Blitar pada Masa Kerajaan Kadiri


Blitar memiliki sejarah panjang yang membentang jauh sebelum lahirnya Majapahit. Banyak orang mengenal daerah ini melalui kisah Bung Karno, Candi Penataran, atau legenda pengusiran pasukan Mongol. 

Jejak keberadaan wilayah Blitar sudah dapat ditelusuri sejak masa Kerajaan Kadiri atau Panjalu yang berpusat di Dahanapura (Daha), kini berada di wilayah Kota Kediri.

Bukti sejarah tersebut bukan berasal dari cerita rakyat, melainkan dari prasasti dan peninggalan arkeologi yang masih berdiri hingga sekarang. 

Salah satu yang paling penting adalah Candi Penataran atau yang pada masa pembangunannya dikenal sebagai Candi Palah.

Blitar Menjadi Bagian Wilayah Kerajaan Kadiri

Kerajaan Kadiri, yang juga dikenal sebagai Panjalu atau Daha, berdiri sekitar tahun 1042 hingga 1222 Masehi. Kerajaan Hindu-Buddha ini lahir setelah Raja Airlangga membagi kerajaannya menjadi dua, yakni Janggala dan Panjalu. 

Pusat pemerintahan Panjalu berada di Dahanapura atau Daha, yang berkembang menjadi salah satu kerajaan terbesar di Jawa Timur.

Posisi Blitar berada tidak terlalu jauh dari pusat kerajaan. Secara geografis, kawasan ini berada di lereng barat daya Gunung Kelud, memiliki tanah vulkanik yang subur, serta dilalui jalur penting menuju kawasan timur Jawa seperti Tumapel atau Malang. 

Letak tersebut membuat wilayah Blitar menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari struktur pemerintahan Kerajaan Kadiri.

Walaupun bukan ibu kota kerajaan, daerah ini memiliki fungsi yang penting dalam menopang kehidupan ekonomi, keagamaan, sekaligus jalur transportasi pada masa itu.

Candi Palah Menjadi Bukti Terkuat

Pembahasan mengenai sejarah Blitar pada era Kadiri hampir selalu mengarah pada Candi Penataran.

Nama asli kompleks tersebut adalah Candi Palah, sebagaimana tercatat dalam prasasti yang ditemukan di kawasan candi.

Kompleks candi ini terletak di Desa Penataran, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar. Hingga kini, Penataran dikenal sebagai kompleks candi Hindu terbesar di Jawa Timur dan menjadi salah satu peninggalan arkeologi paling penting di Indonesia.

Pembangunan Candi Palah dimulai sekitar tahun 1194 Masehi, ketika Kerajaan Kadiri dipimpin oleh Raja Srengga. Raja ini memiliki gelar panjang Sri Maharaja Sri Sarweśwara Triwikramāwatārānindita Çrengalancana Digwijayottuṅgadeva, yang menunjukkan kedudukannya sebagai penguasa besar pada akhir masa kejayaan Kadiri.

Keberadaan Candi Palah menjadi pusat kegiatan keagamaan Hindu-Siwa yang mendapat perhatian langsung dari kerajaan.

Prasasti Palah Tahun 1197 M

Bukti sejarah yang paling penting berasal dari Prasasti Palah yang berangka tahun 1119 Saka atau 1197 Masehi.

Prasasti ini dikeluarkan oleh Raja Srengga dan ditemukan di halaman kompleks candi. Isinya menyebutkan bahwa tempat tersebut dipersembahkan kepada Bathara Palah, yakni manifestasi Dewa Siwa.

Selain menjadi tempat pemujaan, Candi Palah juga memiliki fungsi sebagai candi gunung. Dalam tradisi Hindu Jawa Kuno, gunung dipandang sebagai tempat suci sekaligus pusat kosmos. 

Karena letaknya berada di lereng Gunung Kelud yang terkenal aktif, pembangunan candi dipercaya berkaitan dengan upaya spiritual memohon perlindungan dari bencana letusan gunung.

Dengan demikian, fungsi Candi Palah bukan hanya religius, melainkan juga memiliki makna sosial dan lingkungan bagi masyarakat Kadiri.

Dibangun pada Era Kadiri, Disempurnakan pada Era Majapahit

Salah satu kekeliruan yang sering muncul adalah anggapan bahwa Candi Penataran merupakan peninggalan Majapahit sepenuhnya.

Faktanya, pembangunan kompleks ini dimulai pada masa Kerajaan Kadiri. Setelah Kadiri runtuh akibat Pertempuran Ganter tahun 1222, kompleks candi tetap digunakan dan terus mengalami pembangunan pada masa Singhasari hingga Majapahit.

Akibat proses pembangunan yang berlangsung selama lebih dari dua abad, arsitektur Candi Penataran memperlihatkan perpaduan gaya dari beberapa periode sejarah Jawa Timur.

Hal inilah yang menjadikan Penataran sebagai salah satu situs arkeologi paling kaya untuk memahami perkembangan kebudayaan Hindu di Nusantara.

Banyak Prasasti Menunjukkan Keberadaan Wilayah Blitar

Selain Prasasti Palah, sejumlah prasasti lain menunjukkan bahwa wilayah yang kini menjadi Kabupaten Blitar telah dihuni dan memiliki peranan administratif sejak abad ke-11.

Menurut data sejarah Pemerintah Kabupaten Blitar, beberapa prasasti yang berkaitan dengan kawasan ini antara lain

  • Pandelegan I tahun 1117
  • Panumbangan I tahun 1120
  • Geneng I tahun 1128
  • Talang tahun 1136
  • Japun tahun 1144
  • Pandelegan II tahun 1159
  • Mleri tahun 1169
  • Jaring tahun 1181
  • Semanding tahun 1182
  • Palah tahun 1197
  • Subhasita tahun 1198
  • Mleri I tahun 1199
  • Tuliskriyo tahun 1202

Keberadaan prasasti-prasasti tersebut menunjukkan bahwa kawasan Blitar telah memiliki desa-desa yang diakui secara resmi oleh kerajaan.

Nama-nama tersebut menjadi bukti bahwa wilayah Blitar bukan kawasan kosong, melainkan telah memiliki sistem administrasi, pertanian, hingga aktivitas keagamaan yang berkembang.

Kawasan Pertanian yang Subur

Gunung Kelud telah lama menjadi sumber kesuburan bagi daerah sekitarnya.

Material vulkanik yang dibawa letusan gunung membuat tanah di kawasan Blitar sangat cocok untuk pertanian. Pada masa Kerajaan Kadiri, hasil pertanian menjadi salah satu sumber penting bagi kehidupan kerajaan.

Kemungkinan besar masyarakat ketika itu menanam padi, palawija, serta tanaman lain yang mendukung kebutuhan pangan kerajaan.

Karena itulah, wilayah Blitar memiliki peran sebagai daerah penyangga ekonomi bagi pusat pemerintahan di Daha.

Jalur Penghubung Antarwilayah

Selain pertanian, letak geografis Blitar menjadikannya jalur penting yang menghubungkan Daha dengan wilayah timur Jawa.

Perjalanan menuju Tumapel, Malang, maupun kawasan pesisir selatan dapat melewati wilayah ini. Keberadaan jalur tersebut mempermudah perpindahan penduduk, perdagangan, hingga perjalanan pejabat kerajaan.

Dalam konteks kerajaan agraris seperti Kadiri, penguasaan jalur transportasi merupakan bagian penting untuk menjaga stabilitas pemerintahan.

Pusat Keagamaan Hindu-Siwa

Pembangunan Candi Palah menunjukkan bahwa Blitar memiliki kedudukan penting dalam kehidupan keagamaan Kerajaan Kadiri.

Kompleks candi yang besar tidak mungkin dibangun tanpa dukungan kerajaan. Dibutuhkan tenaga kerja, pemahat batu, pendeta, serta sumber daya yang besar untuk mendirikannya.

Hal ini menunjukkan bahwa kawasan Palah bukan tempat biasa. Ia merupakan pusat pemujaan resmi yang memiliki hubungan langsung dengan kekuasaan kerajaan.

Tradisi tersebut terus berlanjut hingga masa Singhasari dan Majapahit, ketika para raja masih mengunjungi serta memperluas kompleks candi tersebut.

Mengapa Nama Blitar Belum Dikenal?

Menariknya, nama Blitar belum ditemukan dalam prasasti-prasasti era Kadiri.

Pada masa itu, wilayah ini lebih dikenal melalui nama-nama desa atau kawasan seperti Palah.

Nama Balitar atau Blitar baru muncul secara jelas pada masa Majapahit. Salah satu bukti penting berasal dari Prasasti Blitar tahun 1324 Masehi yang menetapkan Blitar sebagai daerah swatantra atau daerah yang memperoleh hak-hak istimewa tertentu.

Karena itu, ketika membahas sejarah abad ke-12, para sejarawan lebih sering menggunakan nama Palah daripada Blitar.

Jejak Sejarah yang Masih Berdiri

Tidak banyak daerah di Indonesia yang memiliki bukti fisik sejarah sepanjang Candi Penataran.

Kompleks ini masih berdiri kokoh setelah lebih dari delapan abad. Relief-reliefnya menggambarkan kisah Ramayana, Krishnayana, hingga berbagai simbol keagamaan yang mencerminkan kehidupan masyarakat Jawa Kuno.

Keberadaan candi tersebut membuat sejarah Blitar tidak hanya dapat dibaca melalui prasasti, tetapi juga dapat disaksikan langsung melalui tinggalan arkeologi.

Bagi para peneliti, Candi Penataran menjadi salah satu sumber utama untuk memahami perkembangan politik, agama, seni bangunan, dan budaya Jawa Timur sejak masa Kadiri hingga Majapahit.

***

Sejarah Blitar pada masa Kerajaan Kadiri menunjukkan bahwa daerah ini telah berkembang jauh sebelum kemunculan Majapahit. Bukti-bukti berupa Candi Palah, Prasasti Palah, dan belasan prasasti lain menegaskan bahwa kawasan Blitar merupakan bagian integral dari wilayah Kerajaan Kadiri.

Perannya memang bukan sebagai pusat pemerintahan, melainkan sebagai kawasan pertanian yang subur, jalur strategis penghubung antardaerah, sekaligus pusat pemujaan Hindu-Siwa yang penting. Semua itu didukung oleh bukti arkeologis dan prasasti yang telah diteliti oleh para ahli.

Dengan memahami sejarah ini, kita dapat melihat bahwa identitas Blitar dibangun melalui perjalanan panjang selama berabad-abad. Candi Penataran bukan hanya objek wisata sejarah, melainkan saksi bisu yang menghubungkan masa kini dengan kejayaan Kerajaan Kadiri pada abad ke-12.

IBM

0 Comments

Tinggalkan jejak komentar di sini