Bung Karno dan Majapahit


Majapahit merupakan salah satu kerajaan terbesar dalam sejarah Nusantara. 

Di bawah pemerintahan Hayam Wuruk dan Mahapatih Gajah Mada pada abad ke-14, kerajaan ini dikenal memiliki pengaruh yang luas serta meninggalkan warisan politik, budaya, sastra, dan pemerintahan yang masih dikenang hingga kini. 

Bagi Bung Karno, Majapahit adalah bukti nyata bahwa bangsa di kepulauan Nusantara pernah mencapai kejayaan, persatuan, dan kedaulatan.

Pandangan Bung Karno terhadap Majapahit sangat positif sekaligus kritis. Ia mengagumi kemampuan kerajaan tersebut menyatukan wilayah yang luas, namun tetap melihatnya sebagai bagian dari dinamika sejarah yang harus dipahami secara objektif. 

Sejak masa pergerakan nasional hingga menjadi Presiden Republik Indonesia, Bung Karno secara konsisten menggunakan sejarah Majapahit sebagai sumber inspirasi untuk membangkitkan nasionalisme dan memperkuat keyakinan bahwa Indonesia mampu berdiri sebagai bangsa yang besar.

Majapahit sebagai Bukti Kejayaan Nusantara

Pada masa penjajahan Belanda berkembang anggapan bahwa masyarakat Nusantara hanyalah kumpulan kerajaan kecil dan suku-suku yang tidak pernah benar-benar bersatu. 

Narasi tersebut dimanfaatkan untuk membenarkan kolonialisme dan menggambarkan bangsa Indonesia tidak memiliki kemampuan membangun negara sendiri.

Bung Karno menolak pandangan tersebut. Menurutnya, sejarah telah membuktikan bahwa Nusantara pernah memiliki kerajaan besar seperti Sriwijaya dan Majapahit yang mampu membangun pemerintahan kuat, mengembangkan perdagangan internasional, serta menjalin hubungan dengan berbagai wilayah di Asia. 

Fakta sejarah ini menjadi landasan penting untuk menumbuhkan rasa percaya diri bangsa Indonesia.

Bagi Bung Karno, Indonesia merdeka bukanlah negara yang lahir tanpa akar sejarah, melainkan kelanjutan dari perjalanan panjang peradaban Nusantara.

Indonesia Menggugat dan Semangat "Hari Dulu yang Indah"

Pandangan Bung Karno mengenai Majapahit paling jelas terlihat dalam naskah pledoi Indonesia Menggugat yang dibacakan di Pengadilan Landraad Bandung pada tahun 1930.

Dalam pidatonya, Bung Karno berkata:

"Ah, Tuan-tuan Hakim, siapakah orang Indonesia yang tidak mengeluh hatinya, kalau mendengarkan cerita tentang keindahan itu, siapakah yang tidak menyesalkan hilangnya kebesaran-kebesarannya! Siapakah orang Indonesia yang tidak hidup semangat nasionalnya, kalau mendengarkan riwayat tentang kebesaran kerajaan Melayu dan Sriwijaya, tentang kebesaran Mataram yang pertama, kebesaran zaman Sindok dan Erlangga dan Kediri dan Singasari dan Majapahit dan Pajajaran, kebesaran pula dari Bintara, Banten dan Mataram kedua di bawah Sultan Agung!"

Melalui kutipan tersebut, Bung Karno menempatkan Majapahit sebagai bagian dari "hari dulu yang indah", yakni masa ketika bangsa-bangsa di Nusantara mencapai puncak kejayaan.

Ia menjelaskan bahwa perjuangan nasional harus dibangun melalui tiga dimensi waktu. 

Pertama, mengenang masa lalu yang gemilang. 

Kedua, menyadari kenyataan pahit akibat penjajahan. 

Ketiga, membangun masa depan melalui kemerdekaan dan persatuan Indonesia.

Strategi ini bertujuan menumbuhkan optimisme bahwa bangsa Indonesia mampu mengulang keberhasilan para leluhurnya.

Kekaguman yang Tetap Disertai Sikap Kritis

Walaupun sangat mengagumi Majapahit, Bung Karno tidak menempatkannya sebagai kerajaan yang sempurna.

Dalam Indonesia Menggugat, ia juga membahas ekspansi politik Majapahit ke berbagai wilayah Nusantara. 

Bung Karno menggunakan istilah "imperialisme Majapahit" sebagai analisis historis bahwa dorongan memperluas kekuasaan bukan hanya dilakukan bangsa Barat, tetapi juga pernah muncul dalam sejarah Nusantara.

Pandangan tersebut menunjukkan bahwa Bung Karno mempelajari sejarah secara kritis. Ia menghargai kemampuan Majapahit membangun persatuan, namun tetap mengakui bahwa setiap kekuasaan memiliki dinamika politiknya sendiri.

Gajah Mada dan Sumpah Palapa

Selain kerajaan Majapahit, Bung Karno juga memberikan perhatian besar kepada Mahapatih Gajah Mada.

Sumpah Palapa dipandang sebagai salah satu bukti sejarah paling penting bahwa Nusantara pernah memiliki cita-cita untuk dipersatukan dalam satu kekuasaan.

Bersama Mohammad Yamin dan sejumlah tokoh pergerakan lainnya, Bung Karno sering menjadikan Sumpah Palapa sebagai inspirasi perjuangan nasional. 

Menurut mereka, apabila pada abad ke-14 Nusantara pernah dipersatukan, maka Indonesia modern juga mampu menjadi negara kesatuan yang kuat.

Terdapat pula cerita bahwa Bung Karno pernah mengatakan Gajah Mada "kembali ke laut" atau moksa di laut. 

Walaupun bersifat anekdotal dan tidak termasuk sumber primer, kisah tersebut menunjukkan ketertarikannya terhadap tokoh besar Majapahit.

Bhinneka Tunggal Ika, Warisan Majapahit bagi Indonesia

Warisan Majapahit yang paling nyata dalam kehidupan bangsa Indonesia adalah semboyan Bhinneka Tunggal Ika.

Kalimat tersebut berasal dari Kakawin Sutasoma karya Mpu Tantular yang ditulis pada masa pemerintahan Hayam Wuruk. 

Dalam konteks aslinya, frasa itu menegaskan bahwa ajaran Hindu dan Buddha berbeda, tetapi tetap berada dalam satu kebenaran.

Bung Karno melihat makna tersebut sangat relevan dengan Indonesia yang terdiri atas ratusan suku, bahasa, budaya, dan agama.

Karena itu, ketika lambang negara dirancang pada tahun 1950, Bung Karno mendukung penggunaan Bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyan resmi Republik Indonesia. 

Maknanya diperluas menjadi persatuan dalam keberagaman, bukan hanya toleransi antarumat beragama.

Pengaruh Majapahit terhadap Garuda Pancasila

Kekaguman Bung Karno terhadap Majapahit juga tampak dalam proses penyempurnaan lambang negara Garuda Pancasila.

Sebagai Presiden, ia ikut memberikan berbagai masukan terhadap rancangan lambang negara, termasuk penambahan jambul pada kepala Garuda.

Garuda sendiri merupakan simbol yang telah lama dikenal dalam kebudayaan Hindu-Jawa dan banyak ditemukan pada relief-relief peninggalan Majapahit.

Sementara itu, pita yang dicengkeram Garuda memuat semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang berasal dari warisan sastra Majapahit. 

Dengan demikian, lambang negara Indonesia secara langsung menghubungkan identitas nasional modern dengan kekayaan sejarah Nusantara.

Ketertarikan terhadap Pusaka Majapahit

Selain aspek sejarah dan politik, Bung Karno juga dikenal memiliki ketertarikan terhadap benda-benda pusaka Nusantara.

Salah satu kisah yang cukup terkenal menceritakan tentang sebilah keris yang diyakini berasal dari Majapahit dan dibawa oleh seseorang bernama Pak Pringgo. 

Menurut cerita tersebut, Bung Karno meminta keris dicabut sambil berdoa agar turun hujan untuk menyirami tamannya, dan tidak lama kemudian hujan deras benar-benar turun.

Cerita ini lebih dikenal sebagai anekdot dan belum memiliki dukungan sumber primer yang kuat. Namun kisah tersebut menggambarkan besarnya perhatian Bung Karno terhadap warisan budaya dan simbol-simbol sejarah Nusantara.

Majapahit dalam Kebijakan Kenegaraan

Setelah Indonesia merdeka, pandangan Bung Karno mengenai Majapahit tidak berhenti sebagai gagasan intelektual.

Dalam berbagai pidato kenegaraan, terutama setiap peringatan Hari Kemerdekaan, ia terus mengingatkan rakyat mengenai kejayaan masa lalu Nusantara. 

Narasi tersebut digunakan untuk membangun rasa percaya diri nasional sekaligus memperkuat semangat persatuan dari Sabang sampai Merauke.

Menurut Bung Karno, Indonesia memiliki dasar historis yang kuat untuk menjadi negara kesatuan karena pengalaman tersebut pernah ada pada masa kerajaan-kerajaan besar, terutama Majapahit.

Pancasila sebagai Sintesis Nilai Nusantara

Bung Karno berulang kali menyatakan bahwa Pancasila bukan hasil meniru ideologi bangsa lain, melainkan digali dari kepribadian bangsa Indonesia sendiri.

Nilai toleransi, penghormatan terhadap keberagaman, dan semangat persatuan yang berkembang pada masa Majapahit menjadi salah satu akar budaya yang ikut membentuk pemikirannya. 

Nilai tersebut kemudian dipadukan dengan perkembangan masyarakat Indonesia modern sehingga mampu merangkul seluruh golongan tanpa membedakan agama, suku, maupun budaya.

Dalam konteks ini, Majapahit bukan dipandang sebagai model politik yang harus ditiru sepenuhnya, melainkan sebagai inspirasi sejarah yang menunjukkan bahwa keberagaman dapat dipersatukan dalam satu cita-cita bersama.

Melawan Narasi Kolonial

Salah satu tujuan utama Bung Karno mengangkat kejayaan Majapahit adalah membantah propaganda kolonial yang menyatakan bahwa Indonesia terlalu beragam untuk menjadi satu negara.

Ia menggunakan fakta sejarah sebagai jawaban. Keberadaan Sriwijaya dan Majapahit menunjukkan bahwa masyarakat Nusantara pernah membangun pemerintahan yang kuat, memiliki jaringan perdagangan internasional, serta menjalin hubungan antardaerah dalam skala luas.

Dengan demikian, kemerdekaan Indonesia bukanlah eksperimen politik, melainkan kelanjutan dari pengalaman sejarah bangsa sendiri.

Warisan Pemikiran Bung Karno

Hingga kini, pandangan Bung Karno mengenai Majapahit masih terasa pengaruhnya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. 

Semboyan Bhinneka Tunggal Ika, Garuda Pancasila, serta semangat persatuan Indonesia merupakan bagian dari warisan pemikiran yang berakar pada pembacaannya terhadap sejarah Nusantara.

Bagi Bung Karno, Majapahit bukan sekadar kerajaan besar yang pernah berjaya. Majapahit adalah bukti bahwa bangsa Indonesia memiliki kemampuan untuk bersatu, membangun peradaban, dan berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia.

Melalui pemanfaatan sejarah sebagai sumber inspirasi, Bung Karno berhasil mengubah kejayaan masa lalu menjadi kekuatan moral dan politik dalam membangun Republik Indonesia. 

Pandangan tersebut tetap relevan hingga sekarang, terutama ketika bangsa Indonesia terus menghadapi tantangan menjaga persatuan di tengah keberagaman yang menjadi identitas utamanya.

Referensi

  1. Soekarno. Indonesia Menggugat. Naskah pledoi di Pengadilan Landraad Bandung, 1930.
  2. Soekarno. Di Bawah Bendera Revolusi. Jilid I dan II.
  3. Mpu Tantular. Kakawin Sutasoma.
  4. Mpu Prapanca. Nagarakretagama (Desawarnana).
  5. Dokumen Perancangan Lambang Negara Garuda Pancasila, Panitia Lencana Negara, 1950.
  6. Taylor, Jean Gelman. Indonesia: Peoples and Histories. Yale University Press, 2003.
  7. Ricklefs, M. C. A History of Modern Indonesia Since c.1200. Stanford University Press.
  8. Poesponegoro, Marwati Djoened, dan Nugroho Notosusanto (Ed.). Sejarah Nasional Indonesia, Jilid II dan VI. Balai Pustaka.
  9. Yamin, Mohammad. Gadjah Mada: Pahlawan Persatuan Nusantara. Balai Pustaka.
  10. Arsip pidato-pidato kenegaraan Presiden Soekarno, terutama pidato 17 Agustus dan kumpulan pidato resmi Republik Indonesia.

0 Comments

Tinggalkan jejak komentar di sini