Bukan sekadar sebuah desa kecil, Blitar pada abad ke-14 merupakan salah satu wilayah penting di Jawa Timur. Namanya muncul dalam prasasti kerajaan, karya sastra istana, hingga catatan perjalanan Raja Hayam Wuruk.
Bukti-bukti tersebut menunjukkan bahwa Blitar memiliki kedudukan strategis sebagai daerah swatantra, pusat ritual keagamaan, sekaligus bagian penting dari jaringan administrasi Majapahit.
Menariknya, nama "Blitar" yang dikenal masyarakat saat ini ternyata hampir tidak berubah selama lebih dari tujuh abad. Berikut fakta-fakta sejarah mengenai Blitar pada era Majapahit berdasarkan prasasti, kakawin, dan kajian arkeologi.
1. Nama Blitar Sudah Tercatat Sejak Tahun 1324 M
Bukti tertua yang secara eksplisit menyebut nama Blitar berasal dari Prasasti Blitar I bertanggal 5 Agustus 1324 M atau 1246 Saka. Prasasti tersebut dibuat pada masa pemerintahan Raja Jayanegara, raja kedua Kerajaan Majapahit.
Dalam prasasti itu disebutkan bahwa Blitar memperoleh status sebagai daerah swatantra. Penetapan tersebut menjadi tonggak penting dalam sejarah daerah sehingga tanggal 5 Agustus 1324 kemudian ditetapkan sebagai Hari Lahir Kabupaten Blitar.
Keberadaan nama Blitar dalam dokumen resmi kerajaan menunjukkan bahwa wilayah ini sudah memiliki identitas administratif yang jelas pada awal abad ke-14.
2. Nama Blitar Tidak Berasal dari Kisah Mengusir Bangsa Tartar
Di kalangan masyarakat berkembang legenda tentang Nilasuwarna yang berhasil mengusir pasukan Tartar sehingga daerah tersebut dinamai Balitar, yang dimaknai sebagai "kembalinya bangsa Tartar".
Cerita ini memang populer sebagai cerita rakyat, tetapi para sejarawan menganggapnya sebagai etimologi rakyat atau folklor. Kisah tersebut kemungkinan mencampurkan berbagai peristiwa sejarah, terutama Ekspedisi Mongol ke Jawa pada tahun 1293.
Hingga kini belum ditemukan prasasti ataupun dokumen sezaman yang mendukung kisah tersebut sebagai asal-usul nama Blitar. Sebaliknya, sumber-sumber primer menunjukkan bahwa nama Blitar memang telah digunakan secara resmi pada masa awal Majapahit.
3. Wilayah Blitar Sudah Berkembang Sejak Era Kadiri dan Singhasari
Walaupun nama Blitar baru muncul secara jelas pada awal Majapahit, wilayahnya telah berkembang jauh sebelumnya.
Berbagai prasasti dari masa Kerajaan Kadiri dan Singhasari telah menyebut desa-desa yang kini berada di kawasan Blitar, antara lain:
- Prasasti Palah (1197 M)
- Prasasti Petung Ombo (1260 M)
- Prasasti Jaring
- Prasasti Talan
Temuan tersebut menunjukkan bahwa kawasan Blitar sudah menjadi daerah permukiman, pertanian, dan pusat kegiatan keagamaan sejak abad ke-12.
Dengan demikian, Majapahit sebenarnya mewarisi kawasan yang telah berkembang sejak masa kerajaan-kerajaan sebelumnya.
4. Blitar Berstatus Daerah Swatantra
Salah satu fakta paling penting dari Prasasti Blitar I adalah penetapan Blitar sebagai daerah swatantra.
Dalam sistem pemerintahan Jawa Kuno, daerah swatantra merupakan wilayah yang memperoleh hak-hak khusus dari raja. Status tersebut biasanya diberikan kepada daerah yang memiliki jasa besar atau menunjukkan kesetiaan kepada kerajaan.
Para ahli menduga pemberian status tersebut berkaitan dengan situasi politik setelah berbagai pemberontakan yang terjadi pada masa Jayanegara, seperti pemberontakan Nambi, Kuti, dan Seni.
Dengan status swatantra, Blitar memperoleh kedudukan istimewa dalam struktur pemerintahan Majapahit.
5. Blitar Menjadi Daerah Agraris yang Makmur
Lereng Gunung Kelud dan kawasan selatan Gunung Kawi sejak dahulu dikenal memiliki tanah vulkanik yang sangat subur.
Kesuburan inilah yang menjadikan Blitar berkembang sebagai wilayah agraris penting bagi Majapahit.
Hasil pertanian tidak hanya mencukupi kebutuhan masyarakat setempat, tetapi juga menjadi bagian dari sistem ekonomi kerajaan. Keberadaan desa-desa besar yang disebut dalam berbagai prasasti memperlihatkan bahwa kawasan ini memiliki populasi yang cukup padat untuk ukuran zamannya.
Kemakmuran agraris menjadi salah satu alasan mengapa kerajaan memberikan perhatian khusus terhadap wilayah Blitar.
6. Candi Penataran Menjadi Candi Negara Majapahit
Tidak dapat membahas sejarah Blitar tanpa menyebut Candi Penataran atau nama kunonya, Candi Palah.
Kompleks candi ini merupakan candi Hindu terbesar di Jawa Timur dan menjadi salah satu pusat keagamaan terpenting pada masa Majapahit.
Sejarahnya bahkan lebih tua daripada Majapahit sendiri. Prasasti Palah tahun 1197 M telah menyebut keberadaan tempat suci Bhatara Palah pada akhir masa Kerajaan Kadiri.
Ketika Majapahit berdiri, kompleks tersebut terus diperluas oleh beberapa raja, mulai dari Jayanegara hingga Wikramawardhana.
Bentuk bangunannya yang megah menunjukkan bahwa Penataran bukan sekadar candi desa, melainkan candi negara yang memiliki fungsi keagamaan tingkat kerajaan.
7. Raja Hayam Wuruk Berulang Kali Mengunjungi Blitar
Bukti penting lainnya berasal dari Kakawin Nagarakertagama karya Mpu Prapanca yang selesai ditulis pada tahun 1365.
Dalam karya sastra kerajaan tersebut, Hayam Wuruk diceritakan melakukan perjalanan keliling Jawa Timur untuk menjalankan ritual keagamaan sekaligus memperkuat hubungan dengan daerah-daerah penting.
Nama Blitar muncul beberapa kali sebagai salah satu tujuan perjalanan tersebut.
Hal ini menunjukkan bahwa wilayah Blitar mendapat perhatian langsung dari raja, bukan sekadar daerah pinggiran.
8. Nama Blitar Berkali-kali Disebut dalam Nagarakertagama
Keistimewaan Blitar semakin terlihat karena namanya disebut dalam beberapa pupuh Nagarakertagama.
Pada Pupuh 17, Mpu Prapanca menggambarkan perjalanan ziarah raja yang menuju Palah, kemudian melanjutkan perjalanan ke Blitar dan Jimur.
Pada Pupuh 61 disebutkan perjalanan Hayam Wuruk menuju Candi Palah, Lawang Wentar, Blitar, hingga Lodaya.
Sementara pada Pupuh 73, Blitar kembali muncul dalam daftar lokasi candi makam kerajaan.
Penyebutan berulang ini menunjukkan bahwa Blitar merupakan bagian penting dari lanskap politik dan spiritual Majapahit.
9. Blitar Menjadi Pusat Ritual Keagamaan Kerajaan
Perjalanan Hayam Wuruk ke Blitar bukan sekadar kunjungan administratif.
Dalam Nagarakertagama dijelaskan bahwa raja datang untuk melakukan pemujaan, ziarah, dan penghormatan kepada leluhur kerajaan.
Kompleks Candi Penataran menjadi lokasi utama pelaksanaan ritual tersebut.
Peran keagamaan ini memperlihatkan bahwa Blitar memiliki fungsi religius yang sangat penting dalam kehidupan kerajaan.
10. Candi Kotes Menjadi Warisan Awal Majapahit
Selain Penataran, Blitar juga memiliki Candi Kotes yang berada di Kecamatan Gandusari.
Candi ini diperkirakan dibangun sekitar tahun 1300–1301 M, tidak lama setelah berdirinya Majapahit pada masa Raden Wijaya.
Keberadaan Candi Kotes memperlihatkan bahwa pembangunan fasilitas keagamaan di Blitar berlangsung sejak masa awal kerajaan dan terus berlanjut selama beberapa generasi.
11. Blitar Menjadi Jalur Penting Perjalanan Kerajaan
Dalam Nagarakertagama tergambar bahwa perjalanan raja tidak dilakukan secara acak.
Semua rute telah dirancang untuk menghubungkan pusat-pusat pemerintahan, kawasan pertanian, dan tempat-tempat suci.
Blitar berada pada jalur strategis yang menghubungkan kawasan pedalaman Jawa Timur dengan wilayah selatan.
Posisi geografis tersebut membuat Blitar menjadi titik persinggahan penting dalam perjalanan kerajaan.
12. Blitar Menjadi Kawasan Candi Makam Leluhur
Pupuh 73 Nagarakertagama memasukkan Blitar ke dalam daftar lokasi candi makam kerajaan.
Tradisi candi makam merupakan salah satu ciri khas kerajaan Hindu-Buddha di Jawa.
Seorang raja yang wafat biasanya dipuja melalui bangunan suci yang menjadi simbol penyatuan dirinya dengan dewa.
Penyebutan Blitar dalam konteks tersebut menunjukkan bahwa kawasan ini memiliki hubungan erat dengan penghormatan terhadap leluhur dinasti Majapahit.
13. Kutipan Nagarakertagama Menjadi Bukti Historis yang Sangat Penting
Salah satu bagian terkenal dari Pupuh 61 berbunyi:
«"Baginda raja berangkat menyekar ke Palah bersama pengiring... Di Lawang Wentar, Blitar menenteramkan cita. Dari Blitar ke selatan jalannya mendaki..."»
Kutipan ini sangat berharga karena merupakan kesaksian langsung dari seorang pujangga istana yang hidup sezaman dengan Hayam Wuruk.
Berbeda dengan legenda rakyat, Nagarakertagama merupakan sumber primer yang memiliki nilai historis tinggi.
14. Prasasti Blitar I Menjadi Dasar Hari Jadi Kabupaten Blitar
Tidak banyak daerah di Indonesia yang memiliki hari jadi berdasarkan tanggal pasti dari sebuah prasasti.
Kabupaten Blitar termasuk salah satunya.
Tanggal 5 Agustus 1324 dipilih karena merupakan tanggal yang tercantum dalam Prasasti Blitar I mengenai penetapan wilayah swatantra.
Penetapan ini memberikan dasar sejarah yang kuat dibandingkan sekadar menggunakan legenda atau tradisi lisan.
15. Jejak Majapahit Masih Dapat Disaksikan Hingga Sekarang
Warisan Majapahit di Blitar tidak hanya hidup dalam prasasti dan naskah kuno.
Kompleks Candi Penataran masih berdiri megah sebagai situs arkeologi terbesar di Jawa Timur.
Candi Kotes, Lawang Wentar, serta berbagai temuan prasasti juga menjadi bukti nyata bahwa kawasan ini pernah menjadi salah satu wilayah penting Majapahit.
Bagi peneliti sejarah, Blitar merupakan laboratorium terbuka untuk memahami hubungan antara politik, agama, dan kehidupan masyarakat Jawa pada abad ke-14.
Blitar, Salah Satu Wilayah Strategis Majapahit
Sejarah menunjukkan bahwa Blitar bukanlah daerah pinggiran dalam struktur Kerajaan Majapahit. Sejak awal abad ke-14, wilayah ini telah memiliki identitas administratif yang jelas, dibuktikan melalui Prasasti Blitar I yang menetapkannya sebagai daerah swatantra.
Selain berfungsi sebagai kawasan agraris yang makmur, Blitar berkembang menjadi pusat keagamaan kerajaan melalui keberadaan Candi Penataran dan Candi Kotes. Raja Hayam Wuruk sendiri beberapa kali mengunjungi wilayah ini untuk melaksanakan ritual keagamaan dan memperkuat hubungan dengan daerah-daerah penting di Jawa Timur.
Kakawin Nagarakertagama karya Mpu Prapanca menjadi saksi bahwa nama Blitar telah dikenal lebih dari 700 tahun lalu. Bersama prasasti-prasasti kuno yang ditemukan di wilayah tersebut, sumber-sumber ini menegaskan bahwa Blitar memiliki posisi strategis dalam sejarah Majapahit.
Hingga kini, keberadaan situs-situs arkeologi di Blitar menjadi pengingat bahwa daerah ini pernah menjadi salah satu pusat penting peradaban Jawa klasik, tempat bertemunya kekuasaan politik, kegiatan keagamaan, dan kehidupan masyarakat agraris yang menopang kejayaan Kerajaan Majapahit.
Blitar dalam Kakawin Nagarakertagama dan Prasasti Majapahit
Keberadaan Blitar pada masa Majapahit bukan hanya diketahui melalui temuan arkeologi, tetapi juga tercatat secara eksplisit dalam karya sastra kerajaan dan prasasti resmi. Dua sumber primer terpenting adalah Kakawin Nagarakertagama (Desawarnana) karya Mpu Prapanca yang selesai ditulis pada tahun 1365 M serta Prasasti Blitar I bertanggal 5 Agustus 1324 M.
Berikut kutipan-kutipan yang menyebut Blitar beserta terjemahannya.
1. Pupuh 17 Nagarakertagama, Rute Ziarah Raja Hayam Wuruk
Mpu Prapanca menggambarkan perjalanan Raja Hayam Wuruk menuju berbagai tempat suci di Jawa Timur. Dalam perjalanan tersebut, Blitar disebut sebagai salah satu tujuan utama.
Teks asli (Kawi)
Yan tan manka mareŋ phalah mark i jǝŋ hyan acalapati bhakti sadara,
pantes yan panulus dateŋ ri balitar mwan i jimur i çilahrit alnöŋ,
mukyaŋ polaman iŋ dahe kuwu ri lingamarabanun ika lanenusi,
yan riŋ jangala lot sabha nrpati riŋ surabhaya manulus mare buwun.
Terjemahan bahasa Indonesia
Apabila tidak demikian, beliau pergi ke Palah untuk berbakti kepada Hyang Acalapati.
Setelah itu biasanya melanjutkan perjalanan ke Blitar, kemudian ke Jimur dan pegunungan yang indah.
Selanjutnya menuju Polaman di Daha, Kuwu, Lingga hingga Bangin.
Bila memasuki wilayah Janggala, beliau singgah di Surabaya lalu meneruskan perjalanan ke Buwun.
Kutipan ini menunjukkan bahwa Blitar merupakan bagian dari jalur ziarah kerajaan dan memiliki arti penting dalam kegiatan keagamaan Majapahit.
2. Pupuh 61 Nagarakertagama, Kunjungan Raja ke Palah dan Blitar
Pupuh ini merupakan bagian paling terkenal karena secara jelas menceritakan perjalanan Hayam Wuruk menuju Candi Palah (kini Candi Penataran) dan Blitar.
Teks asli (Kawi)
Ndan ri çakha tri tanu rawi riŋ weçaka,
çri natha muja mara ri palah sabhrtya,
jambat siŋ ramya pinaraniran lanlitya,
ri lwaŋ wentar mmanuri balitar mwaŋ jimbe.
Janjan sanke balitar anidul tut margga,
senkan poryyaŋ gatarasa tahenyadoh wwe,
ndah prapteŋ lodaya sira piraŋ ratryanher.
Terjemahan bahasa Indonesia
Pada tahun Saka 1283, bulan Waisaka,
Baginda Raja berangkat berziarah ke Palah bersama seluruh pengiringnya.
Setelah menikmati keindahan Jimbe,
beliau melanjutkan perjalanan ke Lawang Wentar, Blitar, dan sekitarnya sehingga hati menjadi tenteram.
Dari Blitar perjalanan diteruskan ke arah selatan melalui jalan yang menanjak.
Pepohonan tampak jarang dan daerahnya kekurangan air.
Akhirnya rombongan tiba di Lodaya dan bermalam beberapa hari di sana.
Bait ini memperlihatkan bahwa Blitar menjadi titik penting dalam perjalanan resmi Raja Hayam Wuruk. Setelah singgah di kawasan tersebut, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Lodaya dan Simping untuk menghormati leluhur kerajaan.
3. Pupuh 73 Nagarakertagama, Daftar Tempat Suci Kerajaan
Pada pupuh ini Mpu Prapanca menyebut berbagai lokasi candi pendharmaan dan tempat pemujaan leluhur.
Teks asli (Kawi)
... len balitar, çilahrit i waleri babeg i kukap ri lumban i pagör.
Terjemahan bahasa Indonesia
... kemudian Balitar, Silahrit, Waleri, Babeg, Kukap, Lumbang, dan Puger.
Walaupun singkat, penyebutan ini memperlihatkan bahwa Blitar termasuk dalam jaringan tempat suci dan pendharmaan yang diakui oleh kerajaan.
Prasasti Blitar I (1324 M)
Prasasti Blitar I merupakan sumber primer paling penting mengenai sejarah administratif Blitar pada masa Majapahit.
Tanggal prasasti
5 Agustus 1324 M atau 1246 Saka, masa pemerintahan Raja Jayanegara.
Pembuka prasasti (Kawi)
Swasti sakawarsatita 1246 Srawanamasa tithi pancadasi Suklapaksa wu para wara...
Terjemahan
Selamat. Pada tahun Saka 1246, bulan Srawana, hari kelima belas paruh terang, pada hari yang telah ditentukan...
Bagian selanjutnya berisi penetapan Blitar sebagai daerah swatantra, yakni wilayah yang memperoleh kedudukan istimewa di bawah Kerajaan Majapahit. Berdasarkan kajian epigrafi dan sejarah resmi Kabupaten Blitar, status tersebut diberikan sebagai penghargaan atas kesetiaan masyarakat Blitar kepada kerajaan setelah berbagai pemberontakan pada masa awal pemerintahan Jayanegara.
Peristiwa inilah yang kemudian dijadikan dasar penetapan 5 Agustus 1324 sebagai Hari Lahir Kabupaten Blitar.
Makna Historis Penyebutan Blitar
Penyebutan nama Blitar dalam tiga pupuh Nagarakertagama dan Prasasti Blitar I memiliki arti yang sangat penting. Berbeda dengan cerita rakyat yang berkembang kemudian, sumber-sumber tersebut merupakan dokumen primer yang ditulis pada masa Majapahit sendiri.
Dari berbagai sumber itu dapat disimpulkan bahwa Blitar pada abad ke-14 merupakan wilayah yang telah memiliki identitas administratif, menjadi pusat kegiatan keagamaan melalui Candi Palah atau Penataran, masuk dalam rute perjalanan resmi Raja Hayam Wuruk, serta memperoleh status sebagai daerah swatantra yang memiliki kedudukan istimewa di dalam struktur Kerajaan Majapahit. []
0 Comments
Tinggalkan jejak komentar di sini