Pak Sutopo, Sakit Parah Namun Tetap Humoris

loading...

loading...



Ahad, 7 Juli 2019 

Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas BNPB, tampak begitu humoris di layar kaca. Keinginannya foto bersama Presiden dan ngobrol dengan Raisa sudah terlaksana. Bahkan Raisa sendiri yang meneleponnya.

Kenapa suka Raisa? Tanya Najwa Shihab saat wawancara. Lantas ia menjawab : kalau nyanyi cengkok suaranya asyik.

Kok cengkok, kan bukan penyanyi dangdut? Balas Najwa. Oh bukan ya? Responnya sambil terkekeh.

Bahkan saat membuat video singkat di Instagram, dan bercerita betapa tersiksanya menjadi orang sakit, yang harus konsumsi 18 jenis obat dan multivitamin setiap harinya, wajahnya masih nampak lucu nan humoris.

Padahal penyakitnya sangat serius, kanker paru-paru stadium IV. Tulang tubuhnya sering sakit tak terkira, dadanya sering sesak, dan kerjanya terbilang berat ; sebagai humas yang harus menginformasikan sesuatu dan harus siap dihubungi kapanpun sebagai pusat informasi.

Karena itu ia dekat dengan wartawan, dan punya handphone khusus yang berisi banyak WAG dengan para wartawan dan media. Selain juga aktif menginformasikan lewat sosial medianya.

Tidak ada sosok yang paling sering dan serius menginformasikan hal-hal terkait bencana di Indonesia, selain Pak Sutopo. Karena itu ia sering jadi rujukan, twit dan ucapannya sering dikutip. Ia mendapat penghargaan sebagai Public Campaigner dari rmol.co.

Namun Pak Sutopo juga bingung, bagaimana ia bisa sakit dan terkena kanker paru-paru? Padahal ia bukan seorang perokok, dan sebisa mungkin menjalani hidup sehat.

Awal tahun 2018, ia menginformasikan jika kankernya sudah masuk stadium IV. Artinya sudah parah. Ia diminta dokter istirahat total, namun menolak. Tetap bekerja meski lebih sering di dalam ruangan.

Hidup bukan dilihat dari panjang pendeknya usia, namun seberapa besar kita dapat membantu orang lain," Tulisnya, saat membalas twit Raisa.

Pertengahan 2019, penyakitnya semakin gawat dan akhirnya dirujuk ke Tiongkok untuk perawatan intensif. Sebelum keberangkatan, ia mohon doa. Betapa berat kepergiannya kali ini, demi pertaruhan nasib pada kanker stadium akhir yang dideritanya.

Namun dalam setahun terakhir ini, kita begitu dekat mengenal sosoknya. Ia sering hadir di layar televisi, menginformasikan bencana yang terjadi, dan memberikan penyuluhan kepada masyarakat tentang bagaimana mengadapi bencana yang datang.

Sambil membayangkan, bahwa ketika berbicara di depan wartawan, forum-forum diskusi, sampai melemparkan joke yang lucu, Pak Sutopo berusaha sambil menahan sakitnya.

Di balik wajah humoris dan tingkahnya yang kocak, ada kesakitan luar biasa karena organ dalamnya tergerus oleh kanker yang mematikan. Bagi yang tidak tahu, mungkin mengira Pak Sutopo sehat walafiat.

Apalagi wajahnya juga masih segar nan cerah, bibirnya masih terlihat merah. Tidak pucat. Hanya dari matanya sedikit tampak, bahwa mungkin ia sering menahan sakit dan sering menangis.

Sebab sekalipun sosoknya yang kocak nan humoris, ada keharuan yang tidak bisa dibendung ketika membicarakan anak-anaknya.

"Mereka kekuatan terbesar saya," Ucapnya dalam sebuah acara, sambil menitikkan airmata.

Pak Sutopo membayangkan bagaimana jika nanti dirinya meninggal, sementara anaknya masih masa pertumbuhan dan perlu dampingannya.

Sejak divonis jika kankernya masuk stadium IV awal 2018 silam, beliau bertahan lebih dari 1,5 tahun sebelum akhirnya berpulang pada 7 Juli 2019, pada usia 49 tahun. Selamat jalan, Pak Sutopo. []

Salam,
Ahmad Fahrizal Aziz
Bit.ly/catatanFahrizal
loading...

Post a Comment

0 Comments