Di Dusun Sendung, Desa Ngaglik, Kecamatan Srengat, Kabupaten Blitar, terdapat sebuah stasiun kereta api nonaktif yang kini hampir terlupakan. Namanya Stasiun Bendo atau dikenal juga sebagai Stasiun Sendung. Meski sudah lama berhenti beroperasi, lokasi ini masih menyimpan jejak sejarah perkeretaapian di wilayah Blitar dan jalur selatan Jawa Timur.
Stasiun ini memiliki kode BDO dengan nomor registrasi 5018. Letaknya berada di kilometer 128+014 pada lintas Bangil–Blitar–Kertosono dengan ketinggian sekitar 151 meter di atas permukaan laut. Dahulu stasiun ini memiliki dua jalur kereta, dengan jalur kedua menjadi sepur lurus.
Meski bernama Stasiun Bendo, lokasinya sebenarnya tidak berada di Desa Bendo, Kecamatan Ponggok. Stasiun ini justru berada di Dusun Sendung, Desa Ngaglik, yang posisinya berada agak ke tenggara dari wilayah Bendo.
Stasiun Bendo dibangun pada akhir abad ke-19 oleh Staatsspoorwegen (SS), perusahaan kereta api milik pemerintah Hindia Belanda. Pembangunannya menjadi bagian dari jalur oosterlijnen atau lintas timur yang menghubungkan Kertosono dengan Blitar.
Jalur tersebut mulai beroperasi sekitar tahun 1884. Stasiun Blitar sendiri resmi dibuka pada 16 Juni 1884 dan Halte Bendo diduga mulai digunakan pada periode yang sama atau tidak lama setelahnya.
Pada masa kolonial, stasiun kecil seperti ini disebut halte. Meski ukurannya tidak besar, keberadaannya cukup penting bagi masyarakat sekitar. Halte Bendo melayani penumpang lokal sekaligus pengangkutan hasil pertanian dari wilayah Srengat dan sekitarnya.
Saat itu kereta api menjadi sarana transportasi utama masyarakat desa. Warga menggunakan kereta untuk bepergian menuju Blitar, Tulungagung, maupun Kertosono. Selain penumpang, berbagai hasil bumi juga dikirim melalui jalur kereta api.
Jalur ini juga memiliki fungsi strategis pada masa Hindia Belanda. Selain mendukung aktivitas ekonomi, rel kereta digunakan untuk kebutuhan logistik dan mobilitas militer. Dalam beberapa periode, Stasiun Bendo bahkan pernah menjadi batas administrasi antara Daerah Operasi VIII Surabaya dan Daerah Operasi VII Madiun.
Pada masa aktifnya, kereta lokal dan kereta kluthuk rutin berhenti di stasiun ini. Aktivitas naik turun penumpang berlangsung cukup ramai untuk ukuran halte kecil di pedesaan.
Beberapa catatan lama juga menyebut adanya kecelakaan kecil di sekitar Stasiun Bendo pada tahun 1928 dan 1938. Meski tidak tergolong insiden besar, catatan tersebut menunjukkan bahwa jalur ini dahulu cukup aktif dilalui kereta api.
Memasuki dekade 1970-an hingga 1980-an, aktivitas stasiun mulai menurun. Masyarakat perlahan beralih menggunakan transportasi darat seperti bus, angkutan umum, dan kendaraan pribadi yang dianggap lebih fleksibel.
Selain itu, PJKA yang menjadi pengelola kereta api saat itu mulai melakukan efisiensi operasional. Banyak stasiun kecil dengan jumlah penumpang minim ditutup karena tidak lagi menguntungkan.
Stasiun Bendo akhirnya berhenti beroperasi sekitar dekade 1980-an. Tidak ada catatan resmi mengenai tanggal penutupannya. Namun nama Stasiun Bendo masih tercantum dalam Buku Jarak Angkutan Barang PJKA edisi Mei 1982. Karena itu, sejumlah sumber memperkirakan stasiun ini ditutup setelah tahun tersebut hingga akhir 1980-an atau awal 1990-an.
Kini kondisi Stasiun Bendo nyaris hilang. Bangunan utama, peron, dan area emplasemen sebagian besar sudah rata dengan tanah dan tertutup rumput liar serta ilalang. Hanya satu jalur rel aktif yang masih tersisa dan tetap digunakan kereta api lintas selatan Jawa.
Di sekitar lokasi masih terdapat bekas rumah dinas pegawai kereta api yang berdiri dalam kondisi terbengkalai. Bangunan itu disebut pernah dihuni oleh manajer KAI wilayah Blitar pada periode 2006 hingga 2015 sebelum akhirnya kosong kembali.
Meski sudah tidak beroperasi, Stasiun Bendo masih menarik perhatian pecinta sejarah dan komunitas railfans. Beberapa warga dan pegiat sejarah lokal sesekali datang untuk mendokumentasikan sisa-sisa bangunan serta menelusuri sejarah jalur kereta lama di wilayah Blitar.
Di media sosial, foto dan video bekas Stasiun Bendo juga mulai bermunculan. Banyak konten di YouTube, TikTok, hingga Instagram menampilkan kondisi eks stasiun yang kini dipenuhi rumput dan suasana sunyi pedesaan.
Keberadaan Stasiun Bendo menjadi pengingat bahwa jalur kereta api pernah menjadi bagian penting kehidupan masyarakat desa. Dari halte kecil inilah warga dahulu bepergian, mengirim hasil panen, hingga terhubung dengan kota-kota lain di Jawa Timur.
Kini Stasiun Bendo memang tinggal jejak. Namun sejarahnya tetap menjadi bagian dari perkembangan transportasi kereta api di Blitar yang layak dikenang.

0 Comments
Tinggalkan jejak komentar di sini