Masihkah Ada yang Mau Membeli Buku?





Sudah lebih dari 50 buku koleksi pribadi yang kusumbangkan. Sebagian buku perkuliahan, sebagian lagi buku-buku yang kudapatkan dengan harga murah ketika ada bazar. Sekarang, yang tersisa hanya buku-buku yang kuminati.

Beberapa buku sebelumnya mangkrak di meja. Akhirnya ikut kusumbangkan ketika ada open donasi buku, terutama mahasiswa KKN yang sedang membangun perpustakaan desa di wilayah KKNnya.

Aku sendiri tak sadar bagaimana bisa memiliki buku sebanyak itu, untuk ukuranku jumlah 200an eksemplar itu sudah banyak.

Kini, ketika ada banyak informasi bisa diakses via internet, juga cerpen-cerpen pilihan koran minggu juga bisa dibaca via digital, aku jadi berpikir, masihkah orang mau membeli buku?

Aku sendiri mungkin masih membeli buku, secara terbatas dalam tema sejarah atau psikologi, juga semisal buku-buku dari penulis yang kucentang sebagai penulis bermutu.

Kenapa? Sebab membeli buku perlu uang. Di era sekarang, pengeluaran menjadi semakin diperhitungkan sebab ada banyak pengeluaran lain semisal kuota internet atau langganan wifi.

Meskipun, aku masuk dalam circle penulis atau pegiat literasi, yang hampir setiap hari mendapatkan promosi buku-buku terbitan baru. Tak terhitung banyaknya juga akun-akun instagram yang menawarkan jual buku.
Belum lagi ketika komunitas atau teman komunitas membuka open PO buku karyanya, mengingat semakin mudah menerbitkan buku dengan biaya yang murah.

Mungkin karena profilku sebagai pegiat literasi, penulis atau kira-kira yang dekat dengan buku, maka akan antusias ketika mendapatkan informasi tersebut. Padahal, membeli buku tidak cukup dengan keinginan, harus pakai uang.

Saat orang dengan dompet terbatas sepertiku akan membeli buku, pasti ada banyak pertimbangan, apakah buku itu bisa memberikan value lebih?

Meski aku juga masih membeli buku yang berkaitan dengan pekerjaanku, misalnya karena banyak menulis artikel sejarah, aku harus membeli buku-buku yang berisi konten sejarah.

Dulu, saat masih sering menulis tentang budaya, khususnya budaya Jawa, aku membeli beberapa buku tentang budaya Jawa.

Beberapa buku yang kumiliki saat ini, separuh lebih kubeli karena ada kebutuhan pekerjaan. Bukan sekadar hobi.

Lantas bagaimana dengan mereka yang tidak punya aktivitas menulis, tidak tergabung dalam circle penulis, atau tidak terlibat dalam komunitas literasi. Apakah masih mau membeli buku?

Sebab era digital menawarkan hal praktis. Media cetak seperti koran, majalah dan tabloid sudah banyak yang kukut. Bagaimana dengan buku?

Sekarang, sekalipun sangat mudah menerbitkan buku, namun masyarakat akan memilahnya. Ketika buku tersebut mampu memberikan value lebih, mungkin orang akan memilih membelinya.

Namun ketika ternyata sumber-sumber di internet menyajikan konten lebih menarik, dan apalagi buku yang terbit kebanyakan sumbernya juga dari internet, ya apakah orang masih mau beli?

loading...

Post a Comment

0 Comments