Tulisan yang Dibaca Ribuan Orang







Salah satu artikel saya di Kompasiana.com dikunjungi lebih dari 60 ribu. Apakah semua yang berkunjung itu serius membaca, atau hanya sekadar penasaran, entahlah. Namun anggap saja dari angka itu, hanya separuhnya yang membaca. Itu sudah banyak.

Beberapa tulisan yang berserak di website dan blog pribadi, jumlah pembacanya bervariasi. Antara 1.000-10.000, antara 100-1.000, dan ada juga yang di bawah 100. Namun umumnya di atas 20 pengunjung.

Kalau direnungi, ada banyak sisi menarik. Sebab tak pernah membayangkan, kita bisa berjumpa dengan sekian ribu orang yang pernah membaca tulisan kita. Juga tak pernah kita pikirkan, bagaimana kita bisa menyampaikan pesan pada sekian ribu orang tersebut, jika tidak melalui tulisan?

Hal yang sangat sulit kita lakukan jika harus bertatap muka. Berapa orang yang bisa kita jangkau. Pun ketika kita membuat forum diskusi, berapa orang yang datang? Sebuah tulisan jadi terlihat begitu ajaib.

Sekalipun yang membaca mungkin hanya 20 orang saja. Jumlah 20 orang itu sudah cukup banyak andai kita membuat forum diskusi. 20 orang sebagai pembaca, tentu berbeda dengan 20 orang sebagai pendengar. Membaca setingkat di atas mendengar. Sebab tak jarang orang lupa apa yang didengar, dibanding apa yang pernah ia baca.

loading...
Dari 20 orang tersebut, anggap saja satu orang menceritakan apa yang dibaca kepada satu temannya. Begitupun seterusnya. Atau mungkin saja, tulisan kita jadi bahan diskusi dalam sebuah forum yang dihadiri belasan orang. Seperti bola salju yang menggelinding. Efeknya bisa semakin besar.

Menyampaikan sesuatu lewat tulisan lebih terstruktur, sistematis, dan menjiwai. Termasuk jika dibandingkan dengan cara menyampaikan via infografis, yang pendek-pendek itu. Atau menyampaikan sesuatu lewat rekaman video dan audio.

Jiwa dan pikiran seseorang tergambar dari apa yang ia tulis, gaya bahasa dalam tulisannya, hingga keunikan lain yang mungkin dimunculkannya.

Rasa membaca, sangat berbeda dengan saat mendengar dan menonton. Saat membaca, seperti ada dialog dalam ruang pikiran dan batin. Seperti berbincang dengan penulisnya, namun kita yang mengontrol semuanya ; halaman mana yang hendak kita buka, dan apakah kita ingin melanjutkan atau menyudahinya.

Menulis adalah hal yang ajaib. Saat kita tahu jika apa yang kita tuangkan, diksi yang kita racik, gagasan yang kita lempar, dan pesan yang kita selipkan, dibaca oleh ribuan orang.

Ribuan orang yang tidak selalu kita ketahui siapa, tinggal dimana, latar belakangnya apa, dan ada perubahan apa sebelum dan setelah membaca tulisan kita. []

Blitar, 2 Juni 2019
loading...

Post a Comment

0 Comments