Uang Bulanan Bung Karno Kala HBS






Lulus dari ELS, Bung Karno melanjutkan studi ke HBS di Surabaya dan indekos di rumah seorang tokoh bernama H.O.S Tjokroaminoto.

Bapaknya, Raden Soekeni, rutin mengirimkan uang bulanan. Selain uang bulanan, ada juga uang pendidikan yang dibayarkan setiap tahunnya.

Hanya segelintir pribumi dan keturunan Tionghoa yang bisa sekolah di HBS, Soekarno adalah salah satu yang beruntung. Namun tentu saja biayanya sangat mahal.

Lalu setiap bulannya, berapa uang kiriman Bung Karno untuk indekos?
Dalam buku Soekarno Nederlandsch Onderdaan : Een Biografie 1901-1950 karya Dr. Lambert Giebels yang dijadikan sumber rujukan oleh wartawan Rosihan Anwar, dijelaskan jumlah uang bulanan Bung Karno saat indekos.

Soekarno harus membayar uang kos sebesar 11 gulden per bulan. Dulu biaya kos itu juga sekaligus untuk biaya makan sehari-hari.

Setiap bulannya sang ayah mengirimkan 12,5 gulden, lalu naik menjadi 14 gulden ketika ayahnya menjadi guru noormalschool di Blitar. Artinya di luar dari biaya kos, uang saku Soekarno kala itu hanya 1,5 hingga 3 gulden per bulan.

loading...
Jika kita konversikan dengan sekarang, meski hanya perkiraan, 1 gulden kala itu sekitar Rp80.000. Karena dalam berbagai literature, 1 gulden saat itu bisa untuk membeli sekitar 8-10 Kg beras. Kita asumsikan saja 1kg beras saat ini Rp10.000.

Jadi biaya indekos Soekarno plus makan sehari-hari selama satu bulan perkiraan sekitar Rp880.000,- untuk ukuran saat ini.

Namun Soekarno memiliki paman dan kakak misanan pejabat. Misalnya, Tuan Wardoyo seorang pejabat dinas PU di Blitar, yang adalah suami dari kakak perempuannya, Nyi Soekarmini.

Pamannya Raden Kartowibowo juga pejabat di dinas pertanian, yang akhirnya memutuskan menjadi guru dan mendirikan lembaga pendidikan Mardi Siswo.

Jejak kedua tokoh ini bisa ditemui di Blitar, yaitu di Istana Gebang dan Museum Kartowibowo.

Ketika pulang ke Blitar saat musim liburan, tak jarang Bung Karno mendapat tambahan uang saku, juga pakaian-pakaian stylist ala pejabat saat itu.

Meskipun mendapatkan banyak kesempatan mengenyam pendidikan dan lingkungan kelas ningrat, sebenarnya Soekarno bukan anak pejabat tinggi, ia anak seorang guru. Bahkan sebenarnya Soekarno ingin melanjutkan kuliah keluar negeri, namun terkendala biaya. [IB.red]

loading...

Post a Comment

0 Comments