Pendidikan Kesehatan Reproduksi Harus Masuk Sekolah



Wara Pertiwi ketika menyampaikan materi

Pendidikan Kesehatan Reproduksi (kespro) sangat penting, terutama bagi remaja dan orang tua yang memiliki anak remaja, apalagi remaja perempuan.

Namun ternyata pemahaman masyarakat terhadap kespro sangat rendah. Hal itu juga menjadi kegelisahan drg. Wara Pertiwi O, MA , Kasubdit Kesehatan Usia Sekolah dan Remaja, Direktorat Kesehatan Keluarga, Kementrian Kesehatan.

Disampaikan saat menjadi narasumber dalam webinar yang digelar Yayasan Kesehatan Perempuan, kamis (22/7/21) bertema Pendidikan Hak Kesehatan Seksual Reproduksi (HKSR) dalam Pola Pengasuhan Orang Tua dalam Rangka Pencegahan Perkawinan Usia Anak.

Rendahnya pemahaman terkait kespro bisa terlihat ketika misalnya dua orang yang akan menikah, tidak tahu apa itu kespro, kapan hamil yang tepat, kebutuhan gizi, dan lain sebagainya.

Menurutnya, Pemerintah cukup lama merintis pendidikan kespro, namun kecepatannya belum seperti yang diharapkan.

"Kita akui bersama kita anggap penting, namun di negara kita belum ada kesehatan reproduksi yang terstandar," Ungkapnya.

Ia juga menjelaskan jika upaya kerjasama dengan Kemendikbud sudah dilakukan, namun ternyata untuk memasukkan ke dalam kurikulum pendidikan tidaklah mudah.

Salah satu yang dilakukan adalah memasukkan materi kespro dalam mata pelajaran, seperti Biologi. Serta melatih para guru, seperti guru Biologi dan Penjaskes agar memiliki pemahaman terkait kespro.

Menghidupkan PIK-R di Sekolah

Meski demikian sekolah punya instrument untuk memperkenalkan kespro ke para muridnya, misalnya ada UKS dan Pusat Informasi Konseling Remaja (PIK-R).

Meski tidak masuk ke dalam kurikulum dan menjadi agenda ekstrakurikuler, namun hal itu bisa dimaksimalkan.

Seperti menjalin kerjasama dengan Puskesmas melalui Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR) dalam rangka pemberian informasi kesehatan, khususnya terkait dengan kespro atau kesehatan secara umum.

Hanya saja, tidak semua Puskesmas punya PKPR yang baik. Sehingga perlu untuk menjalin kerjasama lain seperti dengan Dinas terkait, BKKBN atau komunitas peduli kespro di daerah.

Pendidikan kespro juga tidak sekadar pemberian wawasan, namun juga konseling. Di sinilah peran Bimbingan Konseling di sekolah bisa dimaksimalkan.

Kasus yang terus terjadi

Di lapangan, kasus-kasus seperti Kehamilan Tak Diinginkan (KTD) hingga kekerasan seksual terus terjadi. Inilah salah satu yang memicu terjadinya pernikahan usia anak.

Rendahnya pemahanan terkait kespro membuat banyak remaja terjebak perilaku seks beresiko, pihak perempuan paling dirugikan karena mereka kehilangan hak-haknya sebagai anak, belum lagi stigma sosial yang membuat mereka semakin terpuruk.

Maka pencegahan harus dilakukan sejak dari remaja, transisi menuju dewasa awal ketika mereka sudah mengalami mestruasi bagi perempuan dan mimpi basah bagi laki-laki.

Pencegahan untuk masa depan

Rendahnya pemahaman terkait kespro memang bukan satu-satunya sebab terjadinya KTD, kekerasan seksual, hingga perkawinan usia anak. Namun Pendidikan kespro sangat penting agar para murid di sekolah bisa menjaga tubuhnya.

Pendidikan kespro bisa dimulai dari memahami organ reproduksi, perkembangan, proses menstruasi, mimpi basah, serta upaya menjaga organ reproduksi.

Di samping itu, penting juga dibarengi dengan pemahaman terkait Infeksi Menular Seksual (IMS), HIV/AIDS, Penyalahgunaan narkotika hingga ekspresi seksual yang aman dan tidak aman.

Para remaja usia sekolah biasanya mulai tertarik ke lawan jenisnya, maka mereka perlu mendapat edukasi bagaimana mengekspresikan ketertarikannya itu dengan aman. Mereka perlu tahu batasan yang boleh dan tidak boleh, terutama terkait kesehatan reproduksi.

Peran konseling, teman sebaya, hingga komunitas sangat penting sebagai media sharing. Rasa suka bukan hal tabu, terlebih jika itu berkaitan dengan kesehatan reproduksi.

Maka, Pendidikan Kesehatan Reproduksi sangat penting diajarkan di sekolah guna mencegah semakin banyaknya kasus perkawinan usia anak yang diakhibatkan oleh rendahnya pemahanan terkait kesehatan reproduksi.
loading...

Post a Comment

0 Comments