Menelusuri 12 Candi Utama di Kabupaten Blitar, Jejak Kediri hingga Majapahit


Kabupaten Blitar dikenal sebagai salah satu kawasan terpenting dalam sejarah Jawa Timur. Di wilayah ini berdiri sejumlah candi yang menjadi saksi perjalanan panjang peradaban Hindu-Buddha sejak masa Kerajaan Kediri, Singosari, hingga puncak kejayaan Majapahit. 

Tidak berlebihan jika Blitar disebut sebagai salah satu “museum terbuka” sejarah Jawa Timur karena memiliki sekitar 12 candi utama serta puluhan situs arkeologi yang tersebar di berbagai kecamatan.

Keberadaan candi-candi tersebut tidak lepas dari posisi strategis Blitar yang berada di antara kawasan penting kerajaan-kerajaan besar Jawa Timur. Lereng Gunung Kelud, aliran sungai-sungai besar, serta tanah vulkanik yang subur menjadikan wilayah ini ideal sebagai pusat pemukiman sekaligus tempat pelaksanaan ritual keagamaan.

Sebagian besar candi di Blitar bercorak Hindu-Siwa, meskipun beberapa menunjukkan pengaruh Buddha. Fungsi bangunan-bangunan ini beragam, mulai dari tempat pemujaan, pendharmaan raja, hingga lokasi ziarah dan kegiatan spiritual masyarakat pada masanya.

Berikut 12 candi utama di Kabupaten Blitar yang menjadi peninggalan berharga peradaban Nusantara.

1. Candi Penataran, Mahakarya Terbesar Jawa Timur

Candi Penataran atau Candi Palah merupakan kompleks candi terbesar dan paling megah di Jawa Timur. Terletak di Desa Penataran, Kecamatan Nglegok, kompleks ini mulai dibangun sekitar tahun 1194 M pada masa Kerajaan Kediri dan terus dikembangkan hingga era Majapahit.

Keistimewaan Candi Penataran terletak pada luas kompleksnya yang mencapai belasan ribu meter persegi. Di dalamnya terdapat gerbang, pendopo, kolam suci, bangunan induk, serta relief yang menggambarkan kisah Ramayana dan Mahabharata dengan gaya khas Jawa Timur.

Selama berabad-abad, kompleks ini menjadi pusat pemujaan Hindu-Siwa dan dipercaya memiliki hubungan erat dengan pemujaan terhadap Gunung Kelud yang sering meletus.

2. Candi Sawentar, Jejak Majapahit dalam Negarakertagama

Berada di Desa Sawentar, Kecamatan Kanigoro, Candi Sawentar merupakan salah satu situs yang disebut dalam Kitab Negarakertagama dengan nama Lwa Wentar.

Kompleks ini terdiri atas Sawentar I dan Sawentar II. Bangunan utamanya memperlihatkan ciri khas arsitektur Majapahit abad ke-14 dengan bentuk ramping dan penggunaan bata merah serta batu andesit.

Sawentar I telah dipugar dan cukup terawat, sedangkan Sawentar II masih menjadi objek penelitian arkeologis karena diduga berkaitan dengan konflik internal Majapahit yang dikenal sebagai Perang Paregreg.

3. Candi Simping, Tempat Pendharmaan Raden Wijaya

Candi Simping memiliki nilai sejarah luar biasa karena diyakini sebagai tempat pendharmaan Raden Wijaya, pendiri Kerajaan Majapahit.

Terletak di Desa Sumberjati, Kecamatan Kademangan, situs ini dahulu merupakan bangunan penting yang digunakan untuk menghormati raja setelah wafatnya pada tahun 1309.

Sayangnya, sebagian besar struktur bangunan telah hilang. Kini yang tersisa hanyalah bagian pondasi dan beberapa batu candi yang menunjukkan kemegahan masa lalu.

4. Candi Kotes, Warisan Awal Majapahit

Candi Kotes berada di Kecamatan Gandusari dan sering disebut pula sebagai Candi Papoh. Situs ini diperkirakan berasal dari awal masa Majapahit.

Meskipun hanya menyisakan bagian kaki bangunan dan tangga, Candi Kotes tetap penting karena memperlihatkan pola arsitektur Hindu-Siwa khas Jawa Timur. Struktur yang tersisa menunjukkan bahwa bangunan ini dahulu memiliki fungsi religius yang cukup penting.

5. Candi Kalicilik, Menyimpan Arca Agastya

Di Desa Candirejo, Kecamatan Ponggok, berdiri Candi Kalicilik yang diperkirakan dibangun pada tahun 1349 M.

Penemuan arca Agastya menjadi petunjuk kuat bahwa candi ini bercorak Hindu-Siwa. Agastya merupakan salah satu tokoh penting dalam tradisi Hindu yang sering ditempatkan di sisi selatan candi.

Walaupun ukurannya tidak sebesar Penataran, kondisi Candi Kalicilik relatif lebih baik dibanding sejumlah situs lain yang hanya berupa reruntuhan.

6. Candi Gambar Wetan, Punden Berundak di Lereng Kelud

Candi Gambar Wetan terletak di wilayah Nglegok, tidak jauh dari kawasan Gunung Kelud. Situs ini unik karena berada di atas punden berundak yang terdiri atas beberapa teras.

Struktur bangunannya sebagian menyatu dengan kontur bukit sehingga berbeda dari kebanyakan candi Majapahit lainnya. Hingga sekarang, masyarakat sekitar masih memanfaatkan kawasan ini untuk berbagai tradisi dan selamatan desa.

Keberadaan situs ini menunjukkan bahwa unsur kepercayaan lokal dan agama Hindu pernah berpadu dalam kehidupan masyarakat setempat.

7. Candi Plumbangan, Situs Bersejarah Masa Wikramawardhana

Candi Plumbangan berada di Kecamatan Doko dan diperkirakan berasal dari sekitar tahun 1390 M pada masa pemerintahan Wikramawardhana.

Beberapa ahli melihat adanya pengaruh Buddha pada bangunan ini, meskipun identitas religiusnya masih menjadi bahan kajian. Kini hanya tersisa bagian-bagian bangunan yang tersebar di area situs.

Meski kondisinya tidak utuh, Candi Plumbangan tetap menjadi sumber penting untuk memahami perkembangan arsitektur akhir Majapahit.

8. Candi Wringin Branjang, Bangunan Misterius di Gandusari

Berada dalam kompleks Situs Gadungan, Candi Wringin Branjang merupakan salah satu situs yang paling unik di Blitar.

Bangunan ini hanya terdiri atas tubuh dan atap candi tanpa kaki bangunan yang jelas. Bentuknya yang tidak lazim membuat para peneliti menduga bahwa fungsi candi ini berbeda dari kebanyakan candi pemujaan.

Ada pendapat yang menyebut bangunan tersebut digunakan sebagai tempat penyimpanan perlengkapan ritual keagamaan.

9. Candi Bacem, Dua Bangunan dalam Satu Kawasan

Candi Bacem terletak di Kecamatan Sutojayan dan terdiri atas dua bangunan yang terpisah cukup jauh.

Keberadaan candi induk dan candi perwara menunjukkan bahwa kompleks ini dahulu memiliki fungsi keagamaan yang cukup besar. Meski tidak sepopuler Penataran atau Sawentar, bentuk bangunannya masih dapat dikenali dengan cukup jelas.

Masyarakat sekitar juga menyimpan berbagai cerita rakyat yang menambah daya tarik situs ini.

10. Candi Tepas, Situs Sunyi Bernuansa Spiritual

Di lereng Gunung Gogoniti terdapat Candi Tepas yang menjadi salah satu situs paling menarik di Blitar.

Bangunan ini relatif sederhana dan minim relief. Sejumlah peneliti mengaitkannya dengan konsep spiritual Hindu-Buddha yang menekankan kesunyataan atau sunyata.

Lokasinya yang tenang dan jauh dari keramaian membuat Candi Tepas sering dianggap sebagai tempat yang memiliki suasana kontemplatif.

11. Candi Rambut Monte, Perpaduan Sejarah dan Wisata Alam

Nama Rambut Monte lebih dikenal sebagai kawasan telaga alami yang dihuni ikan dewa. Namun di sekitar telaga tersebut terdapat peninggalan candi Hindu yang menjadi bagian penting sejarah Blitar.

Situs ini berada di Desa Krisik, Kecamatan Gandusari. Kombinasi antara telaga jernih, hutan rindang, dan peninggalan sejarah menjadikan Rambut Monte sebagai destinasi wisata yang unik.

Pengunjung dapat menikmati wisata alam sekaligus mempelajari jejak kebudayaan Majapahit.

12. Candi Sumbernanas, Situs yang Bangkit dari Endapan Kelud

Candi Sumbernanas merupakan salah satu situs yang paling terdampak aktivitas Gunung Kelud. Situs ini ditemukan kembali pada tahun 1919 setelah longsor dan erupsi menyingkap bagian-bagian bangunan yang sebelumnya tertimbun.

Saat ini hanya tersisa fondasi dan batu-batu candi yang tersebar. Meski demikian, keberadaan Sumbernanas menjadi bukti bahwa masih banyak peninggalan sejarah di Blitar yang kemungkinan masih tersembunyi di bawah lapisan material vulkanik.

Mengapa Banyak Candi Berdiri di Blitar?

Sebagian besar candi di Blitar dibangun dekat gunung dan sungai. Dalam kosmologi Hindu Jawa Kuno, gunung dianggap sebagai tempat bersemayam para dewa, sementara sungai melambangkan sumber kehidupan dan kesucian.

Gunung Kelud yang mendominasi lanskap Blitar bukan hanya sumber kesuburan tanah, tetapi juga memiliki makna spiritual yang kuat. Karena itu banyak bangunan suci didirikan di kawasan sekitarnya.

Di sisi lain, letusan Kelud yang berulang kali terjadi selama berabad-abad turut menyebabkan banyak candi rusak, terkubur lahar, atau hanya menyisakan fondasi.

Warisan Besar yang Perlu Dijaga

Dari 12 candi utama di Kabupaten Blitar, hanya beberapa yang masih berdiri relatif utuh dan ramai dikunjungi wisatawan. Sebagian besar lainnya berada dalam kondisi reruntuhan yang memerlukan perhatian lebih lanjut.

Meski demikian, setiap batu yang tersisa menyimpan cerita penting tentang perjalanan panjang peradaban Jawa Timur. Candi-candi tersebut bukan sekadar objek wisata, melainkan arsip sejarah yang merekam perkembangan agama, politik, seni, dan budaya sejak era Kediri hingga Majapahit.

Keberadaan sekitar 12 candi utama dan puluhan situs pendukung menjadikan Blitar sebagai salah satu kawasan arkeologi paling penting di Indonesia. Bagi pencinta sejarah, menjelajahi candi-candi di Blitar sama artinya dengan menelusuri jejak kejayaan kerajaan-kerajaan besar Nusantara yang pernah menguasai Jawa berabad-abad lalu. []

0 Comments

Tinggalkan jejak komentar di sini