Simple Reunion, Pendekar FLP Blitar dari Generasi ke Generasi




Diaktifkannya kembali FLP Blitar pada 2015 silam adalah sebuah negosiasi, sebab sesungguhnya ada kesempatan untuk membuat komunitas tersendiri, yang khas Blitar. Saat itu, sementara kami menyebutnya Komunitas Penulis Blitar.

Kenapa demikian, ada dua alasan : Pertama, tak ingin terikat secara struktural dengan FLP di atasnya, alias mengikuti segala aturan atau "tuntutan" dari FLP Wilayah atau Pusat.

Kedua, saat itu, FLP Blitar "bukanlah apa-apa". Sebab disisi lain FLP Wilayah juga sedang vakum. Menggunakan nama FLP tidak lantas mempermudah geraknya. Tetap perlu perjuangan ekstra. Sama-sama berjuang, kenapa tidak bikin wadah baru yang lebih bersifat lokal saja?

Jangan dibayangkan dulu seperti sekarang, yang sudah banyak jejaring, sudah dikenal, ibaratnya sudah "punya nama".

Para penggerak saat itu sebagian dari FLP, sebagian tidak. Akhirnya diakomodir. Digunakanlah nama Komunitas Penulis Blitar dan FLP Blitar sekaligus. Dua berarti satu dan satu berarti dua.


***

Belakangan, saya merasakan seperti ada simple reunion, terutama ketika menyelesaikan project buku KPU yang semua timnya adalah anggota FLP Blitar.

Seperti menyelesaikan masalah bersama, yang sepertinya mirip-mirip saat sedang mengelola FLP Blitar sebelumnya. Sengkarut perdebatan, perbedaan pendapat, muncul di sana sini.

Sekarang FLP Blitar sudah lumayan populer, punya bargaining di birokrasi. Sebagai komunitas, jumlah anggotanya lumayan banyak.

Teringat para pendekar generasi awal dulu memanfaatkan link yang mereka punya untuk mengenalkan FLP Blitar, mengajak orang bergabung serta melakukan komunikasi dan pendekatan.

Ya, mereka memanfaatkan link yang mereka punya, bukan sebaliknya. Menghidupi FLP Blitar tidak saja dengan materi, namun juga sumbangsih ide dan jaringan.

Ibarat para pendekar yang memainkan jurus-jurusnya agar komunitas bisa eksis.

Pertemuan yang mulanya di selasar Perpustakaan, lalu berpindah ke lantai atas dan menjadi "penghuni" dalam Perpustakaan Bung Karno tiap minggunya.

Meski begitu, FLP Blitar sangat mandiri dalam banyak hal, untuk menghidupi dirinya sendiri. Iuran anggota, sampai menerbitkan buku pun "patungan" dengan model investasi.

Ya, katakanlah ide itu berat. Namun bayangkan saja, dengan model investasi itu penulis dan investor buku dapat 1 buku gratis, dan dana investasi mereka kembali utuh. Hanya meminjamkan dana untuk kemudian diputar dalam bentuk buku. 

Buku-bukunya pun terdistribusi ke banyak orang. Meski modalnya besar dan ada resikonya, namun sejauh ini resiko-resiko tersebut bisa teratasi.

Harus lahir pendekar baru
Para pendekar akan terus tumbuh dalam FLP Blitar, meski jumlahnya mungkin hanya 30% dari total anggota setiap periodenya. Tidak semua bersedia untuk jadi pendekar, ikut berjuang atau mengeluarkan jurus-jurusnya demi organisasi.

Jadi pendekar itu berat. Para pendekar setidaknya akan dihinggapi dua pikiran : Pertama, merasa dirinya paling sibuk di organisasi, padahal anggotanya banyak. Sampai kadang merenung, anggota FLP banyak tapi kenapa aku sendiri yang harus menyelesaikan banyak hal?

Kedua, merasa dirinya menjadi "tulang punggung" dari eksistensi organisasi, apalagi ketika ada anggota yang show up terlalu kencang, padahal dia tidak aktif mengurus FLP Blitar.

Keluhan itu wajar terjadi pada setiap periodenya, karena ya tadi, tidak semua bersedia jadi pendekar.

Pendekar adalah mereka yang peduli, ikut menggerakkan, membukakan jalan. Pendekar lebih banyak memberi daripada menerima, karena dia punya "kesaktian".

Maka, dengan memilih jadi pendekar, sebenarnya kita sedang belajar mengasah kesaktian dalam banyak dimensi.

Belakangan, para pendekar seperti mulai gusar dan ingin turun gunung. Namun niat itu harus ditahan, sebab saat ini telah muncul pendekar-pendekar baru yang akan berkiprah dan mengeluarkan jurus-jurusnya.

Jalan tengah lainnya
Salah satu jalan tengah yang diambil untuk menyeimbangkan organisasi adalah dibentuknya dewan mentor.

Dewan mentor FLP Blitar idealnya adalah mereka yang sudah domisioner atau purna tugas sebagai pengurus. Mereka sudah merasakan menjadi pendekar dan sudah punya "kesaktian". Tugas mereka adalah menurunkan "kesaktiannya" ke pendekar-pendekar baru.

Dewan mentor memang tidak ada dalam aturan formal (AD/ART) organisasi FLP, namun hanya ijtihad lokal FLP Blitar untuk menjalin silaturahmi antar pendekar tersebut.

Dewan mentor punya peran khusus menghidupkan kepenulisan, menjadi narasumber dan melakukan mentoring.

Artinya, FLP Blitar tidak saja melahirkan penulis, namun juga narasumber kepenulisan dan tentu saja, penggerak literasi yang terlibat dalam kerja-kerja keorganisasian.

Seperti yang saya tulis sebelumnya, bahwa komunitas kepenulisan tidak saja melahirkan penulis. Penulis tidak selalu perlu komunitas, penulis adalah kerja individu yang bisa dilakukan sendiri.

Namun ketika aktif dalam organisasi, menjadi penulis hanya bagian kecilnya. Mungkin tulisanmu tidak terlalu banyak, namun kerja keorganisasianmu membuat para penulis jadi punya wadah dan bisa berkembang. Itu harus diperhitungkan juga, bukan?

Maka, selamat berjuang sebagai pendekar FLP Blitar. []
Blitar, 1 Mei 2021
Ahmad Fahrizal Aziz
loading...

Post a Comment

0 Comments