4 Karakteristik Orang Jawa




Etnis Jawa memiliki nilai hidup yang kemudian menjadi karakteristik tersendiri. Nilai hidup itu direfleksikan dari relasi antar manusia, alam dan kekuasaan.

Dalam buku Etnologi Jawa karya Prof. Suwardi Endraswara, M.Hum, pada Bab Etnopsikologi (hal 135-139), setidaknya ada 4 karakter Orang Jawa.

4 karakter ini terimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, terutama pada masyarakat pedesaan yang masih kuat memegang tradisi.

1. Andhap Asor

Orang Jawa dikenal sosok yang sopan dan segan. Salah satu wujud kesopanan dalam masyarakat Jawa adalah dengan penggunaan bahasa Kromo inggil/bahasa halus pada sosok yang lebih tua.

Orang Jawa juga dikenal segan, misalnya ketika bertamu tidak akan masuk atau mencicipi sajian jika belum dipersilahkan.

Begitu pun saat ditawari sesuatu, biasanya lebih sering menolak dengan halus. Penolakannya itu lebih sebagai ekspresi segan, bukan berdasar kebutuhan atau kesukaan.

Meskipun hal-hal di atas terlihat jelas pada orang yang baru dikenal, bukan pada teman sejawat atau teman akrab.

Andap Asor juga terlihat pada relasi antara masyarakat dan penguasa, orang Jawa termasuk yang menjunjung tinggi wibawa raja karena raja adalah figur terpilih.

2. Ngajeni

Salah satu karakter orang Jawa adalah Ngajeni, atau berusaha untuk selalu menghargai orang lain.

Sikap ini dilakukan lebih sebagai usaha untuk tidak menyakiti orang lain, sebagaimana dirinya sendiri juga ingin dihargai dan tidak mau disepelekan.

Bentuk dari Ngajeni dalam pergaulan sehari-hari misalnya suka menyapa, tersenyum dan hadir ketika mendapat undangan dari tetangga.

3. Narima Ing Pandum

Kalimat Narima Ing Pandum sudah sangat populer di kalangan masyarakat Jawa, termasuk kalimat Urip Aja Ngaya (hidup jangan terlalu keras).

Suatu penerimaan total atas hidup yang diberikan Tuhan, serta kesadaran bahwa masing-masing orang sudah ada garis hidupnya sendiri.

Narima Ing Pandum diprediksi merupakan suatu kesadaran spiritual bahwa pada masa lalu tanah Jawa adalah tanah subur, sumber makanan tersedia melimpah, sehingga hidup tak perlu terlalu keras (Urip Aja Ngaya) karena semua sudah disediakan sang Pencipta.

Dalam konteks sekarang mungkin sedikit berbeda, terutama setelah terjadi urbanisasi.

Namun penerimaan pada takdir yang termaktub dalam kalimat Narima Ing Pandum masih dipegang, sebagai penguat, terutama ketika sedang mendapatkan musibah.

4. Gotong Royong

Masyarakat Jawa mengenal istilah Sayan dan Rewang, keduanya memiliki arti yang hampir sama meski dalam konteks yang berbeda.

Sayan adalah gotong royong membantu tetangga yang sedang mendirikan rumah, sementara rewang adalah gotong royong ketika tetangga ada hajatan, khususnya untuk keperluan mempersiapkan dapur dll.

Kuatnya tradisi ini membuat ikatan antar orang Jawa menjadi sangat kuat, terutama ketika di perantauan. Ketika bertemu sesama orang Jawa seperti bertemu saudara.

Meskipun di masyarakat perkotaan tradisi ini sudah mulai luntur karena jasa konstruksi dan katering juga berkembang.

*ditulis ulang oleh tim redaksi dengan diksi berbeda


loading...

Post a Comment

0 Comments