Kita dan Sajak-sajak Chairil Anwar




Ahad, 9 Februari 2020

"Saya tidak mau anak saya jadi penyair, bikin-bikin puisi, seperti tak ada kerjaan."

Statement di atas mengagetkan saya, mungkin juga anda. Ini membuat saya teringat seorang Ibu, yang anaknya mendapat juara 1 lomba menulis cerpen, namun justru tak membuatnya bangga.

Sebab ibu itu ingin anaknya masuk IPA, dan nantinya mengambil kuliah pada rumpun eksakta. Menulis cerpen, menurutnya bukan keahlian yang penting.

Dua tipe orang tua di atas mungkin mewakili sebagian orang tua lainnya. Entah mayoritas, atau hanya sebagian kecilnya.

Bapak yang tak suka anaknya menjadi penyair itu, yang saya jumpai beberapa waktu lalu, justru sangat tahu sosok Chairil Anwar. Penyair besar angkatan 45, yang sajak-sajaknya banyak masuk dalam buku ajar dan soal-soal ujian Bahasa Indonesia.

Sayangnya, kebesaran seorang Chairil Anwar tak bisa menggoyahkan sedikitpun pandangannya terkait hidup dan karir.

Siapa yang tak kenal Chairil Anwar? Bagi yang pernah sekolah, sampai tingkat SMA, nama Chairil Anwar sangat sering dibahas.

Bagi penyair, atau penggandrung puisi, sajak-sajak Chairil Anwar nyaris menjadi santapan wajib.

Ya, sayangnya bapak itu melihatnya pada sosok Chairil Anwar, dengan hitam putih hidupnya. Terlepas dari kehidupan pribadinya, sajak-sajak Chairil Anwar toh dibaca dan dikaji sepanjang sejarah berdirinya republik ini.

Kesan bahwa penyair itu sulit diatur, suka menentang, ndableg, perokok berat, anti kemapanan, melekat begitu kuat di ingatan banyak orang tua.

Juga kesan bahwa berpuisi tidak cukup menghasilkan uang, hanya menghasilkan kepuasan. Padahal, beras tidak bisa ditukar dengan doa dan kata-kata.

Setiap orang tua, pasti ingin yang terbaik untuk anaknya, apalagi membiayai sampai jenjang tertentu. Bisa dibayangkan betapa kuat konflik batin, juga konflik verbal, ketika si anak punya pikiran dan jalannya sendiri, yang itu sangat jauh dari harapan orang tua.

"Pantas anak saya sulit diatur," Lanjut bapak itu.

Anaknya memang suka puisi, ikut komunitas sastra, beberapa karyanya masuk koran. Sekalipun dia anak IPA.

Dia bermaksud mengambil kuliah jurusan sastra. Kesukaannya pada sajak dan karya sastra, melebihi teori quantum atau rumus senyawa kimia.

Namun tak ada restu. Ada banyak jurusan eksakta, kenapa memilih sastra? Bahkan bapaknya agak berat membiayai, andai si anak benar-benar mengambil jurusan sastra.

Namun sebenarnya orang tua tak akan setega itu menghabisi obsesi dan kesukaan sang anak.

Jika saya jadi anak, pasti akan mengikuti saran orang tua. Sebab melihat banyak juga mahasiswa jurusan sastra yang kurang produktif menciptakan karya sastra, juga tak becus menulis kritik sastra.

Sarjana sastra terus bermunculan, namun produksi karya sastra atau kritik sastra yang bermutu justru makin menurun.

Apakah dengan mengikuti saran dari orang tuanya, si anak justru akan tertekan?

Si anak kan sudah tertekan. Bayangkan betapa lelahnya berkonflik dengan orang tua sendiri. Andaikan nanti dia memilah jurusan sastra, apa lantas tekanan itu hilang? Tidak, bisa makin berkobar.

Faktanya, sosok Chairil Anwar yang besar dan terkenal itu, tak bisa menjadi argumentasi untuk menyakinkan si bapak agar merestuinya kuliah jurusan sastra. Justru malah semakin menentang.

Masalahnya, karya dan kehidupan pribadi itu bukan dua hal yang bisa dipisahkan. Karya Chairil dengan kehidupannya adalah rangkaian yang juga tak bisa dipisahkan.

Jikalau Chairil Anwar tak menulis sajak, mungkin dia hanya akan jadi orang biasa, tak dikenal, stress karena beban hidup, dan semacamnya.

Tak ada yang bisa dibanggakan dari jabatan atau latar belakang pendidikan seorang Chairil Anwar. Ia orang bebas, sebebas sajak-sajaknya. Tetepai ia menjadi sesuatu.

Proses dan ikhtiar menjadi sesuatu inilah yang baiknya menjadi pelajaran bagi kita semua. Termasuk si bapak, si anak, dan terlebih saya sendiri.

Apapun jurusan kuliahnya, apapun pekerjaannya nanti, sajak tetaplah sajak. Siapapun bisa menulisnya.

Penyair juga tidak melulu lahir dari fakultas sastra, namun ia lahir dan tumbuh dari beragam pergolakan. Pergolakan batin, keluarga, sosial, dan lainnya.

"Jadi sebenarnya, justru sikap-sikap bapak sendirilah yang membuat anak bapak ingin jadi penyair," Balas saya, sebelum menyesap kopi yang hampir dingin. []

Junrejo,
Ahmad Fahrizal Aziz
loading...

Post a Comment

0 Comments