Blitar, Alternatif Tujuan Study Tour yang Baru


Blitar memang kerap kalah pamor dibanding Yogyakarta atau Malang ketika bicara soal tujuan studi tour. 

Dua kota itu sudah terlanjur identik dengan wisata edukasi: museum berderet, kampus ternama, dan destinasi yang itu-itu saja dalam brosur biro perjalanan. 

Blitar sering hanya disebut sekilas. Bahkan kadang dilewati. Padahal, jika mau jujur, Blitar menyimpan paket lengkap untuk studi tour: sejarah nasional, budaya, alam, hingga wisata edukatif yang relevan dengan pelajar masa kini.

Pertanyaannya sederhana: apakah Blitar prospek sebagai tujuan studi tour? Jawabannya: iya, sangat prospektif. 

Bahkan dengan pendekatan yang tepat, Blitar bisa menjadi alternatif yang lebih segar, lebih tenang, dan lebih kontekstual.

Destinasi paling ikonik tentu Makam Bung Karno. Ini bukan sekadar makam tokoh nasional. Di kawasan ini, peserta studi tour bisa belajar sejarah Indonesia secara langsung dan berlapis. 

Ada kompleks pemakaman, Perpustakaan Bung Karno dengan ribuan koleksi buku, ruang memorabilia yang menampilkan jejak kehidupan sang Proklamator, hingga area pasar oleh-oleh yang hidup sebagai ruang ekonomi rakyat. 

Di sini, siswa tidak hanya membaca sejarah, tapi melihat bagaimana sejarah hidup berdampingan dengan masyarakat. Diskusi tentang nasionalisme, kepemimpinan, dan gagasan kebangsaan bisa dimulai dari tempat ini.

Tak jauh dari sana, ada Monumen PETA (Pembela Tanah Air). Tempat ini penting untuk memahami sejarah militer Indonesia dan perlawanan terhadap penjajahan Jepang. 

Monumen ini menyimpan narasi tentang pemberontakan PETA yang dipimpin Supriyadi—sebuah bab penting dalam sejarah pergerakan nasional yang sering hanya dibaca sekilas di buku pelajaran. 

Untuk studi tour berbasis sejarah dan kewarganegaraan, Monumen PETA memberi konteks yang konkret dan membumi.

Blitar juga unggul dalam wisata sejarah yang lebih jauh ke belakang, melalui Candi Penataran. Ini adalah kompleks candi terbesar di Jawa Timur, peninggalan Kerajaan Kadiri dan Majapahit. 

Di sini, siswa bisa belajar arkeologi, seni relief, mitologi Hindu-Buddha, serta tata ruang peradaban kuno. 

Menariknya, kawasan Candi Penataran kini didukung fasilitas tambahan seperti museum, serta dekat dengan Wisata Telaga Pacuh—sebuah telaga alami yang bisa menjadi ruang belajar tentang ekologi dan konservasi lingkungan. 

Studi tour tidak harus selalu kaku; belajar bisa dilakukan sambil berjalan di alam.

Untuk kebutuhan wisata modern dan rekreatif, Blitar punya Blitar Park. Destinasi ini cocok sebagai penyeimbang agenda studi tour yang padat materi. 

Wahana permainan, edukasi ringan, dan ruang terbuka membuat siswa tetap menikmati perjalanan tanpa kehilangan unsur belajar. 

Dalam studi tour, unsur rekreasi bukan pelengkap semata, tapi bagian penting agar pengalaman belajar lebih berkesan.

Blitar juga menawarkan wisata edukasi berbasis ekonomi kreatif melalui Kampung Coklat. Di sini, peserta bisa belajar tentang budidaya kakao, proses produksi cokelat, manajemen usaha, hingga pemasaran produk lokal. 

Ini sangat relevan untuk pelajar SMK, mahasiswa, atau sekolah yang ingin mengaitkan studi tour dengan kewirausahaan. Belajar ekonomi tidak lagi abstrak; ia bisa dicicipi, secara harfiah.

Keunggulan lain Blitar yang sering luput adalah wilayah pesisir selatannya. Pantai Serang bukan hanya destinasi wisata alam, tapi juga menyimpan sejarah menarik tentang ikan mujair—ikan air tawar yang kini populer di Indonesia dan konon pertama kali ditemukan di kawasan Blitar. 

Ditambah lagi, akses Jalur Lintas Selatan (JLS) yang kini semakin bagus dan terhubung ke Pantai Pudak, Tambakrejo, hingga Gayasan, membuat wisata pantai di Blitar semakin mudah dan aman dijangkau. Ini membuka peluang studi tour berbasis geografi, kelautan, dan lingkungan.

Dari sisi biaya dan kepadatan, Blitar relatif lebih ramah dibanding kota tujuan studi tour populer. Lalu lintas lebih lengang, destinasi tidak terlalu penuh, dan suasana kota lebih tenang. Ini memberi ruang bagi siswa dan guru untuk benar-benar menikmati proses belajar, bukan sekadar mengejar checklist kunjungan.

Blitar memang tidak sepopuler Jogja atau Malang. Tapi justru di situlah keunggulannya. Ia menawarkan pengalaman studi tour yang lebih reflektif, kontekstual, dan kaya makna. 

Tinggal bagaimana sekolah, biro perjalanan, dan pemerintah daerah mengemas narasi Blitar sebagai ruang belajar terbuka. Jika itu dilakukan, Blitar bukan sekadar alternatif—ia bisa menjadi tujuan utama. []

0 Comments

Tinggalkan jejak komentar di sini