Menata Ritme GPMB Kabupaten Blitar




Seri #1 catatan GPMB Kabupaten Blitar

Tak lama setelah Musyawarah Daerah PD GPMB Blitar digelar, Pak Setiawan Adi mengajak saya dan Mas Hendra Burhanudin untuk berbincang di sebuah kedai kopi.

Beliau bertanya: Sebelumnya kegiatan GPMB seperti apa dan siapa saja anggotanya?

Saya agak kaget ditanya demikian, begitupun (mungkin) Mas Hendra.

Berawal dari ajakan Bu Rahayuningtias

Bu Rahayuningtias (Bu Ning) beberapa kali ikut pertemuan FLP Blitar, suatu komunitas yang kala itu diketuai oleh Mas Hendra Burhanudin.

Dalam pertemuan itu beliau menceritakan tentang GPMB dan berharap saya beserta Mas Hendra bisa ikut aktif di dalamnya.

FLP (Forum Lingkar Pena) Blitar adalah salah satu komunitas literasi, dan mungkin satu-satunya yang concern dalam bidang kepenulisan di Blitar raya.

Sudah lama saya tahu tentang GPMB (Gerakan Pemasyarakatan Minat Baca), namun dalam lingkup nasional, belakangan baru tau jika ada struktur hirarkisnya sampai tingkat Kecamatan dan Desa.

Pengetahuan saya tentang GPMB mungkin sama seperti pengetahuan tentang adanya Perpustakaan Desa/kelurahan, yang memang harus ada atau diupayakan untuk tetap ada.

Bagi pegiat komunitas seperti saya mungkin tak terpikir untuk bergabung di dalamnya, sebab ya itu tadi: sudah punya komunitas sendiri dan sudah "sibuk" mengurusinya.

Namun hari Rabu, 7 Oktober 2020, saya menghadiri undangan Bu Ning. Di rumah beliau sudah ada Pak Adi, Mas Hendra, Mbak Celvian beserta dua perwakilan dari Dinas Perpusip.

Dalam forum itu ditentukan jika Musyawarah Daerah PD GPMB akan dilaksanakan hari Jumat, 9 Oktober 2020. Saya ditulis menjadi panitia, dengan sedikit kebingunan sebab posisi saya bukan anggota apalagi pengurus.

Karena situasi pandemi maka agenda dimudahkan melalui zoom meeting, meski saya harus membagi jadwal karena memang jarak pemberitahuan hanya 2 hari pasca undangan tersebut.

Pak Setiawan Adi dan Mas Hendra Burhanudin menjadi calon ketua. Voting dimenangkan Pak Adi, peserta Musyawarah adalah perwakilan pegiat perpustakaan desa yang diproyeksikan menjadi pengurus GPMB tingkat kecamatan atau desa/kelurahan.

Pak Adi selaku ketua terpilih adalah pengawas sekolah, latar belakangan pegiat literasi sebagai pemilik/pengelola TBM. Lebih senior dari kami berdua.

Formasi baru GPMB Kabupaten Blitar

Berlanjut ke pertemuan di warung kopi tadi, saya sebenarnya ingin menanyakan hal yang sama pada Pak Adi. Makanya saya kaget saat Pak Adi menanyakan apa yang sebenarnya juga ingin saya tanyakan.

Dalam rapat pasca Musyda, saya dipilih menjadi sekretaris, Mas Hendra Burhanudin menjadi wakil ketua.

Sebagai sekretaris baru, saya hendak meminta berkas ke Pak Adi, juga perlengkapan organisasi seperti stempel dlsb. Namun ternyata Pak Adi juga pengurus baru.

Pak Adi mengibaratkan diri sebagai pengemudi yang belum tau mau dikemudikan kemana mobil bernama GPMB ini, sehingga perlu bimbingan dari Dinas dan Pengurus GPMB di atasnya.

Saya dan Mas Hendra diminta merekomendasikan nama-nama dari unsur pegiat komunitas dan penulis untuk bergabung menjadi pengurus.

Bulan depan diagendakan untuk pertemuan calon pengurus dengan Dinas Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Blitar, berharap bisa mendapatkan bekal pencerahan karena sepertinya pengurus GPMB kali ini baru semua.

Baru bergabung langsung jadi pengurus, padahal saya kira PD GPMB Kabupaten Blitar ini sudah matang, tertata, tinggal jalan.

Bahkan saya harus menghubungi beberapa personil baru untuk memperkuat struktur. Saya tidak mau mengambil banyak orang dari komunitas kami, hanya menghubungi beberapa nama potensial yang kebetulan berdomisili tak jauh dari kantor Dinas Perpusip Jatilengger.

Kegamangan pun muncul, jika nantinya di GPMB melakukan hal yang sama dengan apa yang saya lakukan di komunitas, pasti sangat membosankan, bukan?

Perlu ada diferensiasi. Hanya saja, PR untuk memenuhi struktur pengurus adalah yang paling utama, dan tidak mudah, karena harus mengkonfirmasi beberapa nama yang kesibukannya sangat padat.

Karena urusannya dengan birokrasi, maka Pak Adi lah yang intens menjalin komunikasi. Saya mungkin kurang telaten.

Kami semua pengurus baru, harus menyesuaikan ritme dan suasana. Namun karena GPMB adalah mitra pemerintah dalam membangun budaya baca, maka komunikasi yang baik tetap harus dibangun.

Sementara, saya masih harus mengumpulkan semangat dan alasan kenapa tetap bersedia menjadi pengurus GPMB, juga mulai mempertanyakan seberapa efektifkah gerakan ini?

Bersambung

Blitar, 16 Oktober 2021
Ahmad Fahrizal Aziz

loading...

Post a Comment

0 Comments