Alamat

Jalan Trisula 32 Kademangan, Kabupaten Blitar./ Rumah Gendola Blitar. | Insight Blitar adalah media informasi, bukan produk Jurnalistik.

For you

Artikel Lainnya

Skip to main content

Kenapa Al Qur’an harus direvisi?




Sejak postingan Tuah, eks. Mahasiswa UIN Sumut yang kontroversial itu, yang ingin agar Al Qur’an direvisi, muncul satu perenungan mendalam tentang bagaimana selama ini Mahasiswa kita, terutama para Muslim, memandang otentitas Al Qur’an. Saya menduga bahwa statement “merevisi Al Qur’an” sebenarnya hanya soal diksi. Tidak bermaksud merevisi dalam arti yang sebenarnya. Tapi kalau memang benar yang hendak direvisi adalah teks Al Qur’an, tentu ini menjadi kegelisahan tersendiri.

Seperti yang kita tahu, tidak semua ayat dalam Al Qur’an itu mengandung penjelasan Eksplisit (jelas/Muhkamat). Ada banyak yang Mutasyabihat atau Multitafsir dan memang membutuhkan penafsiran tersendiri. Namun tiap tafsir, hampir-hampir tidak pernah mendobrak orisinalitas teks itu sendiri. Artinya, Para Mufassir pun tidak pernah punya keinginan untuk merevisi teks Al Qur’an tersebut, justru menjabarkan dan memperkaya pembahasan. Kalaupun ada perbedaan, tentunya perbedaan dalam cara dan hasil penafsiran.

Maka, saya menduga sebenarnya Tuah dan gagasan merevisi Al Qur’an tersebut, sebenarnya bukan teks Al Qur’an-nya itu sendiri yang direvisi. Melainkan adalah tafsirnya. Namun tafsir pun harusnya bukan direvisi, tapi dicarikan tafsir baru. Tafsir yang mungkin tidak terikat dengan teks lain seperti Hadits, ataupun konteks sejarah yang bersinggungan dengan ayat tersebut. Tafsir yang semacam itu, belakangan disebut Hermeneutik.

Tapi jika memang Al Qur’an harus direvisi, siapa yang punya otoritas atau kemampuan untuk merevisi? Al Qur’an adalah Kalamullah. Nabi Muhammad pun hanya pembawa pesan, Malaikat Jibril pun juga hanya perantara. Tentu akan sangat tidak masuk akal jika ada yang ingin merevisi Al Qur’an. Kalau mencari tafsir baru masih mungkin terjadi.

Sebagai kitab suci, Al Qur’an sebenarnya sudah memerankan fungsinya dengan sangat baik. Misal, Al Qur’an adalah teks yang bisa berinteraksi dengan teks-teks yang lain. Entah itu teks Sains, sejarah, budaya, sastra, seni, apalagi Fiqh. Itu menunjukkan, Al Qur’an memang memiliki muatan yang sangat kaya. Perihal ada sekelompok orang yang menyederhanan pesan-pesan Al Qur’an dengan misalkan, sebagai legalitas untuk melakukan kekerasan, itu semuanya murni bagaimana ia menafsir atau mengikuti sebuah tafsir atas ayat itu sendiri.

Misalkan ayat tentang diperbolehkannya memerangi non muslim dalam surat Al Anfal ayat 39. Ada yang kemudian menjadikan teks itu sebagai perintah langsung, ada yang kemudian melihat ayat sebelum/selanjutnya dan mencari tahu kenapa bisa muncul perintah itu. Tentu, setiap perintah dalam Al Qur’an tidak terlepas dari sebab-sebab tertentu. Akankah misalkan, kafir yang dimaksud adalah sekedar non muslim saja? Atau ada sebab lain yang akhirnya memunculkan perintah tersebut? Lalu bagaimanakah bila non muslim tersebut orang yang baik? Akankah tetap di perangi?

Memang ada sebagian yang menjadikan Al Qur’an sebagai teks yang berisi perintah semata, yang dalam literature akademik disebut kaum tekstualis atau skripturalis. Namun banyak juga yang menjadikan Al Qur’an, selain sebagai teks yang memberi perintah, tapi juga memberi petuah dan isyarat-isyarat ilmiah untuk membangun peradaban.

Makanya muncul istilah Integrasi sains dan Al Qur’an, yang mencoba menggali teks dalam beragam perspektif. Ada yang dari teks kemudian dikembangkan menjadi teori, ada yang dari teori kemudian dicarikan legitimasi berdasarkan teks itu sendiri. Misalkan, soal penciptaan langit dan bumi, soal kandungan, hujan, langit, bintang, dll. Al Qur’an memberikan justifikasi kebenaran atas teori-teori yang ditemukan manusia.

Bagi seorang Muslim, justifikasi dari Al Qur’an itu memiliki dimensi transeden. Justifikasi dari Al Qur’an itu menutup keran perdebatan atas relativitas sains. Misalkan, jika teori penciptaan langit dan bumi yang dibenarkan oleh Al Qur’an adalah teori big bang, maka seorang Muslim dengan yakin (berdasarkan keimanan) bahwa itulah teori yang paling benar. Itulah kenapa dalam Al Qur’an, derajat orang yang befikir (tafakkaru) disebut Ulul Albab. Ulul Albab itu adalah ketika disatu sisi orang pandai berfikir, tapi disisi yang lain dia semakin giat berdzikir, sebagaimana yang tertuang dalam QS. Ali Imron : 191.

Ini tentu berkebalikan dengan trens modernisme, bahwa semakin seseorang mempelajari sains, semakin ia meninggalkan agama. Bagaimanapun juga, di era modernisme, sains begitu menguasahi sisi kehidupan kita. Sekarang, setelah masuk era post-modernisme, saat banyak hal dalam hidup ini dipertanyakan ulang, disinilah Agama seharusnya memiliki posisi penting, bahwa banyak pertanyaan yang tak sanggup kita jawab dan hanya bisa kita yakini.

Kita berharap, semakin orang belajar teori ilmu pengetahuan, semakin ia menemukan eksistensinya sebagai mahluk beriman. Namun tak sedikit yang justru tercerabut karena terlalu dalam melakukan reflektifitas atas agama itu sendiri. Kenapa bisa demikian? Saya juga tidak tahu, mungkin semuanya berawal dari niat masing-masing. Wallohu’alam.

Blitar, 30 September 2015
A Fahrizal Aziz
www.jurnal-fahri.blogspot.com
Blogger dan Aktivis Literasi

Comments