Kopi Nongko Blitar, Jejak Kopi Liberika Langka Beraroma Buah Nangka dari Lereng Doko


Warga menyebutnya kopi nangka atau kopi nongko. Dalam literatur botani, ia bernama —spesies kopi yang lebih jarang ditemui dibanding arabika dan robusta.

Belakangan, kopi ini mulai diburu penikmat kopi yang mencari cita rasa tak biasa. Bukan sekadar pahit atau asam, tetapi “funky”, woody, dan beraroma buah. 

Di Blitar, kopi nangka tumbuh terbatas. Ia bukan komoditas massal, melainkan seperti pusaka yang dirawat diam-diam.

Mengenal Kopi Liberika, Si “Heritage Beans”

Secara global, dunia mengenal tiga spesies kopi utama: , (robusta), dan liberika. Di antara ketiganya, liberika adalah yang paling unik dari segi ukuran pohon, bentuk biji, dan karakter rasa.

Liberika bukan hasil kawin silang. Ia spesies asli yang berasal dari Afrika Barat, tepatnya Liberia. Salah satu varietasnya dikenal sebagai , yang sering disebut excelsa. 

Di beberapa kebun rakyat, liberika dan excelsa tumbuh berdampingan dalam sistem agroforestri—bercampur dengan durian, cengkeh, hingga pinus.

Di Indonesia, liberika kerap dijuluki “heritage beans” karena sejarah panjangnya sejak masa kolonial dan kemampuannya bertahan di lahan gambut serta rawa.

Tekstur dan Postur, Pohon Tinggi, Biji Besar

Jika arabika identik dengan dataran tinggi, liberika justru nyaman di dataran rendah tropis, bahkan di tanah gambut dengan pH rendah. Pohonnya bisa menjulang hingga 9 meter, dengan batang besar dan daun lebar mirip daun nangka.

Biji kopinya pun berbeda. Ukurannya lebih besar, lonjong, agak meruncing di ujung, dan pipih—sekilas seperti biji kurma. Saat digiling, teksturnya terasa lebih kasar. Bubuknya menghasilkan seduhan dengan body tebal dan kuat. Ini kopi yang terasa “penuh” di mulut.

Rasa “Funky” yang Tak Biasa

Daya tarik utama kopi nangka ada pada profil rasanya. Pahitnya dominan, dengan sensasi sepet dan getir yang melekat di ujung lidah—orang Jawa menyebutnya “nyethak”. Namun di balik itu, ada lapisan rasa woody, sedikit smoky, serta asam ringan yang tidak terlalu menusuk lambung.

Yang membuatnya istimewa adalah aromanya. Saat disangrai, wangi yang keluar mengingatkan pada nangka matang. Dari sinilah nama kopi nangka berasal. 

Ada pula sentuhan manis buah, aftertaste cokelat, bahkan nuansa sayuran mentah seperti kacang panjang atau karedok. Kompleks, tak biasa, dan tidak semua orang langsung jatuh cinta. Tapi bagi pemburu rasa unik, inilah surga kecil.

Jejak Sejarah, Dari Afrika ke Hindia Belanda

Liberika pertama kali dibawa ke Nusantara pada akhir abad ke-19, sekitar 1870–1878. Saat itu, perkebunan arabika di bawah 1.000 mdpl hancur akibat serangan penyakit karat daun, yang secara ilmiah dikenal sebagai . Pemerintah kolonial Hindia Belanda mencari alternatif yang lebih tahan penyakit dan cocok di dataran rendah.

Liberika menjadi jawaban sementara. Ia ditanam di berbagai wilayah rawa dan gambut. Meski kemudian robusta lebih mendominasi pasar karena produktivitasnya, liberika tetap bertahan sebagai kopi warisan. Di beberapa daerah, ia menjadi bagian dari tradisi panen turun-temurun.

Sentra Liberika Indonesia

Produksi liberika di Indonesia memang kecil dibanding arabika dan robusta. Namun beberapa daerah dikenal sebagai kantong utama, seperti Jambi (terutama Tanjung Jabung Barat), Bengkulu, Riau (Kepulauan Meranti), Kalimantan Barat, hingga Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Di Jawa Timur, liberika bisa ditemukan di Wonosalam (Jombang) dan kawasan tapal kuda seperti Banyuwangi, Bondowoso, serta Jember. Sementara di Blitar, keberadaannya lebih tersembunyi.

Blitar dan Kopi Nangka yang Tumbuh Diam-Diam

Di Desa Resapombo, Kecamatan Doko, Blitar Utara, kopi nangka tumbuh di belakang rumah warga atau di tepian hutan. Jumlahnya terbatas. Pohonnya banyak yang sudah berusia lebih dari 10 tahun. Proses pembenihan pun tidak mudah. Dari ratusan bibit, hanya sebagian kecil yang bertahan hidup.

Blitar sendiri menyumbang bagian kecil dari total produksi kopi Jawa Timur, yang secara nasional berkontribusi sekitar 8 persen produksi kopi Indonesia. Namun angka bukan segalanya. Justru karena langka, kopi nangka Blitar memiliki daya tarik tersendiri.

Bagi wisatawan yang gemar menjelajah desa dan kebun, pengalaman mencicipi liberika langsung dari sumbernya memberi sensasi berbeda. Anda tidak hanya minum kopi, tetapi juga menyerap cerita: tentang pohon tua, tentang warga yang menanam tanpa ambisi industri besar, tentang aroma nangka yang menyelinap di antara kabut lereng.

Kopi Kahwo, Bukan Kahwin

Di sejumlah obrolan lokal, muncul istilah kopi kahwo. Istilah ini kerap dipahami sebagai kopi campuran atau blend, biasanya memadukan liberika dengan jenis lain seperti robusta atau excelsa dalam praktik perkebunan campur. 

Namun tidak ada rujukan resmi yang menyebut kopi kahwo sebagai spesies tersendiri di Blitar. Ia lebih merupakan sebutan lokal atau variasi racikan.

Yang jelas, liberika tetap berdiri sebagai identitas utama kopi nangka. Aroma khasnya tak bisa ditiru begitu saja oleh campuran mana pun.

Wisata Rasa yang Autentik

Berkunjung ke Blitar dan menelusuri jejak kopi nangka adalah perjalanan rasa sekaligus perjalanan sejarah. Dari Afrika Barat ke Hindia Belanda, dari perkebunan kolonial ke kebun rakyat di Doko, liberika menempuh jalur panjang.

Kini, di tengah tren kopi spesialti dan eksplorasi single origin, kopi nangka menemukan momentumnya kembali. Ia tidak menawarkan kemewahan kafe kota besar. Ia menawarkan kejujuran rasa—pahit, sepet, wangi buah, dan jejak kayu yang membekas.

Bagi pencinta kopi sejati, mungkin inilah alasan untuk menengok Blitar bukan hanya karena sejarah bangsa, tetapi juga karena secangkir liberika beraroma nangka yang tak mudah dilupakan.

0 Comments

Tinggalkan jejak komentar di sini