Muktamar Nahdlatul Ulama atau NU merupakan forum permusyawaratan tertinggi dalam organisasi Nahdlatul Ulama.
Di sinilah berbagai keputusan penting ditetapkan, mulai dari pemilihan Rais Aam Syuriyah dan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), pembahasan Bahtsul Masail, hingga penentuan arah gerak organisasi dalam menjawab persoalan keagamaan, sosial, pendidikan, dan kebangsaan.
Sejak NU berdiri pada 31 Januari 1926, muktamar menjadi bagian penting dalam perjalanan organisasi.
Jika pada masa awal muktamar hampir digelar setiap tahun, kini pelaksanaannya berlangsung setiap lima tahun.
Perubahan tersebut mengikuti perkembangan organisasi yang semakin besar dengan jutaan anggota yang tersebar di seluruh Indonesia bahkan luar negeri.
Perjalanan muktamar NU juga menggambarkan sejarah Indonesia. Lokasi penyelenggaraannya berpindah dari kota ke kota, dari hotel sederhana hingga pondok pesantren besar, dari masa penjajahan Belanda, pendudukan Jepang, kemerdekaan, Orde Lama, Orde Baru, Reformasi, hingga era digital.
Muktamar Pertama, Titik Awal Perjalanan NU
Muktamar pertama diselenggarakan di Surabaya pada tahun 1926, tidak lama setelah Nahdlatul Ulama resmi berdiri. Sidang berlangsung di Hotel Muslimin dan Masjid Sunan Ampel, dua tempat yang memiliki nilai historis bagi perkembangan Islam di Jawa Timur.
Pada masa itu, NU masih merupakan organisasi yang sangat muda. Muktamar menjadi ruang untuk menyusun arah perjuangan organisasi sekaligus memperkuat jaringan ulama dari berbagai daerah.
Surabaya kemudian menjadi kota yang paling sering menjadi tuan rumah muktamar. Hal tersebut bukan tanpa alasan. Kota ini merupakan tempat lahirnya NU dan menjadi pusat aktivitas para pendirinya, seperti KH Hasyim Asy'ari, KH Abdul Wahab Chasbullah, dan para ulama lainnya.
Muktamar Awal Berpindah dari Kota ke Kota
Setelah tiga kali berturut-turut di Surabaya, muktamar mulai berpindah ke berbagai daerah.
Semarang menjadi tuan rumah pada 1929, disusul Pekalongan, Cirebon, Bandung, Jakarta, Banyuwangi, Surakarta, hingga Banjarmasin.
Perpindahan lokasi ini menunjukkan bahwa NU sejak awal tidak berpusat di satu wilayah saja. Organisasi berkembang mengikuti jaringan pesantren dan ulama di berbagai daerah Nusantara.
Muktamar ke-11 yang berlangsung di Banjarmasin pada 1936 menjadi tonggak penting karena merupakan muktamar pertama yang digelar di luar Pulau Jawa. Hal ini menunjukkan bahwa pengaruh NU telah meluas hingga Kalimantan.
Muktamar Terhenti karena Perang
Perang Dunia II dan pendudukan Jepang membuat penyelenggaraan muktamar mengalami jeda.
Setelah Muktamar ke-15 di Surabaya pada 1940, NU baru kembali menggelar muktamar pada 1946 di Purwokerto, Banyumas.
Muktamar pascakemerdekaan memiliki suasana berbeda. Selain membahas persoalan organisasi, para ulama juga merumuskan sikap terhadap perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Pada masa revolusi, NU memainkan peran besar melalui Resolusi Jihad yang mendorong perjuangan mempertahankan kemerdekaan dari upaya penjajahan kembali.
Era Demokrasi Parlementer
Memasuki dekade 1950-an, muktamar kembali berlangsung secara berkala.
Palembang menjadi tuan rumah pada 1951, disusul Surabaya pada 1954, Medan pada 1956, Jakarta pada 1959, dan Surakarta pada 1962.
Pada periode ini NU juga aktif dalam dunia politik sebagai partai politik. Banyak keputusan strategis organisasi dibahas melalui forum muktamar, termasuk hubungan antara organisasi keagamaan dan dinamika politik nasional.
Masa Orde Baru dan Perubahan Besar
Pada era Orde Baru, pelaksanaan muktamar berlangsung lebih jarang dibanding masa sebelumnya.
Bandung menjadi tuan rumah pada 1967, Surabaya pada 1971, kemudian Semarang pada 1979.
Peristiwa paling bersejarah terjadi dalam Muktamar ke-27 di Situbondo pada 1984.
Bertempat di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo, NU mengambil keputusan monumental untuk kembali kepada Khittah 1926.
Melalui keputusan tersebut, NU menegaskan diri sebagai organisasi sosial keagamaan dan tidak lagi terikat sebagai kekuatan politik praktis.
Keputusan itu menjadi salah satu titik balik terbesar dalam sejarah Nahdlatul Ulama dan masih menjadi landasan organisasi hingga sekarang.
Era Pondok Pesantren
Mulai dekade 1980-an, lokasi penyelenggaraan muktamar mengalami perubahan.
Jika sebelumnya banyak berlangsung di hotel maupun masjid besar, muktamar kemudian lebih sering dilaksanakan di pondok pesantren.
Perubahan tersebut mencerminkan identitas NU sebagai organisasi yang lahir dari tradisi pesantren.
Beberapa pondok pesantren yang menjadi tuan rumah antara lain
- Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo, Situbondo pada 1984.
- Pondok Pesantren Krapyak, Yogyakarta pada 1989.
- Pondok Pesantren Cipasung, Tasikmalaya pada 1994.
- Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri pada 1999.
Pemilihan pesantren memberikan ruang lebih luas bagi santri untuk terlibat langsung dalam kegiatan muktamar sekaligus memperkuat hubungan antara NU dan basis pendidikannya.
Memasuki Era Reformasi
Setelah Reformasi 1998, muktamar NU kembali menjadi perhatian nasional.
Kediri menjadi tuan rumah pada 1999, kemudian Surakarta pada 2004.
Muktamar ke-32 di Makassar pada 2010 memiliki arti penting karena menjadi muktamar pertama yang digelar di kawasan Indonesia Timur pada era Reformasi.
Pemilihan Makassar menunjukkan komitmen NU dalam memperluas jangkauan organisasi ke seluruh wilayah Indonesia.
Lima tahun kemudian, Muktamar ke-33 berlangsung di Jombang, kota yang memiliki hubungan sangat erat dengan sejarah NU karena menjadi tempat berdirinya Pondok Pesantren Tebuireng dan berbagai pesantren besar lainnya.
Muktamar ke-34 di Lampung
Muktamar ke-34 berlangsung pada 2021 di Provinsi Lampung.
Pelaksanaannya menggunakan beberapa lokasi sekaligus, termasuk Pondok Pesantren Darus Sa'adah.
Model multi-venue dipilih karena mempertimbangkan kondisi pandemi COVID-19 serta besarnya jumlah peserta yang hadir dari seluruh Indonesia.
Dalam muktamar ini juga berlangsung pemilihan kepengurusan baru PBNU yang menjadi perhatian masyarakat luas.
Daftar Lengkap Lokasi Muktamar NU
| No | Lokasi | Tahun |
|---|---|---|
| 1 | Surabaya | 1926 |
| 2 | Surabaya | 1927 |
| 3 | Surabaya | 1928 |
| 4 | Semarang | 1929 |
| 5 | Pekalongan | 1930 |
| 6 | Cirebon | 1931 |
| 7 | Bandung | 1932 |
| 8 | Jakarta | 1933 |
| 9 | Banyuwangi | 1934 |
| 10 | Surakarta | 1935 |
| 11 | Banjarmasin | 1936 |
| 12 | Malang | 1937 |
| 13 | Menes, Banten | 1938 |
| 14 | Magelang | 1939 |
| 15 | Surabaya | 1940 |
| 16 | Purwokerto | 1946 |
| 17 | Madiun | 1947 |
| 18 | Jakarta | 1948 |
| 19 | Palembang | 1951 |
| 20 | Surabaya | 1954 |
| 21 | Medan | 1956 |
| 22 | Jakarta | 1959 |
| 23 | Surakarta | 1962 |
| 24 | Bandung | 1967 |
| 25 | Surabaya | 1971 |
| 26 | Semarang | 1979 |
| 27 | Situbondo | 1984 |
| 28 | Yogyakarta | 1989 |
| 29 | Tasikmalaya | 1994 |
| 30 | Kediri | 1999 |
| 31 | Surakarta | 2004 |
| 32 | Makassar | 2010 |
| 33 | Jombang | 2015 |
| 34 | Lampung | 2021 |
Kota yang Paling Sering Menjadi Tuan Rumah
Jika dilihat dari seluruh sejarah pelaksanaan muktamar, Surabaya menjadi kota yang paling banyak dipercaya sebagai penyelenggara.
Rinciannya sebagai berikut.
- Surabaya sebanyak 6 kali.
- Jakarta sebanyak 3 kali.
- Surakarta sebanyak 3 kali.
- Semarang sebanyak 2 kali.
- Bandung sebanyak 2 kali.
Sementara jika dihitung berdasarkan provinsi, Jawa Timur menjadi wilayah yang paling sering menjadi lokasi Muktamar NU. Hal tersebut tidak terlepas dari sejarah NU yang lahir dan berkembang melalui jaringan pesantren besar di provinsi ini.
Menanti Muktamar ke-35
Setelah Muktamar ke-34 di Lampung, PBNU menetapkan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur sebagai lokasi Muktamar ke-35.
Rencananya forum tertinggi NU tersebut akan berlangsung pada 27 hingga 31 Agustus 2026. Keputusan penetapan tuan rumah diambil dalam Rapat Gabungan Syuriyah dan Tanfidziyah PBNU pada 7 Juli 2026.
Apabila terlaksana sesuai rencana, Jombang akan kembali menjadi pusat perhatian warga Nahdlatul Ulama dari seluruh Indonesia. Kota yang dikenal sebagai "Kota Santri" itu akan mencatatkan diri untuk kedua kalinya menjadi penyelenggara muktamar setelah sebelumnya menjadi tuan rumah pada 2015.
***
Sejarah Muktamar Nahdlatul Ulama bukan hanya daftar kota penyelenggara. Setiap muktamar menjadi penanda perjalanan organisasi dalam menghadapi perubahan zaman. Dari sidang sederhana di Surabaya pada 1926 hingga forum berskala nasional di era modern, muktamar menjadi tempat lahirnya berbagai keputusan penting yang membentuk arah perjalanan NU.
Perubahan lokasi dari hotel dan masjid menuju pondok pesantren juga memperlihatkan kuatnya akar tradisi keilmuan pesantren dalam tubuh NU. Dengan usia yang telah melewati satu abad, muktamar tetap menjadi ruang musyawarah tertinggi yang menjaga kesinambungan nilai, tradisi, dan peran Nahdlatul Ulama dalam kehidupan keagamaan serta kebangsaan Indonesia.

0 Comments
Tinggalkan jejak komentar di sini