Ketika Aktivis OMEK Hanya Mengandalkan Proposal dari Alumninya






Dalam dunia mahasiswa, ada gerakan yang sangat kuat di eksternal kampus, yang kerap disebut sebagai Organisasi Mahasiswa Ekstra Kampus atau disingkat OMEK/ORMEK.

Meskipun sebagai organisasi ekstra, dalam arti tidak terikat secara struktural dengan kampus, namun pengaruhnya sangat besar. Bahkan tak sedikit pejabat kampus yang jebolan OMEK, dan mereka memiliki korp khusus untuk alumninya.

Alumni OMEK sebagian besar juga terjun ke dunia politik, dan memangku beberapa jabatan publik. Alumni OMEK itu umumnya punya ikatan emosional dengan OMEK yang dulu menjadi tempatnya tumbuh kembang.

Karena itulah alumni selalu punya peran, khususnya alumni yang memiliki posisi strategis dalam jabatan publik. Mereka menjadi donatur dalam setiap kegiatan atau pergerakan OMEK tersebut.

loading...
Kondisi ini membuat OMEK bisa terus hidup, sekalipun sebagai organisasi ekstern. Namun juga menjadi kritik tersendiri, bahwa pada akhirnya aktivis OMEK kurang kreatif karena terlalu terpaku pada proposal yang diajukan pada alumni.

OMEK akan kalah dengan komunitas berbasis hobi dan minat bakat lainnya yang justru lebih kreatif dalam mencari dana guna melangsungkan kegiatannya.

Selain itu, terlalu mengandalkan bantuan dari alumni membuat independensi OMEK sebagai organ yang kritis, juga terancam. Terlebih jika alumni tersebut tengah memangku jabatan tertentu. OMEK bisa tersandera.

Iklim semacam itu membuat OMEK pada akhirnya menjadi "arena perebutan", untuk meraih posisi-posisi publik. Sehingga lupa pada perannya sebagai agen kontrol sosial yang aktif mengkritisi.

Ketika iklim di atas terjadi, maka hanya sebagian kader OMEK saja yang akan diuntungkan. Akan memicu conflict of interest atau konflik dalam internal yang berkepanjangan.

Perkaderan secara ideologis pun akan macet, berganti dengan kepentingan politik yang sangat menguras energi. Kesan OMEK sebagai organ politik pun akan lebih terlihat, ketimbang kesan mereka sebagai organisasi perkaderan yang melahirkan cendekiawan.

Saat ini bisa kita lihat di kampus-kampus, OMEK adalah organ yang tampak paling ambisius dalam momentum politik kampus. Sementara, OMEK tampak tumpul dalam merespon isu sosial yang menyangkut nasib masyarakat.

OMEK setidaknya harus menjadi tempat belajar bagi kader-kadernya, tidak hanya belajar untuk berpolitik. Namun juga belajar mengasah nalar kritis, memperkaya pengetahuan, meletupkan kreatifitas, dan belajar bertahan hidup.

Sekarang, tak sedikit OMEK yang bergantung pada segelintir alumni, terutama alumni yang berkecukupan secara ekonomi atau yang mampu mengakses jaringan tertentu karena jabatan publik yang dimiliki.

Alumni tetap menjadi bagian historis dari OMEK, yang memang harus selalu terjalin. Namun OMEK adalah organ tersendiri yang punya peran strategis di Masyarakat. Posisi OMEK bahkan sangat istimewa jika dibanding organ mahasiswa lainnya.

Sayangnya, kini OMEK juga menjadi obyek kritis tersendiri, saat gerakannya dalam membela nasib kaum kecil seolah senyap, padahal banyak sekali alumni OMEK yang kini menduduki jabatan publik.

Fahd Julian, Pimpinan Redaksi Lingkarpedia.id
loading...

Post a Comment

0 Comments