Perempuan yang Tidak Merindukan Lelaki






Kamis, 4 Juli 2019

Ada aturan di Mesir bahwa perempuan yang hendak bepergian sendiri ke luar negeri, harus mengantongi ijin suami. Kecuali jika sudah diceraikan.

Itu membuat Nawal jengah. Saat pihak bandara menahannya dan meminta ijin serupa, ia menegaskan bahwa dirinya tidak diceraikan. Melainkan... Bercerai.

Diceraikan dan bercerai adalah dua hal yang berbeda, menurutnya. Setelah itu Nawal yang seorang dokter itu, tidak pernah menuliskan kerinduan pada lelaki yang pernah menjadi suaminya.

Satu-satunya kerinduan yang ia miliki, dan membawanya kembali ke tanah air adalah anak yang pernah dilahirkannya.

Lantas siapa Nawal? Panjangnya Nawal El Saadawi. Dikenal sebagai novelis. Salah satu karya besarnya adalah Women at Point Zero (Perempuan di Titik Nol). Ia juga pernah menulis buku berjudul Catatan dari Penjara Perempuan.

loading...
Kemarin saya membaca bukunya yang berjudul "Perjalananku Mengelilingi Dunia, Catatan Perjalanan Seorang Penulis Feminis", yang judul dalam bahasa Inggrisnya "My Travel Around the World" (1991).

Buku itu diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan sangat Ciamik oleh Hermoyo, dan diterbitkan oleh Yayasan Obor Indonesia (2006).

Sewaktu kecil, Nawal sering dikritik oleh keluarganya karena sulit didandani atau berperilaku layaknya perempuan anggun. Neneknya bahkan sampai berkata, jika Nawal harusnya lahir sebagai anak laki-laki.

Namun sejauh saya membaca, tak tergambarkan bahwa Nawal seorang tomboy. Ia hanya sulit diminta berdandan anggun, bahkan saat pernikahannya.

Nawal menikah layaknya perempuan pada umumnya, hamil, dan punya anak. Sikap kritisnya pada rezim membuatnya dijebloskan ke Penjara pada tahun 80-an, buku-bukunya dilarang di sejumlah negara Arab. Dia harus menjadi eksodus untuk tetap bisa memuntahkan pikiran revolusionernya.

Suami Nawal pun dipenjara. Ia menjalani hari-hari penuh kekangan sepanjang pemerintahan Anwar Sadat.

Buku itu menjelaskan perjalanannya ke berbagai negara, guna mencecap rasanya "dunia lain", terutama di negara-negara maju dan bebas. Nawal memang merindukan kebebasan, dibanding pelukan seorang laki-laki.

Ia sangat berani dan mandiri. Ia merasakan bagaimana rasanya jiwa yang terpenjara, baik ketika di jebloskan ke dalam jeruji besi atau ketika berada di luar negaranya.

Nawal adalah satu di antara penulis perempuan yang mungkin paling menarik perhatian, dan sempat mengguncang jazirah arab lewat tulisan-tulisannya, dan karyanya kini banyak diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. []

Salam,
Ahmad Fahrizal Aziz
loading...

Post a Comment

0 Comments