Dalam sejarah Kerajaan Mataram Islam, nama para raja seperti Sultan Agung, Amangkurat, maupun Pakubuwana lebih sering mendapat perhatian dibandingkan tokoh perempuan di lingkungan keraton.
Sejumlah permaisuri ternyata juga memiliki pengaruh besar terhadap kehidupan politik, budaya, hingga perkembangan sastra Jawa. Salah satunya adalah Ratu Mas Blitar, permaisuri utama Susuhunan Pakubuwana I.
Ratu Mas Blitar, yang juga dikenal sebagai Kanjeng Ratu Mas Balitar, merupakan istri sah tertinggi Pakubuwana I. Sebelum sang suami naik takhta, ia dikenal dengan gelar Gusti Kanjeng Ratu Poeger, mengikuti gelar suaminya yang saat itu masih bergelar Pangeran Puger.
Selain dikenal sebagai ibu dari beberapa tokoh penting Keraton Kartasura, Ratu Mas Blitar berasal dari garis keturunan bangsawan yang memiliki hubungan langsung dengan pendiri Kesultanan Mataram.
Latar belakang keluarganya menjadikan dirinya sebagai salah satu perempuan bangsawan paling terpandang pada masanya.
Berasal dari Trah Pangeran Blitar Madiun
Asal-usul Ratu Mas Blitar memperlihatkan kuatnya hubungan antara keluarga kerajaan Mataram dengan bangsawan Madiun.
Ia merupakan putri Pangeran Arya Blitar IV, Bupati Madiun yang memerintah sekitar tahun 1704 hingga 1709. Keluarga ini bukan sekadar bangsawan daerah, melainkan bagian dari garis keturunan langsung Mataram.
Leluhur yang paling terkenal dalam silsilah tersebut adalah Pangeran Juminah, atau lebih dikenal sebagai Pangeran Blitar. Ia merupakan putra Panembahan Senopati, pendiri Kerajaan Mataram Islam, dari Raden Ayu Retno Dumilah yang berasal dari keluarga bangsawan Madiun dan memiliki hubungan dengan Kesultanan Demak.
Sejak masa Pangeran Juminah, gelar Blitar diwariskan secara turun-temurun kepada keturunannya. Tradisi penggunaan gelar tersebut berlangsung selama beberapa generasi sehingga anak, cucu, dan cicitnya sama-sama dikenal sebagai Pangeran Blitar.
Karena berasal dari garis keluarga tersebut, Ratu Mas Blitar mewarisi gelar "Blitar" sebagai identitas keluarga, bukan karena berkaitan dengan wilayah administratif Blitar seperti yang dikenal sekarang.
Mengapa Disebut Ratu Mas Blitar?
Nama Ratu Mas Blitar mengandung makna kebangsawanan yang mendalam.
Kata "Mas" dalam tradisi Jawa merupakan gelar kehormatan bagi perempuan bangsawan tinggi, terutama putri kerajaan maupun permaisuri. Sebutan ini menunjukkan kedudukan yang sangat terhormat di lingkungan istana.
Sementara itu, kata "Blitar" berasal dari gelar turun-temurun keluarga Pangeran Blitar. Sejarawan M.C. Ricklefs menjelaskan bahwa penggunaan nama Blitar telah menjadi tradisi keluarga sejak masa Pangeran Juminah.
Karena itu, ketika menjadi permaisuri Pakubuwana I, masyarakat keraton lebih mengenalnya sebagai Ratu Mas Blitar. Sebutan tersebut sekaligus menegaskan asal-usul keluarganya yang memiliki hubungan darah dengan pendiri Mataram.
Menjadi Permaisuri Pakubuwana I
Ratu Mas Blitar menikah dengan Pangeran Puger, salah satu tokoh penting dalam dinasti Mataram.
Setelah berbagai konflik perebutan kekuasaan di Mataram berakhir, Pangeran Puger naik takhta sebagai Susuhunan Pakubuwana I, pendiri Dinasti Pakubuwana yang memerintah dari Keraton Kartasura.
Sejak saat itu, kedudukan Ratu Mas Blitar berubah menjadi permaisuri utama kerajaan.
Sebagai permaisuri, ia bukan hanya menjalankan peran seremonial, tetapi juga menjadi figur penting dalam keluarga kerajaan.
Kedudukannya semakin kuat karena berhasil melahirkan sejumlah putra yang kemudian memainkan peran besar dalam sejarah Mataram.
Ibu Raja dan Para Pangeran
Dari perkawinannya dengan Pakubuwana I, Ratu Mas Blitar melahirkan beberapa tokoh penting dalam sejarah Jawa.
Di antaranya ialah:
- Amangkurat IV, yang kemudian menggantikan ayahnya sebagai raja Mataram.
- Pangeran Purbaya, salah satu bangsawan berpengaruh di lingkungan keraton.
- Pangeran Blitar (Raden Mas Sudomo), yang meneruskan penggunaan gelar Blitar dalam garis keluarga kerajaan.
Melalui putra-putranya, pengaruh Ratu Mas Blitar terus berlanjut dalam perjalanan Dinasti Pakubuwana dan politik Kerajaan Mataram pada abad ke-18.
Berperan dalam Kehidupan Sastra dan Spiritualitas Keraton
Peran Ratu Mas Blitar tidak berhenti pada urusan keluarga kerajaan.
Sejumlah sumber tradisi keraton menyebutkan bahwa ia memiliki perhatian besar terhadap perkembangan sastra Jawa dan kehidupan spiritual di lingkungan istana.
Ia dikaitkan dengan penyusunan maupun pemberian dukungan terhadap beberapa karya sastra penting, antara lain:
- Serat Garwa Kancana
- Carita Sultan Iskandar
- sejumlah naskah lain yang memadukan ajaran Islam, tasawuf, serta nilai-nilai budaya Jawa.
Karya-karya tersebut menjadi bagian dari tradisi intelektual Keraton Kartasura yang berusaha menyelaraskan ajaran Islam dengan kebudayaan Jawa tanpa menghilangkan identitas keduanya.
Peran sebagai pelindung sastra menunjukkan bahwa perempuan keraton tidak hanya berfungsi sebagai pendamping raja, tetapi juga sebagai penjaga tradisi ilmu pengetahuan dan kebudayaan.
Wafat dan Dimakamkan di Nitikan
Ratu Mas Blitar wafat pada 5 Januari 1732 di Kartasura.
Jenazahnya dimakamkan di Astana Panitikan (Nitikan), Umbulharjo, Yogyakarta, salah satu kompleks pemakaman bangsawan Mataram.
Di tempat tersebut, ia dimakamkan berdampingan dengan putranya, Pangeran Blitar (Raden Mas Sudomo). Keberadaan makam tersebut menjadi salah satu bukti penting mengenai hubungan erat antara trah Pangeran Blitar dengan keluarga kerajaan Mataram.
Warisan Sejarah Ratu Mas Blitar
Nama Ratu Mas Blitar mungkin tidak setenar para raja Mataram, tetapi perannya sangat penting dalam menjaga kesinambungan dinasti.
Ia berasal dari garis keturunan langsung Panembahan Senopati melalui Pangeran Juminah atau Pangeran Blitar. Perkawinannya dengan Pakubuwana I memperkuat hubungan antara keluarga kerajaan Mataram dengan bangsawan Madiun.
Di sisi lain, ia juga dikenang sebagai ibu dari Amangkurat IV dan beberapa pangeran penting, sekaligus tokoh perempuan yang memberi perhatian terhadap perkembangan sastra dan spiritualitas keraton.
Melalui keturunan, pengaruh politik, dan dukungannya terhadap kebudayaan Jawa-Islam, Ratu Mas Blitar menempati posisi istimewa dalam sejarah Kerajaan Mataram. Kisah hidupnya memperlihatkan bahwa perempuan bangsawan memiliki kontribusi besar dalam menjaga stabilitas dinasti sekaligus mewariskan tradisi intelektual yang terus dikenang hingga kini.
Referensi
- M.C. Ricklefs, Jogjakarta under Sultan Mangkubumi 1749–1792.
- M.C. Ricklefs, A History of Modern Indonesia Since c. 1200.
- Babad Tanah Jawi.
- Serat Garwa Kancana.
- Peter Carey, berbagai kajian mengenai Dinasti Mataram dan Keraton Yogyakarta.
- Genealogi Dinasti Mataram Islam dari berbagai manuskrip keraton dan penelitian sejarah Jawa.

0 Comments
Tinggalkan jejak komentar di sini