Tulisan adalah Doa




--

Memasuki 2021, kabar duka berdatangan silih berganti. Banyak yang berpulang karena covid, atau karena hal lain.

Meski kita menyadari bahwa semua akan berpulang pada akhirnya, lewat beragam cara.

Kadang-kadang, saya perlu menulis sekilas catatan untuk mereka yang berpulang, disebutnya obituari.

Menulis obituari itu tidak menyenangkan. Lebih asyik menulis biografi, menulis pencapaian hidup yang orangnya masih hidup, menjadi inspirasi dan role model, yang masih bisa ditanyai, dimintai pendapat, tips, fatwa dan semacamnya.

Obituari menuliskan mereka yang sudah tiada, sembari mengenang yang pernah ada.

Lantas, kenapa saya menuliskannya? Karena itu serupa doa, yang dibingkai dengan kesan, cerita-cerita dan hal-hal baik semasa hidupnya.

Dalam tradisi kita, sebelum jenazah diantar ke pemakaman, para pelayat dimintai persaksian. Apakah almarhum/ah termasuk orang baik atau bukan. Serempak pasti menjawab: baik.

Itu bisa dianggap kesaksian formal. Karena tidak enak hati mengingat hal buruk atas orang yang sudah tiada, meski semasa hidupnya tentu ada hal buruk dilakukan.

Kesaksian itu sebagai konfirmasi sekaligus pemaafan untuk terakhir kalinya. Ya, terakhir kalinya, sebab mereka yang sudah mati tak bisa lagi berbuat sesuatu.

Obituari yang saya buat semacam "kesaksian" itu, namun dibingkai dalam bentuk narasi.

Selain itu sebagai ucapan terima kasih, karena sempat mengenal, sempat memberi kesan, mungkin juga inspirasi dan hal positif lainnya.

Karenanya, obituari lebih berisi kesan positif, karena ibarat persaksian tadi. Bahwa semasa hidupnya, yang bersangkutan pernah berbuat baik, sekecil apapun kebaikan patut dirayakan, dikenang dan dibagikan.

Apalagi, jika yang berpulang sosok yang sangat baik. Lewat kiprah, dedikasi dan tangan dinginnya telah tercipta banyak hal. Rasa-rasanya, ingin menuliskan hingga berlembar-lembar, namun tidak mungkin.

Obituari adalah doa paling murni. Karena, kita menuliskan kebaikan orang yang telah pergi, sekadar untuk merawat ingatan atas kesan kebaikan yang pernah kita rasakan.

Siapa tahu bisa menjadi penguat timbangan amal baik. Kita hanya berusaha, lewat tulisan-tulisan sederhana.

Tidak ada yang merencanakan menulis obituari, karena itu sama misterinya dengan kematian. Namun mengingat hal-hal baik dari orang lain itu menyehatkan pikiran, bukan?

Obituari tidak untuk meratapi ketiadaan, namun untuk mengingat keberadaan. Lewat tulisan ia akan menjadi doa yang sambung menyambung dipanjatkan. []

Blitar, 18 Juli 2021
Ahmad Fahrizal Aziz


loading...

Post a Comment

0 Comments