Spiritualitas Memasak, Aktivitas Lain di Bulan Ramadan




Ramadan 2020 adalah sebuah kejutan tersendiri, meski 90% aktivitas lebih banyak di rumah. Pemerintah membuat pembatasan yang cukup ketat demi mencegah masifnya penularan Covid19, yang membuat kita harus lebih banyak di rumah.

Namun, di dalam rumah justru aku menemukan keasyikan baru, yaitu memasak.

###

Bulan Ramadan biasanya padat agenda. Kegiatan organisasi, pondok Ramadan, buka bersama dan lain sebagainya. Di bulan Ramadan pula, biasanya rutin untuk beberapa hari aku berkegiatan di Malang.

Sebagian besar kegiatan kemudian dialihkan via daring yang kurang efektif. Bagi mereka yang terbiasa dengan aktivitas padat tentu akan terdera kebosanan ketika harus menghabiskan banyak waktu di rumah.

Memasak untuk Sahur dan Berbuka
Sesungguhnya memasak bukan hal baru bagiku. Sejak SD, aku sudah bisa memasak, meski menu-menu sederhana. Keseharianku bertemu dengan bumbu-bumbu dapur yang cukup lengkap karena keluarga dan kerabat kami punya usaha kuliner.

Bisa dibilang, selain bertani, sebagian besar kerabat punya usaha kuliner, baik makanan berat atau camilan. Apakah itu sebagai usaha utama ataupun sampingan. Misalnya, Paklikku yang seorang guru PNS, punya usaha sampingan membuka warung nasi pecel.

Namun aku sendiri baru merasakan begitu khidmatnya memasak pada bulan puasa ini, terlebih Ramadan 2020 lalu. Baru memahami jika makanan yang tersaji di meja makan, sesungguhnya telah melalui rangkaian panjang.

Rangkaian itu mulai dari belanja bahan di pasar, mengolahnya, meracik bumbu, hingga proses memasaknya. Suatu aktivitas yang melibatkan intelektualitas sekaligus feeling. Selain itu, ada imajinasi tentang bagaimana rasanya andai bumbu A dicampur bumbu B.

Proses itu sungguh sangat menyenangkan nan menggairahkan, terlebih di bulan Ramadan seperti ini, yang kita harus menahan diri untuk mencicipi dan benar-benar fokus pada pertimbangan pikiran.

Hasil masakan yang tak selalu enak

Dari proses memasak tersebut, aku menarik kesimpulan bahwa bumbu dapur yang harus (bahkan bisa dianggap wajib) ada 4 : garam, cabai, bawang merah dan putih. Lainnya opsional.

Di Pasar tradisional tersaji beragam bumbu masakan, seperti daun bawang, jahe gajah, lengkuas, kemiri, dan sejenisnya.

Uniknya, meski resepnya sama, kadang suatu masakan bisa berbeda rasa tergantung siapa yang memasaknya. Perbedaan itu biasanya terjadi ketika meracik bumbu, serta proses memasaknya, entah ketika menggoreng, mengoseng hingga merebusnya.

Andai makanan yang kita buat kurang enak, dalam arti komposisinya kurang tepat, tetap kita tolerir, sembari mengingat bagian apa yang kurang tepat?

Lidah permisif
Untungnya, lidahku termasuk lidah yang permisif, kurang begitu ketat atau sensitif mengomentari rasa dari makanan.

Sejak dulu aku mencoba mensyukuri makanan yang ada. Pantang menghardik makanan sekalipun mungkin bumbunya kurang sedap.

Dari rasa syukur itu mungkin lidahku jadi terbiasa menikmati makanan yang ada. Andai diminta menjadi juri memasak, mungkin kurang cocok sebab lidahku sangat permisif dengan beragam masakan. Apalagi, makanku tidak banyak.

Berkreasi dengan mie instan
Salah satu hal menarik dari memasak adalah mengkreasikan bahan makanan, misal yang paling mudah adalah mie instan. Mie instan sudah cukup dengan mie dan bumbu, tinggal merebus dan mencampurkan.

Namun aku selalu tertarik untuk berkreasi, seperti menambahkan gerusan bawang putih, bawang merah, potongan daun bawang dan seledri pada kuahnya.

Melengkapinya dengan 3-4 cabai utuh, sayur kol, brokoli, kubis dan potongan tomat. Kadang juga menambahkan kocokan telur yang diikutsertakan dalam kuah sehingga menjadi lebih kental.

Memasak mie instan jadi lebih menarik dan menciptakan sensasinya tersendiri.

Oseng nila plus sambal terasi
Cara memasakku kadang tidak mengikuti pakem, misal saat memasak ikan nila. Ada dua hal yang kuminimalisir dalam memasak : kurangi minyak dan penyedap rasa. Karena itu biasanya aku pakai mentega.

Ikan nila kubersihkan sisik dan kotoran dalamnya, diiris bagian badannya, dilumuri sedikit garam, dioseng di atas wajan yang sudah dikasih mentega. Dibolak balik lalu di baluti gerusan bawang putih dan merah, dioseng lagi dan terakhir diolesi sambal terasi. Baunya harum. Ternyata begitu simpel memasak ikan nila.

Keajaiban jahe

loading...
Salah satu stok bumbu yang ada di dapur adalah jahe, meski jahe kecil untuk minuman. Kadang jika ingin memasak daging sapi, aku membeli jahe besar untuk direndam bersama daging tersebut, agar ketika dimasak cepat empuknya.

Jahe ternyata tumbuhan rimpang ajaib yang multifungsi dan berkhasiat tinggi. Jahe yang biasanya kuseduh untuk menjaga imunitas tubuh, ternyata bisa menjadi bahan sekaligus bumbu masakan.

Rasa kagumku pada jahe semakin bertambah ketika belajar memasak daging sapi atau kambing, rasa respect kepada petahi jahe juga makin meningkat, dan apalagi pada yang menciptakan jahe.

Memasak jadi suatu aktivitas yang sangat spiritual, apalagi ketika memasak untuk disuguhkan kepada orang lain. Kita berpikir bagaimana agar selain rasanya enak, namun juga sehat. Sebab bumbu masakan seperti bawang merah dan putih ternyata memiliki khasiat yang baik untuk tubuh, cabai bahkan sumber vitamin c.

Obat-obat terbaik justru datang dari makanan yang kita makan, meski banyak penyakit juga datang dari makanan pula. Itu tergantung pada bahan dan proses memasaknya.

Di atas Bumi yang diciptakan Tuhan
Bahwa perut kita tergantung pada hasil bumi. Bumi menumbuhkan bahan makanan agar manusia tetap hidup. Bahan makanan itu termasuk di dalamnya bumbu-bumbu masakan.

Dari kebutuhan pokok itu, muncul beberapa profesi yang bekerjanya memastikan bahan makanan itu tetap tersedia. Mereka harus memastikan lahan tersedia, tanah tetap subur. Selain itu, alam punya caranya sendiri "mereset" kesuburannya, seperti lewat letusan gunung, yang kita sebutnya sebagai bencana, namun itu juga proses alamiah untuk menyuburkan tanah.

Karena bahan-bahan makanan masih tersedia, maka kita masih bisa memasak, karena masih bisa memasak maka kita masih bisa makan, masih bisa mencari rezeki dari jualan makanan atau mempersembahkan rasa sayang lewat makanan yang kita sajikan.

Karena masih bisa makan maka kita masih bisa hidup, masih bisa berbuat baik pada kehidupan, masih bisa berkarya dalam berbagai bidang.

Pada titik ini, memasak terasa sangat spiritual, jika garis-garisnya kita tarik ke berbagai sudut kehidupan. Selamat makan, selamat menikmati hidup yang dianugerahkan Tuhan.

Blitar, 9 Mei 2021
Ahmad Fahrizal Aziz
loading...

Post a Comment

0 Comments