Menulis Sejarah Muhammadiyah Kab. Blitar



Rapimwil MPI se-Jatim tahun lalu membahas salah satunya, penulisan sejarah Muhammadiyah di daerah masing-masing. Itulah yang kemudian direspon oleh MPI PDM Kab. Blitar, untuk kemudian mengumpulkan data dan informasi dalam rangka penulisan sejarah ini.


Sebelumnya, sudah terbit buku "Menembus benteng tradisi" yang berisi kumpulan sejarah berdirinya Muhammadiyah secara umum, di lingkup Jawa Timur. Buku itu diterbitkan dalam rangka menyambut Muktamar 45 di Malang.


Pak Zaenal Arifin, yang sekarang Sekretaris PDM, adalah salah satu penyusun untuk wilayah Blitar raya, dibantu Pak Abdul Aziz yang alumnus jurusan Ilmu Sejarah.


Karena sejak 2005, Muhammadiyah Blitar mengalami pemekaran antara Kota dan Kabupaten, maka penulisan ini akan dimulai dari situ. Apalagi, menurut Pak Zaenal, sejarah terakhir yang ditulis hanya sampai 2005. Sehingga tinggal melanjutkan, untuk nantinya disusun menjadi sebuah buku yang lebih utuh.


Namun untuk menulis sejarah Muhammadiyah di lingkup Kabupaten Blitar secara komplit, tentu butuh energi dan waktu yang cukup panjang. Sebab saat ini total ada 19 Cabang dan 74 Ranting, yang tentu setiap Cabang memiliki keunikan dan kompleksitas yang berbeda.


Selain itu, sebagian Cabang yang ada sekarang, usianya tentu lebih lama dari PDM yang baru mengalami pemekaran 2005 lalu. Sehingga, yang disetorkan ke PWM nantinya hanya "yang diperlukan saja", namun Insyaallah silaturahim ke sesepuh di beberapa cabang akan berlanjut.


Keunikan yang perlu ditulis, selain sejarah pendirian organisasi, ada juga tentang sejarah Masjid-masjid yang menjadi basis dakwah. Juga barangkali, cerita-cerita Uswah dari para tokoh, yang mungkin berisi perjuangan nan sulit, inovasi dakwah, tapi mungkin juga berisi humor-humor segar.


Semoga, pada Musyda PDM Kabupaten Blitar 2020 nanti, buku sejarah ini bisa menjadi "kado berharga".


***
Dahulu, awalnya Muhammadiyah Blitar adalah Cabang dari Kediri, sementara Kecamatan adalah rantingnya. Baru sekitar (mungkin) tahun 60-an, berdiri menjadi Daerah, dan Kecamatan menjadi Cabang.


Setelah ada Otonomi daerah, dan wilayah administratif disejajarkan antara Kota dan Kabupaten, maka Muhammadiyah pun menyesuaikan diri. Baru 2005 itu terlaksana, yang waktu itu Ketua PDM Blitar raya adalah Pak Marmin Siswojo dan Sekretaris Pak Masjruhin.


Setelah pemekaran, Pak Marmin menjadi Ketua PDM Kabupaten Blitar, dan Pak Masjruhin menjadi ketua PDM Kota Blitar yang pertama.


Lalu siapa Ketua Muhammadiyah Blitar yang pertama kali?


Nah, saya jadi teringat sebuah Masjid ber-arsitektur Tiongkok di samping Rumah Sakit UMM. Masjid itu tidak bernama Arab atau China. Tidak seperti Masjid Cheng Hoo.


Nama Masjid itu sangat Jawa. Masjid KH. Bedjo Darmoleksono. Dalam peresmiannya, Prof. Muhadjir Effendy yang kala itu masih rektor UMM mengatakan, bahwa Mbah Bedjo Darmoleksono adalah pendiri awal Muhammadiyah di Malang.


Nama yang hampir mirip, dan tertulis sebagai Ketua PDM pertama di wilayah Kotamadya Blitar adalah, Mbah Darmosarono. []


Blitar, 29 Maret 2018
Ahmad Fahrizal Aziz
www.fahryzal.com



(Foto waktu berbincang di rumah Pak Zaenal Arifin)

loading...

Post a Comment

0 Comments