Prie GS dan Hidup yang Berpikiran Positif

loading...

loading...

Prie GS mengingatkan saya saat sedang sahur. Ya, pertama kali tahu sosok humoris itu dalam sebuah acara sahur di Metro Tv. Bersama Candra Malik, keduanya membawakan acara dengan obrolan segar dan menyenangkan.

Prie GS adalah sosok cendekia, meski dengan balutan yang sekilas seperti pelawak. Namun, lawakannya adalah lawakan berat, penuh logika.

Ia juga seorang penulis, musikus, dramawan, dan penyeru moral, tentu saja.

Ajaran-ajaran cerdasnya yang masih saya ingat antara lain : olah pikir dan olah rasa.

Menurutnya, ada orang pinter sundul langit, tetapi sosoknya kurang menyenangkan bagi orang lain. Karena, dia hanya fokus pada olah pikir.

Maka olah pikir saja tidak cukup, harus bisa olah rasa. Agar tahu kondisi sekitar, peka, sehingga bikin orang lain nyaman.

Saya jadi sadar, kalau intelek saja tidak cukup. Harus peka, ber-perasa. Begitulah kira-kira.

Lalu, dia juga pernah bercerita : saat itu diundang sebuah acara yang diselenggarakan NU. Undangan jam 10 pagi, dia datang tepat waktu. Lho, kok panitia masih siap-siap, kan undangan jam 10?

Lalu salah satu panitia menemui Prie GS dan berkata : loh, Pak Prie diundang NU kok datang tepat waktu?

Sebagian penonton tertawa, sebagian lagi diam. Saya juga sempat diam. Mana lucunya sih? Tetapi setelah direnungi, ternyata ada lucunya juga. Saya tertawa bersama mereka yang telat menyadari/telmi.

"Gara-gara itu yang awalnya saya mau marah ke panitia, akhirnya tidak jadi," ungkapnya.

Hadirin pun makin riuh tertawa. Ya, dari wajahnya saja Prie Gs itu sudah bikin orang mau tertawa.
Lalu, sebagai penulis, Prie Gs juga menerbitkan bukunya sendiri, didanai sendiri, dijual sendiri. Katanya, kalau dijual di toko buku tidak akan laku.

Lalu kalau dijual sendiri pun tidak laku juga bagaimana? Ya, saya baca sendiri. Jawabnya.

Hadirin pun dibuat terpingkal-pingkal. Padahal toh cuma begitu saja. Suatu kalimat dengan logika yang sederhana, bukan?

Maka, saya kadang-kadang merenung, kalau hidup Prie Gs itu selalu positif, setidaknya pikirannya selalu positif. Tidak ribet, slow down, santuy, woles aja. Begitu kata anak muda.

Namun meski demikian, hidupnya produktif. Karya tulisnya banyak, jejaknya dimana-mana, rumahnya bagus, dan selalu bikin orang lain tertawa.

Meskipun humoris, namun tampak tetap berwibawa. Prie Gs mewakili tokoh-tokoh Indonesia yang meminjam istilah Cak Nun, punya kecerdasan tradisional.

Prie Gs adalah otentiknya orang Indonesia, khususnya orang Jawa, yang pandai olah rasa. Tidak saja mumpuni dari segi pengetahuan namun juga menyenangkan sosoknya.

Saat banyak orang mengabarkan kepergiannya via sosial media. Saya sempat tak percaya, kaget tentu saja. Apa karena Covid? Ternyata tidak. Karena serangan Jantung, dan itu terbilang dadakan.

Karena, beberapa hari sebelumnya masih posting video di YouTube.

Selamat jalan, Pak Prie. Kau telah pergi, namun celoteh-celotehmu yang segar dan cerdas masih akan terus mewarnai hari-hari kami. []

Blitar, 15 Februari 2021
Ahmad Fahrizal Aziz



loading...

Post a Comment

0 Comments