perjumpaan dua generasi inilah yang membuat Es Drop terus hidup.
***
Es Drop merupakan salah satu warisan kuliner paling berharga dari Kota Blitar. Meski konsep es lilin telah dikenal di berbagai daerah Indonesia sejak akhir 1920-an, Es Drop Cap Burung Betet memiliki nilai sejarah yang kuat karena diproduksi secara konsisten sejak tahun 1937 di lokasi yang sama.
Cita rasa santan yang gurih, manisnya gula merah, kemasan kertas yang ikonik, serta cara penjualan tradisional menjadikannya memiliki karakter yang sulit ditiru.
Berkunjung ke Blitar rasanya belum lengkap tanpa menikmati sebatang Es Drop. Di balik tampilannya yang sederhana, tersimpan kisah panjang tentang tradisi, ketekunan, dan kemampuan sebuah kuliner lokal mempertahankan jati dirinya selama hampir satu abad.
IBM




0 Comments
Tinggalkan jejak komentar di sini