Terbiasa Menunggu






  Bit.ly/catatanFahrizal

Saya terbiasa menunggu. Sejak Tsanawiyah, dan tahun pertama Aliyah, terbiasa menunggu bus atau angkutan desa untuk berangkat dan pulang sekolah.

Saat kuliah, terbiasa nunggu kereta api yang ngaret, dari Blitar ke Malang, atau sebaliknya, dan itu berkali-kali. Juga menunggu di dalam angkot yang lagi ngètém. Kadang lama sekali.

Begitupun ketika menunggu untuk bertemu seseorang, seperti mewawancarai narasumber. Pantang membiarkan narasumber menunggu, karena itu akan jadi catatan buruk. Meskipun hal itu pernah terjadi, sesekali.

Kadang juga menunggu di warung kopi, kafe, dan rumah makan, dan pernah kejadian ketika orang yang kita tunggu secara mendadak membatalkan pertemuan disebabkan alasan yang tak terduga.

Semua dari kita pernah menunggu, lama atau tidaknya. Menunggu memang tidak enak, namun harus kita lakukan, harus bersabar. Misalnya antri sesuatu, kita harus mau menunggu, menghargai waktu orang lain yang lebih lama disitu.

Berapa lama rekor waktu kita menunggu? Sejam, dua jam, tiga jam?

"Mereka sudah menunggu terlalu lama," Ucap saya pada seorang teman, ketika kami menjenguk seseorang di rumah sakit.

Seorang lelaki tampak sedih memeluk istrinya yang sedang menangis. Mereka kehilangan bayi mereka, setelah kurang lebih 8 bulan menanti, dengan aneka rasanya ; bahagia, cemas, takut. Dan kini mereka harus kehilangan, begitu saja.

8 bulan adalah penantian yang lama, sebelum akhirnya mereka kehilangan. Meski sempat bertemu. Sekilas saja, dalam keadaan yang tak diinginkan.

Melihat itu, rasanya beberapa jam waktu yang pernah kita habiskan untuk menunggu, tak sebanding dengan apa yang dialami sepasang suami istri itu.

Adakah yang lebih lama lagi? Mungkin ada, meski tidak selalu dalam bilangan waktu. Menunggu yang tak jelas apa yang ditunggu, atau menanti yang tak sadar jika sedang dinanti.

Hidup adalah menunggu, namun jangan hanya diam saja. Sebab menunggu juga perlu waktu. []

Blitar, 19 Juni 2019
loading...

Post a Comment

0 Comments